Minggu, 03 Mei 2009

Umar Mukhtar

Umar Mukhtar
Singa Berakhlak Mulia


Nama pahlawan Islam asal Libya ini barangkali sudah tak asing lagi terdengar. Melalui sepak terjangnya yang dipadati oleh kisah-kisah mengagumkan, sang singa padang pasir memperlihatkan kepada dunia, betapa Islam selalu punya cukup ‘izzah untuk sekadar ‘meladeni’ kezhaliman.


Keluarga Mulia

Beliau lahir di al-Bathnan yang terletak di wilayah Jabal al-Akhdhar dari dua orang tua yang shalih, pada tahun 1862 M. Namun, ada juga yang mencatat tahun kelahirannya adalah 1858 M.

Beliau tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga yang dipenuhi kemuliaan dan kehormatan, dikelilingi oleh kesopanan budi kaum muslimin serta akhlak dan sifat mereka yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Ayah beliau bernama Mukhtar bin Umar. Umar Mukhtar sudah ditinggal sang ayah sejak masih kecil. Ayah beliau meninggal dunia saat menempuh perjalanan menunaikan ibadah haji. Selanjutnya, Umar Mukhtar hidup dalam asuhan Syaikh Husain al-Gharyani, saudara kandung ayahnya.


Akidah, Akhlak dan Jihad

Di penghujung era kekhilafahan hingga menjelang Perang Dunia II, beliau mengobarkan jihad melawan kekuatan Italia yang menjajah negerinya. Tahun 1911, pertama kali beliau terjun ke kancah jihad menghadang serdadu agresor Fasis itu, yang sedang menjadi ‘momok’ menakutkan di seantero Eropa.

Dari figur mujahid besar yang satu ini, kita banyak diajari nilai-nilai akhlaq qur`ani yang mulia. Umar Mukhtar adalah orang yang selalu menjaga shalat tepat pada waktunya. Ia juga selalu membaca al-Qur`an setiap harinya. Ia mengkhatamkan al-Qur`an setiap tujuh hari sekali, sejak mendapat pesan dari seorang imam bernama Muhammad al-Mahdi as-Sanusi. Isi pesan itu cukup singkat, “Wahai Umar, wiridmu adalah al-Qur`an.”

Beliau mengharuskan kepada dirinya sendiri untuk selalu menunaikan shalat dhuha. Beliau juga adalah orang yang senantiasa menjaga wudhunya meski pada waktu-waktu di luar shalat.

Mahmud al-Jahmi, seorang mujahid yang berperang di bawah komando Umar Mukhtar, menuturkan dalam catatan hariannya selama mendampinginya. Ungkapnya, “Saya tidak pernah melihat Umar Mukhtar tidur hingga pagi menjelang, barang sekalipun. Paling banyak, beliau tidur dua atau tiga jam, lalu bangun untuk membaca al-Qur`an sampai Subuh. Pada tengah malam, beliau lebih sering meraih kendi dan wudhu. Lalu, kembali membaca al-Qur`an. Beliau sungguh seorang yang berakhlak mulia dengan keistimewaan sifat wara’ (berhati-hati dari yang haram) dan takwa, serta bersifat sebagai seorang mujahid yang mulia.”

Karena keimanan yang besar, lahirlah dalam dirinya sifat-sifat yang indah. Amanah, keberanian, kejujuran, menentang segala rupa kezaliman dan kesewenang-wenangan, seakan tak mau berpisah dari kepribadian beliau.

Dengan segudang prestasi, pengalaman, dan berbagai skill yang melingkari, tak berlebihan kiranya nama gagah ‘Singa Padang Pasir’ disematkan kepada beliau.


Di Mata Lawan

Tak hanya menjadi ikon kekaguman pengikutnya, di mata lawan pun, beliau tetap diakui sebagai pribadi yang mulia, sekaligus menggentarkan nyali mereka.

Rudolfo Grazziani, seorang jendral perang Italia, melontarkan komentar positifnya tentang Umar Mukhtar, “Umar Mukhtar merupakan salah seorang tokoh mujahid yang disegani. Dia menempati kedudukan yang tinggi di kalangan para pengikut dan orang-orang yang mencintainya. Sosok Umar Mukhtar berbeda dengan mujahid yang lain. Tak ada yang meragukan kapabilitasnya sebagai seorang syaikh yang sangat komitmen dengan ajaran agamanya, sangat teguh dan kokoh dalam beragama, serta sangat pengasih di saat-saat sulit. Dia tidak akan mengkhianati prinsip-prinsip yang diyakini selamanya. Dia senantiasa dihormati, meskipun tindak-tanduk yang dilancarkannya tidak pernah memihak kami.”

Grazziani mengatakan demikian karena, “Pengalaman yang telah saya lalui dalam perang Libya.”

Celupan Al-Qur`an banyak mencetak sikap tegasnya membawa aqidah Islam ke alam realitas. Karakter khas ini terbaca dari prestasi-prestasi spektakuler sepanjang perjalanan jidad beliau melawan tentara Italia yang menjajah tanah Libya.

Ketika berada di bawah tawanan Italia, beliau menegaskan keyakinannya, “Sesungguhnya, tertawannya saya merupakan penegasan terhadap ketentuan Allah ta’ala dan sudah tertulis sebelumnya dalam ilmu Allah.

Sekarang, saya menjadi tawanan pemerintah Fasis Italia. Allah akan melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap saya. Kalian telah berhasil menangkap saya, dan kalian bisa melakukan apa saja tehadap saya.

Tetapi, di sini saya ingin menekankan bahwa saya tidak pernah berpikir untuk menyerah di hadapan kalian. Meskipun tekanan dan penderitaan itu sangat berat. Namun kehendak Allah menginginkan hal ini. Dengan demikian, tak ada yang dapat menolak ketentuan dan kehendak Allah ta’ala.”


Tiang Gantungan

“Wajib bagi setiap muslim berjihad. Kewajiban itu bukan datang dari dirinya sendiri, bukan juga karena keinginan orang tertentu, akan tetapi ia adalah kewajiban dari Allah Yang Maha Esa.”

Ini adalah kata-kata beliau yang diabadikan sejarah dengan tinta emas. Hingga, saat beliau ditawari untuk menunaikan ibadah haji, beliau sampaikan, “Sekali-kali, aku tidak akan meninggalkan medan jihad ini sampai datang utusan-utusan Rabb-ku. Dan sungguh, pahala haji tidak dapat mengungguli pahala membela agama, akidah, dan tanah air Islam.”

Beliau banyak berdoa kepada Allah untuk membuat akhir umurnya berada di atas jalan jihad yang penuh berkah. Beliau katakan, “Ya Allah, jadikanlah kematianku dalam keadaan jihad yang penuh berkah ini.”

Doa beliau dikabulkan Allah. Hari Rabu, tanggal 16 September 1931, tepat pukul 9 pagi, penjajah Italia melaksanakan eksekusi hukuman mati di tiang gantungan terhadap syaikh dan pahlawan jihad, singa padang pasir Libya di Saluq, sebuah tempat di selatan kota Benghazi, setelah sekian lama beliau bergelut di medan jihad.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar