bismillaahirrahmaanirrahiim
Sekelumit Tentang “at-tauhiid”
Hafizh Chan
Tauhid merupakan permasalahan mendasar yang seyogianya
mendapat perhatian khusus dari setiap Muslim,
karena “tauhid adalah perintah
Allah ‘azza wa jalla yang paling agung,
lawan dari syirik yang merupakan
larangan Allah yang
paling besar”. (Lihat Syarh Tsalatsatul Ushul, hal 47 [pada teks matan kitab])
Secara bahasa, at-tauhiid berasal dari satu kata kerja dalam Bahasa Arab: wahhada-yuwahhidu yang artinya ‘menjadikan sesuatu itu satu’. Adapun secara istilah, maknanya adalah ‘menunggalkan Allah dalam ibadah’. Artinya, kita wajib beribadah hanya kepada Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan seorang nabi yang diutus, malaikat yang terdekat dengan-Nya, seorang pemimpin, raja, atau siapa pun di antara manusia. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin memberikan satu definisi lain dari at-tauhiid yang bersifat umum: ‘menunggalkan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi-Nya.’ (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 47-48)
Imam Ibnu Abdil ‘Izz dalam bukunya, Syarah ‘Aqidah Thahawiyah halaman 78, sebagaimana di kutip Syaikh Abdul Qadir Abdul Aziz, mengatakan, “Kewajiban pertama bagi setiap mukallaf adalah bersyahadat ‘laa ilaaha illallaah.” (Mendudukkan Aqidah dan Jihad, hal. 11). Seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah ke muka bumi ini, sejak nabi Adam a.s. hingga nabi Muhammad shallallaahu’alaihi wasallam mengemban risalah tauhid ini. Bahkan ini adalah urusan pertama yang mereka sampaikan kepada umat-umatnya. Syaikh Shalih ibnu Fauzan dalam buku ‘Aqiidatut-Tauhiid menerangkan, “Dan setiap rasul, pertama kali yang mereka serukan kepada kaumnya adalah ‘Sembahlah Allah! Tidak ada sesembahan lain bagi kalian selain Dia’ (al-A’raaf: 59). Seperti itu pulalah yang diserukan oleh Nuh a.s., Shalih a.s., Syu’aib a.s., dan semua nabi kepada kaum mereka.” (‘Aqiidatut-Tauhiid, hal. 7)
Syaikh Abdul Qadir Abdul Aziz menulis bahwasanya Ibnu ‘Abbas r.a. berkata, “Ketika Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda kepadanya,
’Sesungguhnya engkau akan datang kepada orang-orang Ahlul Kitab, maka hendaklah hal pertama kali yang kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah, bila mereka telah mengetahuinya, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu...’” (Shahih al-Bukhari II/1384)
Dalam riwayat yang lain, beliau bersabda,
“Maka bila engkau telah tiba di tengah-tengah mereka, ajaklah mereka untuk bersyahadat Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadar Rasuulullaah...” (Fathul Baariy XIII no. 7372)
Di atas tauhid inilah Allah akan menerima amal-amal perbuatan hamba-Nya. Tanpa tauhid tidaklah mungkin amal seorang manusia akan diterima. Allah berfirman,
“...Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum Islam), maka hapuslah amalan-amalannya.” (Q.S. al-Maa`idah: 5)
Maka tidaklah ada perintah (khithab) terhadap seseorang dalam masalah syari’at kecuali sesudah ia beriman kepada Allah (setelah mengikrarkan keimanan). (‘Aqiidatut-Tauhiid, hal. 13)
Tauhid ada tiga macam, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dalam Syarah Tsalatsatul Ushul (Sebenarnya tidak ada pembagian dalam tauhid, hanya saja para ulama memerincikannya sebagai upaya memudahkan orang dalam memahaminya.):
Tauhid Rubuubiyyah
Menunggalkan Allah ‘azza wa jalla dalam penciptaan, kekuasaan, dan pemeliharaan.
Allah berfirman,
“Allah menciptakan segala sesuatu.” (az-Zumar: 62)
“Adakah sesuatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada ilaah selain Dia.” (Faathir: 3)
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Mulk: 1)
“Ingatlah, menciptakan atau memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raaf: 54)
Tauhid Uluuhiyyah
Menunggalkan Allah subhaanahuwata’aala dalam ibadah. Caranya, hendaklah seseorang tidak beribadah maupun bertaqarrub kepada siapapun selain Allah, seperti ibadah dan taqarrubnya kepada Allah.
Tauhid Asmaa` wash-Shifaat
Menunggalkan Allah subhaanahuwata’aala dalam nama yang Dia namakan bagi diri-Nya dan sifat yang Dia sifatkan bagi diri-Nya, di dalam kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya shallallaahu’alaihi wasallam. Penunggalan ini dengan cara menetapkan apa yang telah ditetapkan-Nya dan menafsirkan apa yang telah ditafsirkan-Nya, tanpa tahrif (pengubahan), ta’thil (peniadaan), takyif (penetapan bagaimananya), atau tamtsil (penyerupaan). (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 48-49)
Wallaahu a’lam bish-shawaab.
alhamdulillaahirabbil’aalamiin
Bahan referensi:
1. Muhammad ibnu Shalih al-‘Utsaimin. 2000. Syarah Tsalatsatul Ushul. Surakarta: Pustaka al-Qowam.
2. Shalih ibnu Fauzan ibnu Abdullah al-Fauzan. Tanpa tahun. ‘Aqiidatut Tauhiid. Riyadh: Muassasah al-Haramain al-Khairiyyah.
3. Abdul Qadir Abdul Aziz. 2002. Mendudukkan Aqidah dan Jihad. Surakarta: Pustaka Ikhtiar.
Note:
Tulisan ini sekadar sebagai alat rangsang bagi hati dan pikiran kita sehingga menggugah kepenasaran dan rasa ingin tahu (curiosity) terhadap materi-materi ini melalui kajian-kajian yang lebih lengkap dan mendalam.
Semarang, Muharram 1426 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar