Syaikh Yusuf al-‘Uyairi
“Bodyguard” Usamah Bin Ladin
oleh: Hafizh Assami
Nama panjang beliau adalah Abu Muhammad Yusuf bin Shalih bin Fahd al-‘Uyairi. Lahir pada hari Senin tanggal 1 Rabi’ul Akhir 1394 H. Dari pernikahannya dengan seorang wanita dari keluarga Ash Shaq’abi, yang merupakan saudari kandung dari istri Syaikh Sulaiman al-‘Ulwan, beliau dikaruniai tiga orang putri.
Setelah banyak menikmati keindahan dunia jihad, pada usia yang baru 30 tahun, Allah memanggil beliau untuk menghadap-Nya. Beliau syahid --insya`allah-- di tangan tentara Saudi.
Syaikh Yusuf remaja menyelesaikan sekolah menengah pertama (tingkat Mutawasithah). Belum lagi sampai satu semester mengenyam pendidikan di bangku Tsanawiyyah (tingkat SMA), beliau meninggalkan studi demi menyambut hangat riuhnya jihad di bumi Afghanistan. Beliau menginjakkan kaki di daratan tandus Afghanistan sebagai pemuda perkasa yang masih sangat belia. Di tanah para mullah itulah jihad bertaut dalam hatinya dan mengisi ruang jiwanya.
Beliau dikaruniai Allah otak yang jenius, pandangan yang tajam dan hafalan yang kuat. Sehingga, tidak mengherankan jika beliau menjadi salah satu instruktur di Kamp Pelatihan Al Faruq pada masa perang Afghanistan pertama melawan Uni Soviet.
Ensiklopedia Berjalan
Orang-orang yang pernah merasakan ber-mu’asyarah dengan Syaikh Yusuf menceritakan betapa hafalan beliau yang sungguh mengagumkan mengenai berbagai persenjataan dan data-data yang sangat mendetail tentang seluk-beluk senjata-senjata tersebut. Selain itu, beliau juga memiliki kesabaran yang luar biasa di saat menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berbagai pertempuran yang membuat Allah memuliakan beliau lantaran taburan debu fie sabilillah yang menghias kedua kaki beliau.
Dengan segala kelebihan yang melekat pada diri beliau, Syaikh Usamah bin Ladin --hafizhahullah-- mendaulat beliau menjadi pengawal pribadi. “Job” baru itu beliau emban setelah ambruknya kedigdayaan pasukan Beruang Merah Uni Soviet.
Di samping Afghanistan, Syaikh Yusuf juga menyambangi bumi jihad Somalia saat mengusir tentara Amerika. Untuk Chechnya dan Bosnia, beliau juga tidak mengabaikan. Penggalangan dana dari Arab Saudi beliau galakkan. Beliau juga memfasilitasi mujahidin yang akan berangkat ke Bosnia. Sumbangan ide pikiran cemerlang yang tertuang dalam poin-poin strategi dan tak-tik tempur, beliau alamatkan kepada Jendral Khathab di pegunungan dingin Kaukasus.
Bak sesosok manusia dengan multi-talenta, Syaikh Yusuf menggenapi khidmatnya di dunia jihad lewat mata pena. Berbagai buku beliau tulis dengan tujuan inti untuk membela kehormatan kaum Muslim dan mengharumkan nama mujahidin yang ada di tapal batas (ahluts tsughur). Tulisan-tulisan beliau itu tersebar luas melalui situs Markaz Ad Dirasat dan bisa diakses pula dalam forum-forum umum di internet.
Beliau dikaruniai Allah dengan ungkapan yang sangat mendalam, sabar dan ulet yang menjadikan beliau tidak henti-hentinya memproduksi tulisan-tulisan syar’i dan analisa-analisa politik.
Ada seorang sahabat beliau yang memberikan komentar demikian, “Beliau ini adalah ibarat esiklopedi ilmiah dalam semua persoalan. Jika beliau berbicara mengenai ilmu syar’i, tentu kita akan mengatakan bahwa ia adalah seorang ulama’ yang faqih. Dan apabila beliau berbicara mengenai persoalan politik, pasti kita akan mengatakan bahwa ia adalah seorang politikus yang handal. Selain itu, beliau juga memiliki perhatian pada ilmu komputer dan programming. Beliau juga menguasai ilmu-ilmu militer layaknya seorang komandan yang cerdik. Beliau juga menguasai topografi, teknologi dan elektronik.”
Syaikh Yusuf adalah figur pribadi yang menyandang kelembutan hati, perasaan sensitif dan mudah melelehkan air mata. Khususnya apabila bercerita tentang mujahidin dan pengorbanan di jalan Allah. Apabila beliau menyampaikan nasehat terdengar suara tangis dan khusyu’, terutama ketika mengingatkan tentang Allah, akhirat, jihad dan mati syahid di jalan-Nya.
Beliau mengungkapkan, kita harus menjelaskan kepada manusia bahwa jihad itu tidak lain adalah usaha untuk merealisasikan tauhid dan mewujudkan konsekuensi-konsekuensi kalimat syahadat Laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah. Kita harus ikat manusia dengan perkara ini supaya dari satu sisi mereka mengetahui pentingnya jihad, dan dari sisi yang lain agar mereka tetap teguh di jalan ini.
Untuk hal yang satu ini, beliau rahimahullah sering mengulang taushiyah dengan perkataan Syaikh Abdullah Azzam, “Gambaran yang engkau bawa ke medan jihad lain dengan gambaran yang engkau bawa pulang dari medan jihad.” Maksudnya, sekelompok orang berangkat berjihad hanya karena terdorong oleh luapan emosi setelah menyaksikan penyiksaan terhadap kaum Muslim dan penodaan kaum wanita. Emosi semacam ini memang bagus. Namun, alangkah lebih baik jika motivasi yang menggerakkan langkah mereka pergi berjihad adalah kesadaran dan keyakinan mendalam akan fardhunya menapaki jalan ini yang berjalinan sinergi dengan aqidah tauhid, serta komitmen mempropagandakan jihad di tengah-tengah umat untuk membangun daulah yang merealisasikan jihad.
Nominator Black List
Belum pula sempat puas menghirup udara bebas setelah dipenjara dengan tuduhan terlibat pemboman di Khabar, Arab Saudi, pemerintah Saudi buru-buru mencantumkan nama beliau dalam black list atas instruksi Amerika Serikat.
Mereka memburu beliau selama satu tahun lebih. Namun beliau menolak menyerah dan menghinakan diri dalam persoalan aqidah yang krusial. Selama itu, beliau jarang sekali beristirahat. Kadang-kadang tidak tidur sampai beberapa hari. Dengan senjata siap di tangan, beliau selalu siaga dan waspada siang malam.
Beliau pernah mengatakan kepada seorang temannya, “Akhi (saudaraku), kita ini bukan orang yang lebih mulia daripada para sahabat Rasul SAW. Hal mana mereka hidup di Madinah diliputi rasa takut dan was-was, hingga berkata,
‘Wahai Rasulullah, tidak ada pada diri kami selain perasaan takut, sementara masing-masing kita senantiasa memanggul pedang di atas pundaknya.’”
Beliau menghibur diri dengan kondisi para sahabat ridhwanullahu ‘alaihim. Hingga tibalah hari penuh berkah itu. Sabtu malam, 30 Rabi’ul Awal 1424 H, di daerah Hail, Allah mengabulkan cita-cita beliau dalam sebuah perlawanan yang maksimal. Beliau lebih memilih gugur di jalan Allah daripada ditawan oleh rezim Saudi. Allâhumma alhiq-hu bi Qâfilah asy-Syuhadâ’ . [Diadaptasi dari arrahmah.com]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar