Rabu, 04 Maret 2009

Sufi Berdasi; Teosofi?

Sufi Berdasi; Teosofi?
Hafizh Assami 


Nestapa Orang Modern

Persoalan besar yang muncul di tengah-tengah umat manusia belakangan ini adalah krisis spiritualitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi rasionalisme, empirisisme, dan positivisme, ternyata membawa manusia kepada kehidupan modern di mana sekularisme menjadi mentalitas jaman dan karena itu spiritualisme menjadi suatu ‘kerinduan’ bagi kehidupan modern. Sampai-sampai, ada istilah the plight of modern men, nestapa orang-orang modern, untuk menyebut fenomena ini.

Titik jenuh pada materialisme membawa orang untuk kembali kepada nilai-nilai ajaran agama yang sempat ditinggalkan. Umumnya, gejala ini menyambangi kehidupan masyarakat kota. Rasa penat dengan aktivitas kerja yang dituntut oleh persaingan ketat, stress di kantor, mendorong mereka untuk mengejar ketenangan batin atau demi menyelaraskan kehidupan yang gamang. Dalam misi ‘pencarian’ itu, tak jarang diantara mereka yang bergabung dengan klub-klub tasawuf. Baik secara langsung menjadi anggotanya, atau sekadar ikut menikmati ritual-ritualnya saja. Seakan-akan, dalam tasawuf, mereka menemukan sebuah oase di tengah padang gersang.

Tasawuf, yang dalam literatur Barat biasa dikenal dengan terminologi sufism (sufisme), sebetulnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Utamanya, bagi masyarakat pedesaan yang kehidupannya dianggap lebih religius. Ajaran-ajaran tasawuf, yang tadinya minim peminat di wilayah perkotaan, kini mulai bergeser dan merambah kehidupan masyarakat metropolitan. Bahkan, seakan menjadi sebuah trend baru di Indonesia.


White-Collar ‘Sufi’ Community

Di kota, tasawuf terbilang laku keras. Bentuknya tidak persis seperti yang ada di desa-desa. Untuk tampil elegan, tidak tampak ‘kampungan’, para pegiat tasawuf di kota melakukan inovasi dan kreasi dari bentuk ritualnya yang konvensional. Hal ini merupakan adaptasi terhadap gaya dan tuntutan kehidupan metropolis yang cenderung menyukai sesuatu yang artistik, modis, meriah, namun tetap mengikuti ritme kehidupan yang serba cepat dan praktis, dengan tidak mengabaikan sisi-sisi ‘ilmiah’. Seperti, untuk mengakrabkan spirit sufisme di dunia remaja, mereka memublikasikan frase-frase semacam “sufi funky”, “sufi gaul” lewat media massa, dan menyisipkan lirik-lirik sufistik dalam lagu-lagu anak muda.

Tidak mengherankan pula jika kini muncul klub-klub tasawuf yang beranggotakan orang-orang berdasi. Tak sedikit dari kalangan eksekutif dan selebriti menjadi peserta kursus atau terlibat dalam suatu komunitas tarekat tertentu. Kegiatannya juga beragam. Mulai dari kajian-kajian tasawuf di internal jamaahnya, hingga ‘show of force’ dalam ‘dzikir dan doa bersama’. 

Karena itulah, gejala sufisme kontemporer di Indonesia dan juga di dunia Muslim lainnya, tidak lagi hanya diwakili bentuk tasawuf konvensional, baik tarekat maupun tasawuf yang diamalkan secara personal-individual. Tetapi, muncul pula bentuk baru yang mirip dengan apa yang disebut ‘new age movement’, gerakan [spiritualitas keagamaan] zaman baru.

Dalam konteks itu, jika secara konvensional, dzikir misalnya, dilakukan secara pribadi dan kelompok di ruang tertutup, kini dilakukan secara massal dan terbuka dengan liputan TV. Gejala baru ini tidak membuat pengamalan sufisme konvensional lenyap. Bahkan, sebaliknya, tidak hanya bertahan, tetapi juga menemukan momentumnya.

Sebagian kalangan memetakan dua model utama sufisme masyarakat kota dewasa ini. Pertama, sufisme kontemporer (biasanya berciri longgar dan terbuka siapapun bisa masuk) yang aktivitasnya tidak menjiplak model sufi sebelumnya. Model ini dapat dilihat dalam kelompok-kelompok pengajian eksekutif, seperti Paramadina, Tazkia Sejati, Grand Wijaya, Paramartha Internatiaonal Centre For Tashawwuf Studies (Bandung) dan IIMaN. Model ini pula yang berkembang di kampus-kampus perguruan tinggi umum, dan kalangan white collar community. Kedua, Sufisme konvesional. Yaitu gaya sufisme yang pernah ada sebelumnya dan kini diminati kembali. Model ini adalah yang berbentuk tarekat (Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, Syatariyah, Syadziliyah, dan lain-lain).


Tasawuf: Teosofi?

Merunut ke zaman kolonial Belanda, selain Snouck Hurgrounje, seorang orientalis yang dikenal aktif menghidup-hidupkan tarekat-tarekat tasawuf di Indonesia, ada tangan lain yang turut andil memakmurkan aliran ini. Pada penghujung abad-18 dan awal abad-19, muncul nama Dr. Leadbater dan Blavatsky. Leadbater adalah seorang pendeta berdarah Yahudi kelahiran Belanda, sedangkan Blavatsky ialah seorang wanita Rusia yang didatangkan ke Indonesia dari New York, AS. Keduanya disebut-sebut sebagai propagandis utama Teosofi di Indonesia.

Jika ditelisik lebih dalam lagi, akan didapati bahwa Teosofi merupakan kepanjangan tangan Freemasonry. Pada mulanya, oraganisasi Teosofi ini adalah alat kaum Yahudi untuk menggaet orang-orang Hindu di India. Seperti diketahui, pola operasi Freemasonry di Asia dilaksanakan dengan mendekati kalangan pemeluk agama mayoritas. Kalau di India mereka menggarap Hindu, maka di Indonesia, Islam dijadikan sasaran empuknya. Untuk kepentingan di atas, kaum Teosofi membuka pos di Indonesia pada tahun 1909, yang bernama Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging (Perkumpulan Teosofi Hindia Belanda), yang merupakan cabang dari markas besar perkumpulan mereka di Adyar, Madras, India.

Dalam statuen (anggaran dasar) Vrijmetselarij --nama Belanda untuk Freemasonry--, dicantumkan bahwa tujuan perhimpunan ini untuk mengantarkan orang dan kemanusiaan ke derajat pikiran dan ilmu kehidupan yang lebih tinggi di dalam Loge, gedung perkumpulan orang-orang Teosofi sebagai tempat persembahyangan mereka yang melibatkan roh halus (baca: setan) melalui ritual semacam ‘mengheningkan cipta’. 

Dalam rangka menarik simpati pengikut di Indonesia, mereka terkadang menyebut ajaran Teosofi sebagai ajaran tasawuf. Jadi, mereka menggunakan istilah plesetan. Namun, ternyata itu tidak semata kemiripan nama. Sebab, ritual-ritual mereka pun memang bergaya sufistik. Di sinilah mereka mengecoh orang-orang yang gandrung dengan tasawuf supaya mau bergabung.

Di masa ini, meditasi ringan, dzikir-dzikir tanpa tuntunan yang jelas dari Islam, senam yoga, ‘relaksasi pikiran’, forum-forum kursus atau training metode tasawuf dan bentuk-bentuk ritual lain hasil kolaborasi antara sufisme konvensional dan kontemporer, boleh jadi merupakan menu favorit untuk mengawali ketertarikan orang-orang yang mendambakan ‘ketenangan batin’. Nantinya, jauh ke depan, rekrutan-rekrutan baru, yang kebanyakan berasal dari komunitas elit dan eksekutif, itu diperalat menjadi ‘mesin pencetak uang’ dan corong publikasi ide-ide sesat demi melicinkan misi-misi Freemasonry, jala para Zionis.*



Repetition Magic Power

Repetition Magic Power
oleh: Hafizh Chan

Setiap produsen pasti berusaha maksimal untuk mempromosikan produknya supaya diminati pembeli. Maka dia butuh iklan. Mulai pamphlet kecil-kecilan, baliho pinggir jalan, hingga pasang iklan di media massa strategis pun dilakukan. Intinya, mereka harus mampu mengakrabkan produk ke khalayak, merebut hati mereka dan menggaet banyak konsumen.

Dalam perang pun, selain adu fisik, dikenal adanya psywar, perang psikologis. Tujuannya, membuat mental lawan ambruk sehingga mudah digebuk. Salah satunya, mereka menciptakan opini publik dengan membalik fakta.


Analisa Armstrong

Karen Armstrong dalam bukunya The Battle For God (Berperang Demi Tuhan) menyebutkan bahwa abad ke-21 adalah abad bangkitnya kaum fundamentalis (Arab: ushuliyyun) di seluruh dunia. Fundamentalisme yang dimaksud adalah semangat kembalinya manusia kepada nilai-nilai asas agama setelah jenuh dengan kehidupan teknologi canggih, yang menandai era modern berideologi materialisme. Mereka merindukan spiritualitas.

Kejadian ini dikomparasikan Armstrong dengan peristiwa yang muncul di Zaman Aksial (700-200 SM). Di masa itu, ketika manusia sudah sampai pada puncak kebosanan dengan kemakmuran kehidupan agraria, mereka mulai beralih kepada pola-pola hidup yang mengedepankan rasio. Mereka mulai berpikir tentang monotheisme dan meninggalkan animisme-dinamisme.

Di era ini, titik kulminasi kejenuhan terhadap materialisme, menurut Armstrong, memicu munculnya kelompok-kelompok yang cenderung bergeser ke kehidupan religius dengan menerapkannya secara kaku, sangat fanatik dan ekstrim tanpa banyak toleransi. Di nilainya, fenomena ini terjadi dan meng-general di semua agama. Akhirnya, peperangan yang mengatasnamakan tuhan mengalami eskalasi.

Bisa jadi, orang-orang Yahudi sangat menaruh respek pada analisa sejarah yang dibuat Armstrong ini, dan akibatnya semakin gencar memerangi Islam sebagai lawan berat. Sebagaimana yang tersebut dalam Protokolat Zionis (Protocols of Zion), mereka mengaku telah berhasil ‘mengintervensi’ pola keberagamaan Kristen. Singkatnya, mereka sedikit banyak telah mampu merusak Kristen. Jadi, sasaran utama yang tersisa sebagai kekuatan besar adalah Islam.

Mereka khawatir seandainya ‘kelompok-kelompok fundamentalis’ --seperti disebut Armstrong-- yang ada dalam Islam bangkit.


Islamophobia

Orang-orang Yahudi takut sekali dengan perkembangan Islam yang sangat pesat dewasa ini. Namun phobia terhadap Islam tak membuat mental mereka anjlok dan menghentikan langkah untuk menghancurkan Islam. Justru mereka menganggapnya sebagai cambuk untuk semakin solid menyusun kekuatan dan strategi.

Di antara perangkat ‘senjata berat’ yang kini mereka aktifasikan adalah perang opini. Karena memerangi Islam tak cukup hanya dengan kekuatan fisik semata, mereka harus terlebih dahulu menjungkirbalikkan image publik tentang Islam. Islam harus terkesan jelek di mata mereka. Jadinya, Yahudi mesti menawarkan ‘barang jualan’ ini secara global.

Formula paling ampuh untuk itu; Yahudi membidik Amerika Serikat sebagai pusat propaganda. Banyak media massa Amerika Serikat sudah dikuasai untuk kepentingan tersebut. Tugas utamanya mengulang-ulang informasi negatif tentang Islam hingga melekat di benak masyarakat dunia. Stigma Islam sebagai teroris, setan menakutkan, musuh peradaban, bahaya global --termasuk juga terma fundamentalis--, harus tersiar ke seantero bumi. Inilah yang mereka program sebagai repetition magic power (kekuatan ajaib pengulang-ulangan).

Dengan demikian, mereka bisa mempersempit ruang gerak Islam. Peluang menumbuhkan musuh Islam dari luar dan dalam Islam sendiri terbuka lebar; orang Islam juga harus jadi musuh Islam. Dari luar Islam, koalisi mudah digalang. Di tubuh Islam (baca: kelompok-kelompok pejuang Islam), ditanam orang-orang yang siap menelikung dari dalam (desepsi).


Dominasi Media

Contoh jelas kerja Yahudi untuk memanfaatkan pers sebagai alat propaganda politik mereka, tampak dari penguasaan atas tiga surat kabar harian paling berpengaruh di Amerika dan dunia. Yaitu New York Times, The Wall Street Journal, dan Washington Post.

Ketiga surat kabar tersebut di atas merupakan tolok ukur dan acuan bagi hampir semua koran yang ada. Mereka adalah yang menentukan apa yang bakal menjadi berita atau tidak pada tingkat nasional Amerika maupun di taraf interasional. Merekalah yang mengawali pemberitaan. Yang lainnya mengekor dan ‘membeo’. Dan, ketiga surat kabar tersebut berada di bawah kontrol Yahudi.

Selain itu, warga dunia dipancing supaya sibuk menghabiskan waktu di depan televisi dengan beragam tayangan. Targetnya, mereka harus ‘disulap’ hingga pada level ‘cacat mental’. Yaitu, mereka sulit membedakan mana realita dan mana fantasi.

Ketika kondisi ini sudah tercipta, sangat mudah sekali menyusupkan informasi-informasi yang akan membentuk pola pikir mereka sesuai keinginan, tanpa ada filter.
 
Lewat media cetak dan elektronik yang lainnya pula, Yahudi memanipulasi data-data peristiwa di seluruh dunia. Kalau ada media yang dengan jujur menampilkan data asli --yang dipandang menggangu grand-strategy mereka--, buru-buru diblokir, dibredel, diserang dengan tudingan-tudingan yang memojokkan, atau di-hack kalau itu berupa situs-situs di internet.


Awas, Gunting Dalam Lipatan!

Kaum muslim harus sangat waspada agar tidak termakan isu-isu miring tentang mujahidin, misalnya, yang di-blow up musuh. Berita-berita yang ditampilkan harus direspon dengan ekstra-selektif. Salah-salah, seorang muslim bisa --seringnya tanpa disadari-- menjadi musuh yang ‘menggunting dalam lipatan’ bagi para pembela Islam, sebagai korban repetition magic power yang ‘menyulap’ pola pikirnya.[]

Selasa, 03 Maret 2009

Kontinuitas Misi Trilogi Gold, Glory, dan Gospel

Kontinuitas Misi Trilogi
Gold, Glory dan Gospel
by: Hafizh Assami 

Berakhirnya perang salib tidak berarti dendam Barat terhadap Islam dan umatnya berakhir begitu saja. Dendam kesumat yang berkepanjangan itu akhirnya dapat mereka lampiaskan ketika Barat melalui Columbus dapat mengetahui dan membuka pintu jalur perjalanan dan perdagangan ke dunia Timur dan dunia Islam.

Dengan dalih mencari pasokan rempah-rempah, mereka akhirnya melakukan penjajahan terhadap dunia Timur pada umumnya dan Islam pada khususnya. Selain membawa panji-panji gold (emas) dan glory (kebanggaan), mereka pun mengibarkan panji gospel (penyebaran Injil), dengan tujuan utama menyebarakan berita Injil dan sekaligus mengkristenkan dunia Islam serta membenamkan Islam atau minimal memojokkannya ke sudut-sudut gelap ruang kehidupan. Bagi dunia Timur dan Islam, misi ini bukan membawa glory, tetapi justru gory (berlumuran darah).

The Green Menace
Persepsi ‘ancaman Islam’, yang membuat Barat memusuhi dan memerangi Islam dan kaum Muslim, sebenarnya bukan barang baru. Khususnya sejak terjadinya Perang Salib, Barat yang notabene kaum zionis, salibis dan sekaularis, melihat betapa Islam merupakan kekuatan dahsyat yang dapat menguasai dunia sekaligus mengancam kepentingan mereka, sebagaimana telah dibuktikan sejak masa al-khulafau-r-rasyidun hingga Khilafah Turki Utsmani. Karena itulah, Barat --yang kini di bawah komando Amerika Serikat-- selalu merancang dan mengupayakan berbagai terobosan untuk melemahkan Islam dan para pembelanya. “Adalah kesalahan fatal bila menyangka semangat Perang Salib telah punah,” kata Murad W. Hoffman, seorang pemikir Muslim asal Jerman.

Pada dekade 1980-an, saat jihad di Afghanistan bergolak, bekas presiden Amerika Serikat, Richard Nixon, berkunjung ke negeri para mullah itu. Dia menangkap sinyalemen-sinyalemen bakal kekalahan Uni Soviet. Buru-buru dia kembali ke negaranya dan menggelar konferensi pers. Para wartawan bertanya kepadanya, “What’s the problem?” Dia menjawab, “The real problem is Islam.

Mereka menganggap Islam sebagai the next enemy, rival berikutnya yang akan mereka tantang sebagai pengganti Uni Soviet. Fakta menjawab, kini Islam dicitrakan sebagai The Green Menace (Bahaya Hijau), usai tumbangnya The Red Menace (Bahaya Merah); Uni Soviet.

Pakar hubungan internasional Fred Halliday menuturkan bahwa untuk mempertahankan dominasi dan hegemoninya di dunia --setelah kompetitornya dalam perang dingin (the Cold War), Negeri Beruang Merah, ambruk--, Barat tetap membutuhkan “musuh”. Maka, yang menjadi bidikan kemudian adalah Islam.

John L. Esposito, seorang pengamat politik dan dunia Islam, menyebutkan bahwa bagi Barat, yang telah terbiasa beradaptasi dengan visi global dan kebijaksanaan asing yang didasarkan pada rivalitas antar negara adidaya untuk mendapatkan pengaruh global (whole-scale hegemony), terlalu menggiurkan untuk tidak mengidentifikasi ancaman ideologis global lainnya dalam mengisi “kekosongan ancaman” yang timbul karena kolapsnya komunisme.

Menurut Samuel P. Huntington, seorang futuris yang tenar lewat buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, konflik antara Islam dan Barat adalah konflik yang sebenarnya, bukan “konflik biasa”. Konflik antara Demokrasi Liberal (Barat) dan Marxis-Leninis di abad-20 justru dinilainya bukan merupakan konflik yang sebenarnya. Konflik kedua ideologi itu cuma fenomena sejarah yang ‘sesaat’ (fleeting) dan di permukaan (surfacial) saja.

Huntington rajin mengkritiki orang-orang Barat --termasuk Bill Clinton tidak luput dari kritiknya ketika masih menjabat presiden-- yang menyatakan bahwa Barat tidak memiliki persoalan dengan Islam, kecuali dengan Islam ekstrim. Selama 14 abad, papar Huntington, sejarah menunjukkan hal yang sebaliknya; hubungan antara Islam dan Kristen (sebagai wakil Barat) lebih sering ribut. Bahkan, katanya, di akhir abad ke-20 intensitas konflik antara kedua kubu semakin meningkat. Dalam bahasa Huntington, “The relation between Islam and Christianity, both Ortodoks and Western, have often been stormy.

Faktor Pemantik
Dia menengarai, ada lima faktor pemicu memanasnya konfrontasi antara Barat dan Islam di akhir abad ke-20. Pertama, pertumbuhan penduduk Muslim yang cepat telah memunculkan pengangguran dalam jumah besar, sehingga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan kaum muda muslim. Kedua, kebangkitan Islam (Islamic resurgence) telah memberikan keyakinan baru kepada kaum Muslim akan keistimewaan dan ketinggian nilai dan peradaban Islam, dibanding nilai dan peradaban Barat. Ketiga, secara bersamaan, Barat berusaha mengglobalkan nilai dan institusinya untuk menjaga superioritas militer dan ekonominya, serta turut campur dalam konflik di dunia Islam. Hal ini telah memantik kemarahan di kalangan kaum Muslim. Keempat, runtuhnya komunisme telah menggeser musuh bersama antara Islam dan Barat. Lalu masing-masing merasa sebagai ancaman utama bagi yang lain. Kelima, meningkatnya interaksi antara muslim dan orang Barat telah mendorong timbulnya perasaan baru di masing-masing pihak akan identitas mereka sendiri, dan bahwa mereka berbeda dengan yang lain. Bahkan, tambah Huntington, dalam kedua komunitas --Islam dan Barat-- sikap toleran terhadap yang lain telah merosot drastis mulai era 1980-an dan 1990-an.

Untuk penilaian Huntington ini, setiap orang boleh setuju boleh tidak. Namun yang jelas bagi kaum Muslim sendiri, landasan standar teoretisnya sudah dikukuhkan oleh al-Qur`an. Bahwa tipologi pihak-pihak non-Muslim ‘sejati’ itu, “Nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (Ali ‘Imran [3]: 118)

Di setiap rentang masa, selagi masih ada Muslim dan non-Muslim, potensi terjadinya benturan-benturan akan terus langgeng. Sebab, sifat dasar mereka terhadap kaum Muslim adalah, “Mereka tiada putus-putusnya memerangi kamu sebelum mereka berhasil mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), jika saja mereka bisa.” (al-Baqarah [2]: 217)

Amerika hari ini, sebagai lokomotif dunia Barat, gencar melakukan ekspansi ke negeri-negeri kaum Muslim. Baik melalui distribusi produk pemikiran, budaya, maupun teknologi. Bahkan sampai pada eksploitasi sumber daya alam negara ‘obyek’ dan pamer aksi militer. Imperialisme modern ini tidak lain adalah satu mata rantai dari ‘misi kotor’ (odious mission) gold, glory dan gospel.*

Muslim Indonesia, Macan Yang Terlelap

Muslim Indonesia,
Macan Yang Terlelap
by: Hafizh Assami

Akrab Ilmu

Peradaban Islam adalah peradaban ilmu. Sepanjang sejarah, fakta keterikatan Islam dengan ilmu, sangat kentara. Tradisi ilmiah sangat diprioritaskan di dunia Islam. Segala aktivitas, semua harus dilandaskan pada ilmu, yang digali dari wahyu al-Qur`an dan al-Hadits. Di atas pondasi ilmu yang diinspirasi wahyu inilah umat Islam, sejak berabad-abad silam, membangun peradaban yang betul-betul berkarakter kuat, khas. 

Di bawah bimbingan ilmu, kekuatan Islam betul-betul nyata. Tidak palsu, seperti besarnya induk ayam yang menggelembungkan bulu-bulu ketika melindungi anaknya dari bahaya. ‘Besar’ benar-benar besar, bukan sekedar dibesar-besarkan (di-blow-up) media.

Adian Husaini, seorang kandidat doktor bidang Islamic Civilization di International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia, dalam pengantar bukunya, Wajah Peradaban Barat; Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekular-Liberal, menulis, “Banyak tokoh Muslim berpikir jalan pintas, bahwa keagungan Islam akan bisa dicapai jika kekuasaan politik mereka pegang. Politik, ekonomi, informasi, adalah sektor-sektor penting dalam kehidupan manusia. Kaum Muslim tentu saja seyogianya memiliki potensi-potensi itu. Tetapi, semua itu harus berbasiskan keilmuan yang tinggi. Tradisi keilmuanlah yang akan membangkitkan satu peradaban.”

Dalam konteks peradaban, tidak bisa tidak, masalah ilmu harus menjadi perhatian utama, mengingat peranannya yang amat esensial. Mongol boleh saja mengalahkan Islam di Baghdad dan sekitarnya. Namun, peradaban yang rendah itu akhirnya justru terserap oleh peradaban Islam. Hal ini memperlihatkan kepada musuh-musuh Islam, dan kaum Muslim sendiri, bahwa kekuatan fisik semata, tak mampu menundukkan umat Islam.

Lalu, trauma berkepanjangan juga menghantui musuh Islam setelah menyaksikan episode sejarah yang menayangkan kekalahan Kristen dalam Perang Salib. Kekalahan telak yang memaksa mereka menempuh jalan alternatif untuk memperdayai umat Islam di masa kemudian. Seperti terbaca dari ungkapan seorang misionaris legendaris mereka, Henry Martyn, “Saya datang menemui umat Islam, tidak dengan senjata, tapi dengan kata-kata. Tidak dengan pasukan, tapi dengan akal sehat. Tidak dengan kebencian, tapi dengan cinta.” Sementara misionaris lain, Raymond Lull, mengatakan, “Kulihat banyak ksatria pergi ke Tanah Suci di seberang lautan; dan kupikir mereka akan merebutnya dengan kekuatan senjata; tapi akhirnya semua hancur sebelum mereka mendapatkan apa yang tadinya ingin mereka rebut.”

Paling tidak, kata-kata tersebut di atas terus membekap benak musuh-musuh Islam. Sehingga, pada tahap awal, mereka tidak mengandalkan kekuatan senjata dan fisik untuk mengusik umat Islam, tetapi lebih mengandalkan gerakan bawah tanah alias clandestine. Mereka mendekati target dengan menyelubungi lembaga-lembaga yang konsern di bidang sosial, ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.

‘Pembodohan’ Massal

Secara global, Barat berupaya maksimal menempatkan lawan-lawannya berada di level ‘bodoh’, tidak mampu membaca realitas skenario politik dunia yang mereka rekayasa. Para elit yang mendominasi dan menentukan arah kebijakan (policy) Barat, membutuhkan pihak lain sebagai spectators sekaligus korban. Tugas mereka hanya menonton bagaimana para elit itu menjalankan program-program yang menindas dan melibas saudara-saudara mereka, sambil menunggu giliran tiba.

Setelah itu, prinsip ‘Might is Right (Kekuatan adalah Kebenaran)’ dimainkan Barat sebagai instrumen untuk mengulur umur hegemoni mereka. Karena kekuasaan ada dalam genggaman, kejahatan apa pun yang mereka lakukan adalah sebuah kebenaran. Dengan berbagai muslihat, mereka kemas kesadisan, keganasan dan kekejaman secara rapi, lalu tampil ke muka publik dunia ‘yang terbodohkan’, bak pahlawan yang berjasa memelihara keamanan dan perdamaian internasional. Padahal, kejahatan tingkat tinggi tengah mereka praktekkan di balik topeng manis itu. Lawan-lawan yang coba menghadang segera dieliminasi sembari dilabeli atribut-atribut buruk.

Muslim Indonesia: Macan Tidur?

Hari ini, khususnya di Indonesia, kaum Muslim menghadapi berbagai problem. Diantara yang sangat krusial adalah, musuh Islam menjamahkan tangan kotornya ke dunia pendidikan. Mereka merekrut orang-orang yang siap dididik menjadi kader-kader perusak pola pikir kaum Muslim Indonesia. Dengan menjalani studi Islam ke negara-negara Barat, entah sadar entah tidak, mereka dijadikan obyek brainwashing (cuci otak). Setelah masa studi usai atau dianggap selesai, layaknya hewan piaraan yang lama dikarantina, mereka dilepas kembali ke ‘habitat’nya. Dengan sangat mandiri, tanpa didikte-dikte lagi, misi dijalankan. Dunia pendidikan tinggi adalah sasaran utamanya. Melalui lembaga-lembaga perguruan tinggi ‘yang bisa dilobi’, yang tersebar di seluruh pelosok negeri, mereka menularkan pemikiran-pemikiran yang sudah dicetak sesuai mindset Barat. Tatanan ilmu Islam yang menjadi unsur fundamental kekuatan Islam coba dibongkar.

Ini adalah satu bentuk ‘Konfrontasi Intelektual’ Barat terhadap kaum Muslim. Kedok ‘ilmiah’ dijadikan sarana mentransfer pola pikir ala Barat kepada calon-calon pendidik anak-anak Muslim di bumi Nusantara. Target jangka panjangnya, mengacaukan paradigma berpikir generasi Islam mendatang terhadap ajaran agamanya dan peradaban Barat, tidak lagi melalui titik perspektif Islam. Kalau sikap umat Islam dinilai sudah ‘melunak’ dan cukup ‘kooperatif’, Barat bisa leluasa membentangkan sayap peradabannya yang dibangun di atas ‘nilai-nilai destruktif’.

Umat Islam Indonesia, yang luar biasa besar jumlahnya ini di-ninabobo-kan; menjadi tidak sadar atas ketertipuan yang mereka alami. Dan, yang memang sudah tidur sedari mula, dibuat tetap lelap dalam mimpinya. Hal ini sangat beralasan. Barat selalu khawatir jika dari Indonesia, ‘kondominium raksasa’ bagi 200-an juta Muslim, dengan beragam potensi tersimpan di sana, lahir kekuatan massive yang akan menggugat eksistensinya. Kekhawatiran Barat bisa terjadi, insya Allah, jika asas kekuatan Islam, tradisi ilmu yang harus pure (murni), dibersihkan dari segala kontaminasi. Wallahu a’lam bish-shawab.*


Andalusia Modern, Restorasi “Bintang Yang Jatuh

Andalusia Modern
Restorasi “Bintang Yang Jatuh”
oleh: Hafizh Assami

Fajar Islam

Mentari menyinari Eropa yang hidup di tengah-tengah masa kelam kejahiliahan. Thariq bin Ziyad, mencelup Andalusia dengan “larutan damai” Islam. Pendaratan spektakuler sang panglima perang, yang dijuluki Thariq al-Laitsiy oleh Ibnu Khaldun tersebut, di pantai selatan Eropa, telah merobek tirai penghalang merasuknya cahaya Islam ke jantung benua itu. Di saat yang sama, Andalusia sedang dikuasai kaum Visigoth, orang-orang Kristen Aryan, di bawah pimpinan raja Roderick.

Negeri ini memperoleh kemerdekaan setelah berjuang keras selama tiga tahun, dari 92-95 H (711-714 M). Luas wilayahnya sekitar 700 ribu km2, meliputi sebagaian besar wilayah Spanyol sekarang, seluruh wilayah Portugis, dan sebagian besar wilayah bagian selatan Perancis. Tidak sampai satu abad usai fath al-ilslam (kemenangan Islam), seluruh warga Andalusia menyatakan keislamannya. Lambat laun mereka akrab dan berkomunikasi dengan bahasa Arab.

Kejayaan Islam di Andalusia mejadikan negeri itu sebagai mercusuar ilmu pengetahuan di benua Eropa. Universitas-universitas menghiasi berbagai kota. Riset-riset dan eksperimen ilmiah didukung besar-besaran. Sehingga, Andalusia, tempat kebanyakan ilmuwan Muslim dilahirkan dan dibesarkan, menjadi pusat utama kemajuan dan perkembangan, khususnya di bidang kedokteran. Para dokter Muslim sangat ahli di berbagai bidang seperti farmakologi, ilmu bedah, optalmologi, ginekologi, fisiologi, bakteriologi, dan ilmu kesehatan. Mereka juga membuat sejumlah penemuan penting yang meletakkan landasan bagi ilmu pengetahuan modern.

Andalusia juga menjadi gawang ilmu-ilmu syar’i, ditandai dengan kemunculan ulama-ulama terkemuka di dunia Islam. Di antara yang populer adalah Imam Abu Abdillah al-Qurthubiy dengan kitab tafsirnya al-Jami’ li-Ahkamil Qur`an.

Dalam sejarahnya yang panjang, Andalusia telah melewati beberapa periode pemerintahan. Seiring itu, Andalusia terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Dalam kondisi demikian, secara periodik, raja-raja Kristen berkonspirasi menyabet kesempatan ini untuk menelan satu per-satu kerajaan-kerajaan kecil tersebut. Ujungnya, terebutnya Kerajaan Islam Granada oleh Duo-Catholic Kings, Ferdinand (Raja Aragon) dan Isabella (Ratu Castile), pada tahun 897 H (1492 M).

Jatuhnya Granada pada 20 Januari 1492 M, dengan demikian, telah mengakhiri berkibarnya pemerintahan muslim selama 781 tahun di Andalusia. Pasca-keruntuhan, yang tersisa adalah riak-riak kecil “pemberontakan” kelompok. Perlawanan Granada Raya (Gharnathah al-Kubra) 1568-1570 M adalah perjuangan terakhir rakyat Andalusia untuk menyelamatkan Islam. Operasi itu dikomando oleh seorang panglima muda yang cendekia dan pemberani, Muhammad bin Umayyah. Dia dibaiat sebagai pemimpin saat baru berusia 22 tahun.

Eropa, kemudian, hingga Abad Pertengahan diperintah oleh penguasa dogmatis Gereja Katolik. Gereja melarang kebebasan berpikir dan mengekang para ilmuwan. Inkuisisi diberlakukan untuk mempertahankan hegemoni. Orang-orang dihukum hanya karena menganut keyakinan atau pemikiran yang berbeda (bid’ah, heresy). Buku-buku karya mereka dibakar dan mereka sendiri dihukum mati. Segala yang berbau-bau Islam dan Arab disingkirkan. Kaum non-Kristen dipaksa masuk Kristen atau diusir keluar. Tahun 1809 M, Perancis menguasai Madrid --ibukota Spanyol--, sekaligus memberangus Dewan Inkuisisi Gereja.


Andalusia Modern

Andalusia adalah “bintang yang jatuh” dari negeri Islam. Penduduknya yang beragama Islam mengalami beribu duka akibat kebencian, penindasan, dan tekanan oleh pihak gereja untuk memeluk agama Kristen. Luka yang dialaminya semakin menganga ketika mereka dikhianati oleh saudaranya sesama muslim yang lebih memilih berkonsiliasi dengan musuh untuk “menghabisi” mereka ketimbang memberi bantuan. Sampai saat ini pun, sebagian umat Islam menganggap kaum Muslim di Andalusia telah punah. Padahal, realitas berbicara beda. Umat Islam di Andalusia tetap eksis.

Peninggalan budaya Islam masih bertebaran hingga kini. Masjid, istana, benteng-benteng pertahanan, perpustakaan-perpustakaan besar dan bangunan-bangunan historis masih tegak kokoh. Yang paling kesohor antara lain Istana al-Hamra di Granada (Gharnathah), Masjid Jami’ Cordoba (Qurthubah), dan selat atau bukit Gibraltar (Jabal Thariq), monumen alami yang mengabadikan nama harum sang ksatria penakluk, Thariq bin Ziyad.

Andalusia bukan “museum Islam”, seperti diduga orang kebanyakan. Kaum Muslim “sisa-sisa” pengusiran dan pembantaian di sana tetap konsisten memegang keislaman, walau harus ber-taqiyah. Fakta ini semakin terang kemudian dengan mencuatnya suara-suara kebangkitan Islam di Andalusia Modern.

Ahmad Mahmud Himayah, dalam “Al-Andalus Hal Ta’udu? (Akankah Andalusia Kembali?)”, menulis bahwa Andalusia Modern yang muncul sesudah diktator spanyol, Franko, terjungkal pada 1975 M, memperlihatkan tanda-tanda bangkitnya Islam di sana. Luas daerah otonomi Andalusia mencapai 87.268 km2 (17,28 % luas Spanyol) atau lebih besar dari Kerajaan Islam Granada di masa silam.

Lebih lanjut Ahmad Mahmud mengatakan, “Warga Andalusia menghidupkan kembali simbol perisai yang terdapat pada pintu gerbang kota Cordoba. Simbol tersebut dipakai pada era Abdurrahman an-Nashr al-Umawiy di menara Masjid Cordoba yang dikelilingi tembok kota dan empat batang pohon kurma. Tepat di atas pintu gerbang, terukir bait berbahasa Arab dengan kaligrafi model Kufi, yang artinya, Cordoba; Medan Tempur dan Perjuangan, Sumber Hikmah yang Murni dan Ilmu Pengetahuan.’

Rupa bendera rakyat Andalusia Modern bermotif tiga garis pita yang sama, dengan corak warna; hijau, putih, dan hijau. Hijau melambangkan Daulah Umawiyah di Andalusia yang benderanya berwarna hijau. Putih melukiskan negara kesatuan yang memerintah Andalusia, dan menyimbolkan persatuannya setelah berpecah belah.

Pastinya, upaya mengulang kembali golden age Islam di Andalusia mulai menerbitkan berkas sinarnya. Orang Persia bilang, “Islam zindahabad!” “Hidup Islam!”

Sekularisasi Dunia Islam

Sekularisasi Dunia Islam
oleh: Hafizh Assami
 

Produk Impor

Di tahun 1965, terbit sebuah buku berjudul “The Secular City” yang ditulis oleh Harvey Cox. Buku ini menjadi best-seller di Amerika Serikat saat itu. Dalam bukunya tersebut, sang penulis mencantumkan sebuah kutipan pernyataan seorang teolog Jerman Friedrich Gogarten bahwa sekularisasi merupakan satu tuntutan logis dari dampak kepercayaan Bible terhadap sejarah. Intinya, dalam buku itu Cox menandaskan kepada kaum Kristen untuk seyogyanya tidak menolak sekularisasi. Bahkan harus mendukung. Sebab, sekularisasi adalah konsekuensi otentik dari kepercayaan Bible.

Gema buku ini ternyata melintas batas negara dan agama. Di Indonesia pun, muncul orang-orang yang mulai menabuh gong untuk menyiarkan gagasan Cox tersebut. Kemudian, misi mereka seakan mendapat angin segar ketika sosok Nurcholis Madjid hadir dan turut serta mempropagandakannya. Sejak itu, suara-suara bising sekularisasi semakin lantang diteriakkan.

Sebagian kalangan menilai, sebetulnya, klaim Harvey Cox bahwa akar sekularisasi terdapat dalam kepercayaan Bible adalah keliru. Itu adalah kesalahan penafsiran orang Barat atas Bible. Yaitu, hasil perang antara akal dan Bible di dalam pandangan orang Barat. Yang terjadi justeru Kristen yang terbaratkan. Jadi, klaim itu hanya reka-reka belaka agar sekularisasi mendapat legitimasi dari ajaran agama untuk menguatkan daya tawar (bargaining power) di tengah publik. Hal ini pun terjadi pada sekularisasi yang ada di Indonesia. Karena mayoritas penduduknya muslim, dan para pengasong sekularisasinya sendiri pun mengaku muslim, maka dilakukanlah usaha mensinkronkannya secara paksa dengan ajaran Islam, untuk memperoleh justifikasi.

Ranah Politik

Dalam aspek politik, sebagai sasaran pentingnya, mereka banyak menyerang konsep tentang negara Islam. Nurcholish Madjid, misalnya, mengatakan, “Dari tinjauan yang lebih prinsipil, konsep negara Islam adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara agama dan negara. Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang dimensinya adalah rasional dan kolektif, sedangkan agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya spiritual dan pribadi.”

Statemen Nurcholish Madjid ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mempunyai konsep Daulah Islam sebagai sebuah institusi yang berfungsi memelihara eksistensi agama (hifzhud-diin) dan mengatur dunia berdasarkan tata aturan agama (siyasaatud-dunya bid-diin).

Muhammad Tahir Azhary, dalam disertasinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, yang berjudul Negara Hukum, mendefinisikan sekulerisme sebagai paham yang ingin memisahkan atau menetralisir semua bidang kehidupan seperti politik dan kenegaraan, ekonomi, hukum, sosial budaya, dan ilmu pengetahuan teknologi dari pengaruh agama dan hal-hal yang gaib. Sedangkan sekulerisasi, menurutnya, adalah usaha atau proses yang menuju kepada keadaan sekuler atau netralisasi dari setiap pengaruh agama dan hal-hal yang gaib. Sekuler adalah sifat-sifat yang menunjuk pada suatu keadaan yang telah memisahkan kehidupan duniawi dari pengaruh agama dan hal-hal yang gaib. Negara sekuler adalah Negara yang tidak memberikan peran pada agama dalam kehidupan bernegara. Agama telah diasingkan dari kehidupan negara dalam berbagai sektornya.

Seperti itulah memang definisi yang sejauh ini difahami banyak orang dan seolah sudah menjadi sebuah kemakluman.

Pra-syarat Demokrasi

Dengan bahasa-bahasa diplomatis, konsep negara sekuler berhasil menabur pengaruh di dunia Islam, hingga tak sedikit kaum Muslim yang merasa nyaman saja hidup dalam sebuah negara sekuler, tanpa menginginkan wujudnya negara Islam yang mungkin dianggap sekedar utopia di zaman ini.

Sekularisasi yang merambah berbagai kawasan dunia Islam, pastilah mendapat dukungan Barat. Misi itu akan bertumbuh subur karena hidup satu atap dengan “demokrasi standar ganda” yang mensyaratkan adanya kondisi sekuler untuk bisa berkembang.

Proses panjang Barat menyemai benih-benih sekularisasi di Turki telah membuahkan ‘sukses’ besar. Hingga Mustafa Kemal Attaturk, orang yang menjadi ujung tombak peruntuhan Khilafah Turki Utsmani, dinobatkan sebagai pahlawan pembaharuan. Suatu kenyataan yang mungkin sukar dimengerti. Diantara program Mustafa Kemal Attaturk atas Turki, sebagaimana ditulis asisten pribadinya, Muzhir Mufid Konshuh, dalam buku agendanya, dengan membubuhkan keterangan waktu “7 Juli 1919, menjelang fajar” yaitu,
o Setelah kita menang, maka sistem yang akan menjadi bentuk pemerintahan nanti adalah sistem republik.
o Hak dan fasilitas sultan beserta keluarganya akan kita cabut jika datang waktu yang tepat.
o Hijab akan kita singkirkan dari kaum wanita.
o Topi Tharbusy tidak boleh dikenakan dan kita akan memakai topi seperti bangsa-bangsa yang beradab (maksud Attaturk ialah Eropa).
o Kita akan memakai huruf Latin dan menghapus huruf Arab.

Attaturk berangkat dari sebuah asumsi bahwa jika dipisahkan dari negara, agama akan semakin bebas dipahami secara alami dan murni, terlepas dari segala pengaruh dan kepentingan politik --ide (atau kedok) ini sama seperti argumen yang dilontarkan para penganut Islam Liberal di Indonesia. Namun, tetap saja, itu adalah pemikiran yang telah terkontaminasi oleh propaganda Barat. Sekaligus memang Barat sudah membidik dan merancangnya.

Imbas sekularisasi di Turki, tak sebatas hanya yang ada dalam ‘impian’ Attaturk itu. Di negeri muslim mana pun saat ini, upaya sekularisasi terus digencarkan hingga mencapai bentuknya yang paling ideal.

Sekularisasi: Syirik!

Syaikh Salman Bin Fahd Al-Audah mengemukakan dua alasan mengapa di tanah air Islam tidak ada tempat bagi sekularisme yang berasal dari Barat. Pertama, karena Allah menurunkan Islam untuk menggantikan posisi keyakinan-keyakinan yang ada sebelumnya, untuk mengatur segala aspek kehidupan. Dengan begitu, secara simpel, bisa dimengerti oleh orang yang mau sedikit berpikir bahwa Islam, yang memiliki tata adab makan, minum, tidur, urusan bisnis, pergi ke jamban pun ada aturannya, mana mungkin akan melewatkan hal-hal besar seperti persoalan pemerintahan dan perekonomian yang menyangkut hajat hidup orang banyak, kemudian mendelegasikannya kepada selain Allah untuk menanganinya!? Kedua, sejak kemunculannya, Islam tidak pernah menghadapi problem sejarah sebagaimana yang ada di Barat (dalam hal ini Eropa), berkenaan dengan akidah mereka yang serba ganjil. Di antaranya, keyakinan agama mereka bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Sehingga, hal itu menimbulkan konflik antara akal dan agama. Kemudian terlahirlah penangkapan para ilmuwan dan diberlakukan inkuisisi atas mereka, karena berseberangan dengan ajaran gereja.

Poin pertama di atas adalah sebuah tampikan rasional atas sekularisme yang menyatakan, “Masjid adalah hak Allah, sedang urusan lain milik selain Dia.” Dalam kenyataan, tidak bisa dipungkiri bahwa sekularisasi tak mungkin berpisah dari sekularisme. Sekularisasi adalah proses menuju terealisasinya “proyek” sekularisme. Ketika, proses itu sendiri dikatakan sebagai sesuatu yang abadi, dan tidak pernah sampai pada sekularime, maka proses itu sendiri sudah menjadi satu ideologi. Kaum Muslim harus terus bekerja maksimal untuk membendung laju sekulerisasi yang kian hari kian kencang. Kalau tidak, gumpalan bola salju yang terus membengkak dan menggelinding itu, siap menggilas mereka![]