Minggu, 03 Mei 2009

Muhammad Natsir

Muhammad Natsir
Inspirator Dakwah Indonesia



Nama Muhammad Natsir, tentunya sudah sangat akrab bagi kaum Muslim Indonesia. Sosoknya yang penuh semangat berdakwah dan membela Islam, tidak hanya popular di negeri ini, namun juga meluas ke penjuru dunia Islam.

Muhammad Natsir, dengan gelar Datuk Sinaro Panjang, lahir dari pasangan Sutan Saripado dan Khadijah, di Sumatera Barat. Tepatnya, di Kampung Jembatan Berukir, Kecamatan Lembah Gumanti, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, pada tanggal 17 Juli 1908. Gaya bicara Natsir penuh sopan santun, rendah hati dan bersuara lembut. Ia juga sangat bersahaja dan terkadang bercanda dengan siapa saja yang menjadi teman bicaranya.


Dunia Pendidikan

Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (HollandsInlandscheSchool) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (AlgemeneMiddelbareSchool) di Bandung.

Lulus dari AMS dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah pada Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten (sekarang Sarjana Hukum), atau kuliah ekonomi di Rotterdam, Belanda. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi. Tetapi, semua peluang itu tidak diambil Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustadz A. Hassan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung. Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar.

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikan dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi pemembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dakwah dan pemikiran. Bahkan, lebih dari 35 judul telah diterbitkan dalam bahasa Arab, diantaranya adalah Fiqhud Da’wah (Fikih Dakwah) dan Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu Dari Dua Jalan).


Kontra-Sekularisme

Walaupun pernah menjabat perdana menteri RI (bahkan yang pertama), dan menteri penerangan di beberapa kabinet, Natsir tetap merupakan pribadi yang tegas menentang sekularisme. Diantara sikap tegasnya itu, tercermin dari ungkapannya pada saat berpidato di Ruang Sidang Konstituante pada 13 November 1957. Ketika itulah, Natsir mengupas kelemahan sekularisme, yang ia katakan sebagai paham tanpa agama, atau la diiniyah. Sekularisme, kata Natsir, adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan, dan sikap hanya dalam batas keduniaan. Ia katakan, ”Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengatahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah ataupun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka.”

Lebih jauh, ketika mengupayakan Islam sebagai dasar negara Indonesia kala itu, Natsir menjelaskan betapa sekularisme adalah sesuatu yang tidak pantas disejajarkan dengan Islam, ”Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebut humanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, di mana sumber perikemanusiaan itu?”


Dunia Dakwah

Setelah menapaki dunia politik (bersama MASYUMI-nya) yang dipenuhi oleh beragam polemik antara dirinya dan Soekarno (Orla), di masa awal Orde Baru, tepatnya tahun 1967, bersama tokoh umat yang sehaluan dengannya, Natsir mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Pengabdian di bidang dakwah ini bukan dalam makna simbol, tetapi tumbuh lewat perangkat lengkapnya baik lisan, tulisan dan bil-haal (amaliah nyata). DDII banyak menghidupkan dakwah Islam di semua kalangan masyarakat. Mahasiswa-mahasiswa yang potensial banyak mengambil manfaat dari DDII, di mana Natsir sebagai tokoh sentral memberikan rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, terutama negara-negara Timur Tengah. Beberapa lembaga pendidikan Islam, pembangunan masjid, penyantunan orang tua, anak yatim, dan rumah sakit Islam di berbagai pelosok tanah air, juga mendapat asuhan dan dorongan utama dari Natsir.

Dalam percaturan dunia Islam, khususnya di negara-negara Arab, Natsir sangat dikenal, dihormati dan disegani. Ia ikut serta dan terlibat pada beberapa organisasi Islam tingkat internasional. Tahun 1967 diamanahi menjabat Wakil Presiden World Muslim Congress (Muktamar Alam Islami), yang berpusat di Karachi, Pakistan. Tahun 1969 menjadi anggota World Muslim League, Mekah, Saudi Arabia. Tahun 1972 menjadi anggota Majlis A’la al-Alam lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia), Mekah, Saudi Arabia. Tahun 1980 menerima “Faisal Award” atas pengabdiannya kepada Islam dari Raja Faisal, Saudi Arabia. Tahun 1985 menjadi anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable Foundation, Kuwait. Pada tahun 1986 menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Centre for Islamic Studies, London, Inggris dan angota Majelis Umana’ International Islamic Univesity, Islamabad, Pakistan.


Sejumput Pesan

Barangkali, ucapan Muhammad Natsir berikut bisa menjadi motivasi bagi generasi baru muslim untuk tetap bercita-cita hidup dalam naungan kaaffah Islam. Ia mengatakan, “Islam tidak terbatas pada aktivitas ritual muslim yang sempit, tapi pedoman hidup bagi individu, masyarakat dan negara. Islam menentang kesewenang-wenangan manusia terhadap saudaranya. Karena itu, kaum muslimin harus berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan. Islam menyetujui prinsip-prinsip negara yang benar. Karena itu, kaum muslimin harus mengelola negara yang merdeka berdasarkan nilai-nilai Islam. Tujuan ini tidak terwujud jika kaum muslimin tidak punya keberanian berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan, sesuai dengan nilai-nilai yang diserukan Islam. Mereka juga harus serius membentuk kader dari kalangan pemuda muslim yang terpelajar.”*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar