Minggu, 03 Mei 2009

Abu Umar As-Saif

ABU UMAR AS-SAIF
Mufti Yang Mujahid


Nama lengkap beliau Muhammad bin Abdul1ah bin Saif At-Tamimi. Dibesarkan di propinsi Al-Qashim, Kerajaan Saudi Arabia. Sebelumnya pernah menimba ilmu dari para ulama kaliber di Saudi Arabia, semisal Syaikh Muhammad bin Shalih A1-’Utsaimin. Sebelum masuk dalam kancah jihad Chechnya, kehidupan jihadnya bermula di Afghanistan, dengan mengikuti pelatihan militer di sana. Kemudian beliau pindah ke Chechnya pada tahun 1417 H bertempat di kamp militer Panglima Khaththab rahimahullâh, dan berjihad di bawah komando Panglima Khaththab rahimahullâh pada permulaan meletusnya perang melawan Rusia.


Sejarah Jihad Beliau

Setelah hengkangnya pasukan Rusia pada perang pertama dari bumi Chechnya dan dibarengi berdirinya Negara Chechnya, para petinggi Chechnya berkeinginan kuat untuk menerapkan syariat Islam. Lalu diangkatlah Syaikh Abu Umar As-Saif untuk mengawasi dan membimbing perja1anan dan pembelajaran calon hakim agama. Maka dari itu didirikanlah Sekolah Tinggi Hukum Agama Islam, dan Sekolah Tinggi Penegak Syariat di kota Gudermes, yang di kemudian hari meluluskan beberapa hakim dan pelajar terbaik.

Pada tahun 1420 H, pasukan Rusia kembali melakukan agresi ke Chechnya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Syaikh Abu Umar As-Saif untuk menghunuskan senjatanya dan bergabung ke dalam barisan mujahidin. Beliau tidak hanya menjadi penasehat dan penggerak semangat jihad para mujahid, bahkan nasehat dan dorongan yang disampaikannya itu ikut mendarah daging dalam tubuhnya untuk terjun langsung ke kancah jihad bersama mujahidin lainnya.

Tidak sekali beliau terluka dalam peperangan melawan Rusia, bahkan tidak terhitung luka yang dialaminya ketika terjadi konfrontasi dengan pasukan beruang ‘komunis’ merah itu. Bahkan tidak sedikit adanya rekayasa konspirasi licik dari pihak Rusia untuk mencuri kesempatan menyergap dan membunuh beliau sepanjang perjalanan jihad beliau di Chechnya.

Kesibukan beliau memanggul senjata di kancah jihad tidak menjadikannya lalai untuk menyebarkan ilmu syar’i di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, sampai pada kondisi sesulit dan separah apapun yang dialaminya. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan beliau mendirikan Ma’had Imam Syafi’i, dan kedua, Ma’had Al-Hisbah. Itu di luar kesibukan beliau dalam menyelenggarakan dan mengisi diklat-diklat ilmu syar’i di berbagai daerah di Chechnya, untuk kalangan laki-laki dan perempuan. Hal ini memberikan dampak positif dalam rangka membentuk daya paham masyarakat awam Islam yang ada di Chechnya—khususnya bagi para mujahidin—terhadap perkara-perkara dienul Islam, yang juga menjadi target Rusia dengan pelbagai cara dan metode yang sangat mengerikan untuk menjauhkan masyarakat awam Islam di Chechnya dari ajaran-ajaran agamanya.

Bagi Syaikh Abu Umar As-Saif rahimahullâh tidak cukup kalau hanya berkecimpung dalam jihad menggunakan lisan, pena dan senjatanya saja. Lebih dari itu beliau juga berjihad dengan harta. Ini terbukti dengan adanya usaha beliau dalam mendirikan Yayasan Al Huda yang mengampu peranan sangat besar dalam menampung dan membiayai keluarga mujahidin. Entah yang ditinggal mati syahid ataupun ditawan oleh pihak Rusia, atau rakyat yang sangat memerlukan bantuan, dan bahkan merogoh koceknya sendiri untuk beliau infakkan. Pernah, ketika ada salah seorang mujahidin yang tertawan pihak Rusia, beliau sendiri yang menebusnya dalam jumlah 10.000 US Dollar.

Selain itu semua, beliau juga masuk dalam jajaran atas para pendiri Majelis Syura Militer Mujahidin Chechnya.


Syahidnya Beliau

Perhatian beliau terhadap jihad, tidak hanya terbatas pada masalah-masalah mujahidin yang ada di Chechnya saja, tapi diberikannya ke setiap tempat bumi jihad, seperti di Irak. Beliau pernah berjihad langsung di sana, dan begitu juga di jazirah Arab, tempat dimana beliau pernah mendapatkan siraman rohani yang sangat baik dan arahan-arahan, serta nasehat-nasehat.

Beliau menjumpai syahidnya pada bulan Syawal 1426 H bersama isterinya, setelah terjadi kontak senjata dengan tentara Rusia, dalam kondisi maju pantang mundur sedikitpun.

Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada seorang ‘alim yang satu ini yang telah membuktikan perjuangannya dengan ilmu dan amal.

“Di antara penghidupan yang paling baik yang dimiliki manusia; laki-laki yang menarik kekang kudanya dalam kancah jihad, bagaikan terbang di atas punggungnya, setiap ia mendengar hiruk pikuk dan suara minta tolong, ia pacu kudanya agar ia dibunuh dan mencari mati sesuai sangkaannya.” (HR. Muslim)*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar