Sabtu, 14 November 2009

Harakah Islam di Alam Demokrasi

Harakah Islam di Alam Demokrasi

Hafizh Assami

 

Kalau berbicara soal perjuangan Islam, tentunya kenyataan yang dihadapi kaum muslim hari ini, yang mayoritas hidup di bawah kekuasaan pemerintah sekuler, tidak bisa diabaikan. Seperti juga Indonesia, kaum muslim di belahan bumi lainnya tengah dihadapkan pada persoalan serupa; hidup dalam tekanan rezim penguasa sekuler meskipun mereka mengaku masih muslim.

Inilah fakta yang cukup membuat para ulama kontemporer kesulitan dalam mendefinisikan status sebuah negara. Pada satu negara, di mana mayoritas muslim, namun penguasanya menerapkan sistem pemerintahan non-Islam, tentu penanganan dan kebijakan sebuah gerakan Islam akan berbeda dengan sebuah negara dengan penduduk mayoritas muslim, kontrak sosial yang dibangun sejak awal adalah Negara Islam, hanya saja pemerintahnya menyimpang dan menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri.

Untuk Indonesia, barangkali semua sepakat bahwa NKRI bukanlah sebuah negara/ daulah Islam. Pemerintahnya sendiri pun sudah mengakui demikian, secara tegas. Yang menjadi persoalan adalah apakah dengan serta merta kepala pemerintahannya, dalam hal ini presiden, menjadi kafir. Ini merupakan sebuah perbincangan panjang yang membutuhkan tempat tersendiri.

Di halaman ini, yang akan dibicarakan adalah tentang metode perjuangan menegakkan Islam, jika diupayakan melalui demokrasi, akankah tercapai sesuai harapan ideal Islam. Dengan kata lain, apakah itu sesuai dengan sunnah perjalanan Islam.

Bagi sebagian gerakan Islam yang memilih melebur dengan aktivitas parlemen dan pemerintahan sekuler di alam demokrasi secara langsung, mereka memiliki teori praktis seperti diungkap oleh salah seorang tokoh Partai Keadilah Sejahtera, Anis Matta, yang menulis, “Maka penetrasi kekuasaan dalam negara demokrasi harus dilakukan dengan urutan-urutan begini. Pertama, menangkanlah wacana public agar opini publik berpihak kepada kita. Inilah kemenangan pertama yang mengawali kemenangan-kemenangan selanjutnya. Kedua, formulasikan wacana itu ke dalam draf hukum untuk dimenangkan dalam wacana legislasi melalui lembaga legislatif. Kemenangan legislasi ini menjadi legitimasi bagi negara untuk mengeksekusinya. Ketiga, pastikan bahwa para eksekutif pemerintah melaksanakan dan menerapkan hokum tersebut.”[1]

Kalau dilihat sekilas, tampaknya sangat reasonable (masuk akal). Namun apakah sesederhana itu persoalannya? Tentu tidak. Permasalahan pemerintahan, adalah masalah strategis yang mengundang minat semua orang. Sehingga, semua yang berkepentingan akan mengejar sekuat tenaga jika muncul peluang-peluang untuk mendapatkannya. Pun demikian, orang yang tengah berkuasa pasti tidak akan tinggal diam jika kekuasaannya dirongrong.

Di ranah politik global, kaum Yahudi, sebagaimana dinyatakan dalam al-Quran, tidak pernah berhenti menghadang laju gerak kaum muslim. Demokrasi dipakai oleh kaum Yahudi sebagai jaring untuk menghanyutkan para rijal dakwah dan jihad yang sejak awal komitmen dengan perjuangan Islam. Jaring-jaring ini dipasang Yahudi melalui pemerintah-pemerintah sekuler. Ini adalah tipu daya agar kaum muslim terlena dan semakin jauh meninggalkan aktivitas jihad fie sabilillah, sebagai jalan yang telah digariskan oleh al-Quran dan as-Sunnah sebagai jalan menuju kemuliaan Islam.

Syaikh Abu Mush’ab As-Suuriy, orang yang disebut-sebut Barat sebagai seorang ideolog jidad modern yang paling jenius, menulis tentang cara-cara kaum kuffar Barat dalam memberangus kekuatan Islam, adalah dengan tipu muslihat. Beliau menulis bahwa masa antara tahun 1970-1990 terjadi peningkatan suhu bentrokan antara berbagai aliran gerakan kebangkitan Islam dengan pemerintah negara-negara Arab dan dunia Islam beserta perangkat militernya.

Konfrontasi tersebut mengakibatkan makin meluasnya popularitas gerakan kebangkitan Islam (ash-shahwah al-islamiyah) secara umum dan tersebarnya pemikiran jihad dan basis massanya secara khusus. Para penguasa, para penasehat mereka dari Barat, dan orang-orang yang memegang kendali rezim-rezim tersebut berpendapat bahwa masalah ini sudah membahayakan. Tipu daya yang terbongkar dari otak-otak mereka adalah dengan keterbukaan politik. Pemerintah pun membuka pintu bagi para aktivis Islam untuk masuk dalam permainan demokrasi dan berpartisipasi di dalamnya, baik dengan baju partai Islam, bergabung dengan partai sekuler yang diizinkan, maupun dengan organisasi independen.

Beliau mengatakan bahwa gerakan-gerakan Islam di dunia, di masa-masa antara tahun 1990-2000, masuk dalam masa krisis. Sebab, dekade itu merupakan dekade pemisah dan perlawanan gerakan Islam terhadap emerintah thaghut di banyak negara Arab dan negeri Islam lainnya. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah negara-negara sekuler itu adalah dengan memperluas basis fundamentalisme (yang moderat) menurut pemahaman mereka, yaitu dengan memperluas keikutsertakan kaum Islamis dalam ajang demokrasi supaya kaum Islamis bisa masuk dalam instansi-instansi pemerintah untuk merealisasikan tujuan mereka.

Pada dekade itu telah terjadi perubahan penting dalam praktik dan manhaj Ikhwanul Muslimin serta aliran-aliran yang menginduk kepadanya demi menjustifikasi praktik politik yang dilakukan. Banyak buku-buku dan riset yang dibuat. Berbagai makalah ditulis, khotbah-khotbah bersemangat disampaikan untuk mendorong orientasi pemikiran ini dan memanfaatkan jalur-jalur yang legal, peluang yang terbuka, dan justifikasi-justifikasi lainnya. Eksperimen parlemen di Tunisia, Maroko, Mauritania, dan Aljazair juga bergulir pada dekade 1990-2000 tersebut. Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri muslim lainnya, terutama yang populer adalah di Turki dan Pakistan.

Dari sisi kuantitas dan makna politik, eksperimen terpenting adalah yang terjadi di Tunisia, Pakistan dan terakhir di Aljazair, disusul Turki. Pada akhir dekade ini dan akhir abad 20, para penguasa negara-negara tersebut menutup era keterbukaan politik bagi umat Islam dan kembali menghadapi seluruh aliran ash-shahwah al-islamiyah dengan cara basmi habis. Yang terjadi di Turki dan Aljazair, kemenangan mereka dalam pemilu, bahkan Front Islamique du Salut (FIS) Aljazair menang 90% suara, dianulir dan diberangus oleh militer.

Yang perlu mendapat catatan penting di sini ialah gerakan yang terus-menerus bergelut dengan kubangan demokrasi ini lambat laun mengalami pergeseran manhaj. Jurang penyimpangan manhaj aktivis Ikhwanul Muslimin dengan generasi awal mereka seperti Hassan al-Banna, Abdul Qadir Audah, dan lebih-lebih Sayyid Qutb, semakin menganga akibat terus-menerus dalam kekuasaan dan menduduki jabatan di berbagai instansi pemerintah sekuler yang dibangun di atas dasar-dasar kemurtadan, perundang-undangan selain hukum Allah, dan memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir dan musuh umat ini.[2]

Perlu disadari bahwa keberadaan sistem demokrasi lebih merupakan fitnah (ujian) bagi kaum muslim, terutama bagi para dai dan rijal (figur) gerakan Islam. Semakin jauh berkecimpung di dalamnya, bukannya semakin dekat kemenangan Islam. Dalil-dalil normatif dari al-Quran maupun as-Sunnah telah banyak mengindikasikan tentang kemenangan dan kemuliaan Islam, tidak dapat diraih dengan mengemis kekuasaan. Jika pun dilihat bahwa berjuang lewat demokrasi memiliki manfaat, manfaat itu pasti hanya berifat temporal. Seperti dalam perda anti maksiat, atau perda lainnya, yang itu pun tidak memiliki cukup kekuatan untuk bisa ditaati. Kalau boleh diibaratkan, demokrasi adalah satu pohon. Orang-orang yang berjuang menegakkan Islam dengan cara-cara demokrasi, ibarat orang yang memangkas sebagian dahan dan daunnya dengan harapan pohon itu tak lagi tumbuh tinggi. Namun yang terjadi, pohon itu menumbuhkan dahan, ranting dan daun baru. Kemudian, esoknya, ia memangkasnya lagi. Terus demikian berulang-ulang setiap hari.

Yang dituntut oleh Islam ialah totalitas dalam siyasah syar’iyyah. Bukannya sepotong-sepotong. Dan tuntutan itu tidak mungkin terwujud jika dasar pijakan demokrasi masih dilestarikan. Maka, Islam memiliki manhaj istimewa dengan ciri khasnya sendiri. Memurnikan manhaj Islam, dengan demikian, merupakan sebuah kebutuhan yang mesti dijaga dengan konsisten oleh setiap gerakan Islam yang menginginkan terjaganya dunia dan dien mereka secara totalitas. Islam menghendaki pohon demokrasi mati dan tumbang sama sekali. Sehingga, solusi yang ditawarkan Islam adalah membusukkan akar pohon, agar pohon itu tercerabut, tumbang dan diganti dengan pohon Islam yang benar-benar beda. Jalan yang satu ini, memang tampak lama dan jauh dari harapan, membutuhkan kesabaran, strategi jitu dan kematangan berpikir. Namun, siapa berhak memprotes jika jalan ini adalah jalan yang telah dipilih dan ditetapkan oleh Allah sebagai jalan terbaik dan terdekat menuju kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Manhaj jihad yang dikonsepkan Islam merupakan manhaj yang realistis dan sejalan dengan karakter peradaban yang kokoh. Sifat dasar suatu masyarakat dapat diibaratkan dengan genangan air. Di air yang menggenang, kotoran bertumpuk, berlumut licin dan berbagai partikel busuk mengambang di permukaannya. Namun tidak demikian dengan air yang mengalir. Buih dan sampah hanyut terbawa arus menjadikannya bening dan jernih. Demikian pula dengan masyarakat dan peradaban  manusia. Mereka yang mengemban tugas sebagai pemuka dan pemimpin di kalangan masyarakat yang serupa dengan air yang menggenang, tidak akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik karena kualitas kepemimpinan ditentukan oleh seberapa jauh perbuatan, pengorbanan, bakti diri dan tawaran yang bersedia mereka berikan kepada masyarakatnya. Sebaliknya, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali muncul memimpin masyarakat mereka dengan kemampuan dan keikhlasan total yang didasari moral luhur dan keteguhan hati. Mereka muncul menjadi pribadi-probadi hebat dan menghadirkan perbuatan-perbuatan dengan prestasi luar biasa dan pegorbanan yang sedemikian besar.

Masyarakat yang menegakkan jihad membayar dengan harga mahal atas usaha dan pengorbanannya itu. Merekalah yang memiliki hak penuh untuk memanen buah ranum nan manis yang telah ditanam dan diupayakan itu. Sesuatu yang diperoleh dengan cucuran keringat dan tetesan darah tidak mudah hilang. Tetapi mereka yang memerintah sambil duduk tinggal di belakang dan lebih memilih berkompromi sementara masyarakatnya pergi menyelesaikan masalah mereka dengan kekuatan dan revolusi militer sungguh amat mudah kehilangan segalanya.

Umat jihad, yang dipimpin oleh orang-orang yang memiliki kemampuan luar biasa dengan catatan reputasi tak terpatahkan dan muncul setelah teruji melalui berbagai pertempuran dan panjangnya perjuangan, tidak mudah kehilangan kekuasaan. Tidak pula mudah menjadi mangsa orang-orang yang menginginkan runtuhnya kebesaran mereka. Musuh tentu tidak mudah menjadikan petualangan kepahlawanan mereka sebagai fitnah atas diri mereka. Jadi, tegaknya Islam yang kokoh tidak akan tercapai tanpa melalui rintangan dan kesulitan menggunung.[3]

 

 

 

Daftar Pustaka

Anis Matta. 2002. Menikmati Demokrasi. Jakarta: Penerbit Pustaka Saksi.

Abu Mush’ab As-Suri. 2009. Perjalanan Gerakan Jihad (1930-2002); Sejarah, Eksperimen, dan Evaluasi. Solo: Jazeera.

Abdullah Azzam. 2002. Bergabung Bersama Kafilah. Jakarta: Penerbit Ahad.

 

 

 



[1] Menikmati Demokrasi, hal. 33-34.

[2] Lihat: Perjalanan Gerakan Jihad (1930-2002); Sejarah, Eksperimen, dan Evaluasi, hal. 29-30.

[3] Lihat: Bergabung Bersama Kafilah, hal. 50-51

Kirgizstan

Kirgizstan,

Tebalnya Tembok Sekularisme

oleh: Hafizh Assami

 

Kondisi Geografis

Kirgizstan, seperti juga negara-negara Asia Tengah lainnya, adalah bekas wilayah kekuasaan Uni Soviet. Negara ini membentang memanjang dari barat ke timur dengan luas 198.500 km2. Di sebelah barat, Uzbekistan menjadi pembatas negara ini (1.099 km). Kemudian di sebelah timur, berbatasan dengan Xinjiang (sepanjang 858 km), atau negeri muslim Turkmenistan Timur, yang dikuasai oleh China. Sementara itu negara Kazakhstan membentang di sepanjang garis perbatasan utara dari timur ke barat sepanjang 1.051 km. Di selatan, Kirgizstan bertetangga dengan Tajikistan (870 km). Kirgizstan merupakan land-locked country, semua daerah perbatasan dengan negara tetangga adalah daratan. Maka praktis, negara ini tidak memiliki garis pantai. Hanya saja, negara ini memiliki danau Ysyk-Kul, yang masuk dalam daftar danau-danau besar dunia.

Rangkaian pegunungan Tian Shan menghiasi Kirgizstan yang beriklim daratan. Di kawasan ini, suhu udara bulan Januari di sebagian besar daerah lembah mencapai minus 6o C, sedangkan pada bulan Juli adalah 15 sampai 25 derajat Celsius.

Secara administratif, Kirgizstan terdiri dari 7 oblast (wilayah atau provinsi), yaitu; Provinsi Batken (ibukota: Batken), Provinsi Chui (Tokmok), Provinsi Jalal-Abad (Jalal-Abad), Provinsi Naryn (Naryn), Provinsi Osh (Osh), Provinsi Talas (Talas), Provinsi Yssyk-Kul (Karakol). Oblast kemudian dibagi lagi kepada raions (distrik), yang diperintah para pejabat yang dilantik oleh pemerintah pusat. Selain ketujuh oblast tersebut, ada dua kota (shaar) yang juga menjadi unsur penting bagi Kirgizstan, yaitu kota Bishkek sebagai ibukota negara dan Osh yang merupakan ibukota provinsi Osh.

Ibukota Bishkek, dulunya dibangun pada tahun 1878, tahun 1926 dirubah menjadi Frunze, kemudian tahun 1991 nama Bishkek dipakai kembali. Kota ini termasuk di deretan daftar kota-kota terkenal di Asia Tengah. Jumlah penduduk kota Bishkek tercatat 797.700 orang (data Januari 2003). Di bagian barat wilayah Kirgizstan, ada sebuah kawasan yang disebut Lembah Fergana. Tempat ini merupakan daerah paling padat di negara ini. Lembah Fergana menjadi lahan perebutan antara Uzbekistan, Tajikistan dan Kirgizstan yang sejak lama menjadi pemicu konflik tiga negara, Baik sebelum maupun setelah runtuhnya Uni Soviet. Pasalnya daerah ini merupakan daerah subur dan dahulu merupakan bagian penting dari rute jalur sutra (silk-road).

 

Komposisi Masyarakat dan Budaya

Rata-Rata kepadatan penduduk adalah 69 orang per mil2 (25 jiwa per km²). Di negara ini hidup beragam suku yang mencapai bilangan 80 etnis. Populasi penduduk yang paling besar yaitu bangsa Kirgizstan asli. Penduduk lainnya yaitu meliputi Rusia 9.0% yang berpusat di utara Kirgizstan dan Uzbekistan 14.5% yang tinggal di Selatan Kirgizstan. Selain itu penduduk lainnya yang sedikit jumlahnya atau minoritas yaitu meliputi Tatar 1.9%, Uighur 1.1%, Tajikistan 1.1%, Kazakhstan 0.7% dan Ukrainia 0.5%.

Persilangan antara kebudayaan barat-timur dan utara-selatan bertemu di Kirgizstan. Paling tidak, wilayah ini merupakan daerah konvergensi dari empat peradaban besar; Eropa, yang masuk melalui Rusia, Muslim-Arab, Persia dan China. Dengan demikian, corak budaya masyarakat Kirgizstan sangat beragam. Dan keragaman itu terikat dalam simpul Islam, yang dianut oleh tidak kurang dari 75% penduduknya. Awalnya, bahasa yang dipakai oleh penduduk Kirgizstan adalah bahasa Kirgiz. Namun, pada Desember 2001, presiden Kirgizstan mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa bahasa Rusia dijadikan sebagai bahasa resmi.

 

Ekonomi

Perekonomian Kirgizstan terutama ditopang oleh industri pertanian dan peternakan. Industri pembangkitan tenaga listrik dan industri peternakan juga berkembang relatif maju. Hasil-hasil industri sebagai bahan ekspor antara lain emas, merkuri, uranium dan listrik. Gandum, kentang, gula bit, kapas, wol, tembakau, buah, daging sapi dan daging domba merupakan produk pertanian yang utama. Selama ini, Kirgizstan merupakan salah satu negara paling progresif dari bekas Uni Soviet dalam melaksanakan reformasi pasar. Negara ini mencatat perkembangan perekonomian tercepat dibanding negara tetangganya.

 

Dakwah Islam

Sebagaimana kawasan Asia Tengah lainnya, Islam menemukan momen-momen kejayaannya pada abad 8 H. Dalam perkembangan selanjutnya, di tahun 1864, Kekaisaran Rusia menganeksasi wilayah ini. Selama berada di bawah kekuasaan Uni Soviet, tepatnya sejak tahun 1937, Kirgizstan bernama lengkap Republik Sosialis Soviet Kirgizia. Bersamaan dengan merdekanya negara-negara Asia Tengah dari Uni Soviet, Kirgizstan pun mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1991.

Kirgizstan adalah negara di Asia Tengah yang jarang sekali tersentuh oleh media seputar konflik atau isu-isu politiknya sehingga jarang sekali terdengar berita sampai ke pelosok dunia. Sejak tujuh tahun pasca-runtuhnya Uni Soviet, di antara negara muslim bekas Soviet yang paling ‘tenang’ adalah Kirgizstan. Tetapi kini pemerintah pimpinan presiden Kurmanbek Bakiyev itu mulai ketularan sindrom anti Islam yang semakin keras bertiup.

Rezim penguasa sekular Kirgizstan merasa ketakutan terutama ketika kejahatan mereka terungkap karena tidak menerapkan syariah Islam. Ketakutan penguasa itu membuat mereka bersikap represif dan menangkapi para pengemban dakwah Islam. Ketika banyak negara mulai melarang pemakaian jilbab, pemerintah Kirgizstan baru-baru ini mengeluarkan keputusan yang melarang siswi sekolah negeri untuk mengenakan jilbab. Keputusan ini langsung mendapatkan penentangan dari kaum muslim dan para pembela hak-hak sipil.

"Kami adalah negara sekuler. Ketika pilihan antara pendidikan dan jilbab, kami memilih pendidikan," ujar seorang pejabat senior Kementerian Pendidikan Kirgizstan. Masalah jilbab bukanlah hal baru di Kirgizstan. Setiap tahun, pada awal tahun ajaran sekolah, beberapa siswi muslimah diberhentikan dari sekolah negeri karena memakai jilbab. Para pejabat sekolah mendapat buku pedoman tentang penegakan aturan berpakaian di sekolah secara tegas. Ketika kaum muslimah menginginkan untuk mengenakan hijab, di beberapa negeri mereka harus berhadapan dengan pelarangan atau pengusiran. Namun di tempat lain, seperti Indonesia misalnya, ketika kebebasan dirasakan, justeru sebagian kaum muslimah mengikuti tren berpakaian ala Barat yang memperlihatkan aurat dan merendahkan martabat mereka.

Di samping pelarangan jilbab, Presiden Kurmanbek Bakiyev juga menandatangani undang-undang yang melarang pendidikan agama secara pribadi dan impor atau penyebaran buku-buku agama. Undang-undang itu juga mengharuskan semua penganut agama untuk mendaftarkan diri kepada negara. Tentu saja hal ini mengundang perlawanan sekaligus menampakkan ketidakmampuan pemerintah dalam menghadapi kritik dan penentangan rakyatnya melalui argumentasi ilmiah.

Tak jarang pula pemerintah memilih pola-pola tindakan represif untuk menghadapi kritik dan penentangan warga muslimnya yang menuntut keadilan. Di antara daerah yang paling keras penentangannya terhadap pemerintah sekular setempat adalah penduduk Lembah Fergana. Penduduk Fergana dikenal paling religius dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya di Asia Tengah. Umat Islam Fergana digambarkan sebagai “orang-orang Islam yang taat bukan main”. Tidak ada kemaksiatan dan mereka tidak segan-segan melaksanakan shalat di pinggir jalan jika waktunya telah tiba. Selepas dari cengkraman Uni Soviet, penduduk Fergana sempat memproklamasikan berdirinya “Negara Islam Fergana”, namun tidak dapat bertahan lama karena dibagi-baginya daerah ini.

Kuatnya pengaruh Islam dan ketaatan penduduk pada ajaran agamanya, menjadikan Lembah Fergana disebut-sebut sebagai salah satu basis pergerakan Islam di Asia Tengah. Identitas keislaman penduduk Fergana tidak lepas dari jejak sejarah Islam, khususnya saat wilayah ini dikuasai Imperium Kokand, imperium Islam kuno, di samping Imperium Khiva dan Imperium Bukhara. Tidak heran jika Fergana menjadi basis pergerakan Islam yang memiliki cita-cita mengembalikan kejayaan Islam di sana. Kaum pergerakan Islam di sini berusaha melawan rezim-rezim sekuler Asia Tengah yang baru merdeka, seperti di Tajikistan, Kirgizstan, dan Uzbekistan yang hendak memadamkan cahaya Islam di bumi mereka.*

KUTTAB

KUTTAB

oleh: Hafizh Assami

Sejak awal mula kehadirannya, Islam menaruh perhatian besar dalam persoalan pendidikan. Terbukti, Rasulullah Saw bekerja keras mengupayakan proses transmisi ilmu kepada para shahabat melalui beberapa forum pertemuan tertutup di Makkah. Dari forum pertemuan itu, kemudian muncul produk-produknya seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Said bin Zaid, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, serta beberapa shahabat yang memeluk Islam di awal-awal dakwah Rasul. Mereka inilah kader-kader awal penopang perjuangan Islam.

Transfer ilmu menjadi kebutuhan krusial menuju terciptanya peradaban Islam. Untuk melahirkan generasi penerus yang berkualifikasi ilmiah dan skill tinggi, generasi awal-awal Islam melakukan aktivitas pembelajaran bagi anak-anak mereka di tempat yang kemudian dikenal sebagai kuttab. Di institusi inilah proses pewarisan ilmu-ilmu Islam terjadi.

Adanya istilah kuttab dalam literatur Islam awal menunjukkan bahwa institusi ini telah ada sejak abad pertama Islam. Bahkan, bangsa Arab pra-Islam pun telah mengenalnya. Pendidikan di kuttab pada awalnya lebih terfokus pada materi kaligrafi, baca tulis sastra, gramatika bahasa Arab, syair Arab dan pembelajaran berhitung. Namun, setelah datang Islam materinya ditambah dengan materi baca-tulis al-Quran dan memahami hukum-hukum Islam. Siswa-siswanya berasal dari berbagai lapisan sosial ekonomi, baik anak-anak dari orang yang merdeka maupun budak. Diriwayatkan bahwa Ummu Sulaim, ibunda ahli hadits Anas bin Malik (w. 93 H) pernah meminta guru di sekolah ini (mu’allim kuttab) untuk mengirimkan beberapa anak lelaki guna membantunya membuat wol, tetapi bukan yang berasal dari kalangan merdeka.

 

Pendidikan Dasar Spektakuler

Kuttab atau disebut juga maktab, secara harfiah berasal dari kata kerja dasar ka-ta-ba yang artinya menulis. Sedangkan Kuttab atau maktab secara istilah berarti tempat untuk menulis atau tempat di mana dilangsungkan kegiatan tulis-menulis. Kebanyakan para ahli sejarah pendidikan Islam sepakat bahwa keduanya merupakan istilah yang sama dalam arti lembaga pendidikan Islam tingkat dasar yang mengajarkan membaca dan menulis, kemudian meningkat kepada pengajaran al-Quran dan pengetahuan agama tingkat dasar. Namun, ada pula yang membedakannya dengan menyebut maktab sebagai istilah untuk zaman klasik, sedangkan kuttab adalah istilah untuk zaman modern.

Para sahabat Nabi Saw, yang pandai baca tulis memanfaatkan lembaga kuttab itu untuk keperluan mengajarkan keterampilan menulis dan membaca ayat-ayat al-Qur'an kepada anak-anak. Dalam kisah diceritakan bahwa Rasulullah Saw memerintahkan Al-Hakam bin Said untuk mengajarkan al-Quran dan baca-tulis pada sebuah kuttab di Madinah. Ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan jenis kuttab ini telah menjadi perhatian Rasulullah untuk menunjang keberhasilan dakwahnya.

Pendidikan jenis kuttab ini pada mulanya diadakan di rumah-rumah guru. Setelah Nabi Saw dan para sahabat membangun masjid, barulah ada kuttab yang didirikan di samping masjid. Selain itu ada juga kuttab yang didirikan terpisah dari masjid. Masa belajar di kuttab tidak ditentukan, bergantung kepada keadaan murid. Anak didik yang cerdas dan rajin, akan lebih cepat menamatkan pelajarannya. Sebaliknya anak yang malas akan memakan waktu yang lama untuk menamatkan pelajarannya. Sistem pengajaran di kuttab ketika itu tidak berkelas. Para murid biasanya duduk bersila dan berkeliling menghadap guru.

Maktab atau kuttab memang merupakan lembaga sekolah tingkat dasar. Kendati demikian, catatan sejarah membuktikan bahwa berbagai materi yang diajarkan di lembaga ini lebih tinggi tingkatannya daripada yang diajarkan di sekolah dasar yang dikenal saat ini. Di samping sebagai sekolah dasar dan menengah, lembaga ini berfungsi juga sebagai perguruan tinggi, tempat para alumninya dapat melanjutkan pendidikan secara otodidak, mengabdi kepada seorang guru, atau hidup di tengah-tengah masyarakat, sambil mengumpulkan bahan-bahan sejarah serta memperkaya perbendaharaan pengetahuan mereka dengan syair dan prosa Arab klasik.

 

Menjangkau Setiap Negeri

Sampai pada abad ke-2 H, lembaga kuttab ini semakin banyak didirikan oleh kaum Muslimin atas prakarsa mereka sendiri, dalam arti lepas dari campur tangan pemerintah. Di masa ini pula kuttab tersebar merata di setiap negeri, sehingga karakteristik kuttab sebagai lembaga pendidikan yang terbuka sangat menonjol, dalam arti siapa saja bisa memanfaatkannya sebagai sarana untuk menimba ilmu pengetahuan Islam. Orang kaya dan miskin mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar di kuttab. Hal ini terjadi karena kuttab tidak dikomersialisasikan. Para pengajar pun pada umumnya tidak mencari penghidupan di kuttab, mereka mengajar tanpa bayaran. Memang ada di antara mereka yang menerima upah, tapi umumnya tidak seberapa memberatkan orang tua murid.

Pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan model kuttab mengalami kemajuan pesat karena didukung oleh semangat kaum Muslim dalam menyebarkan agama Islam. Sejarah mencatat bahwa tradisi tulis baca di kalangan kaum Muslim yang ditanamkan melalui kuttab ini telah berjasa dalam mentransfer berbagai ilmu pengetahuan sehingga generasi Islam berikutnya dapat mengenal ajaran-ajaran Islam secara lebih baik. Maktab dapat dijumpai di seluruh pelosok dunia muslim, termasuk Spanyol dan Sisilia di daratan Eropa. Seorang pengembara, Ibnu Hawqal (w. 367 H) mendapati 300 buah maktab di kota Palermo.

Demikianlah kepedulian generasi-generasi awal Islam terhadap dunia pendidikan. Mereka berusaha mempersiapkan generasi muda demi kejayaan masa depan dengan landasan ilmu. Kesemangatan mereka untuk mempersiapkan generasi baru dengan ilmu yang berlandaskan al-Quran, mesti direfleksikan oleh kaum muslim hari ini. Seperti halnya yang dilakukan musuh Islam, kaum Yahudi, yang terus-menerus menggembleng anak-anak mereka dari segala aspek pendidikan di dalam kibbutzim, sebagai upaya mencetak kader-kader Yahudi militan yang loyal kepada agama mereka.*

Senin, 04 Mei 2009

Islamic Poems

Love of Allah
Imam Ibnu Qayyim al Jawziyyah


The love of the Beloved
must be unconditionally returned.

If you claim love
yet oppose the Beloved,
then your love is but a pretence.
You love the enemies of your Beloved
and still seek love in return.

You fight the beloved of your Beloved.

Is this Love or the following of shaytaan?

True devotion is nothing
but total submission
of body and soul
to One Love.

We have seen humans claim to submit,
yet their loyalties are many.

They put their trust here, and their hope there,
and their love is without consequence.





To A Non-Muslim Woman

When you look at me
All that you can see
is the scarf that covers my hair
My words you can't hear
because you're too full of fear,
mouth gaping, all you do is stare

You think it's not my choice
in your own "liberation" rejoice.
You think I'm uneducated,
trapped, oppressed and subjugated,
You're so thankful that you're free.

But non-Muslim woman you've got it wrong
You're the weak and I'm the strong.
For I've rejected the trap of man.
Fancy clothes - low neck, short skirt
those are devices for pain and hurt.
I'm not falling for that little plan.

I'm a person with ideas and thought.
I'm not for sale, I can't be bought.
I'm me - not a fancy toy,
I won't decorate anyone's arm,
nor be promoted for my charm.
There is more to be than playing coy.

Living life as a balancing game - mother,
daughter, wife, nurse, cleaner, cook, lover
and still bring home a wage.
Who thought up this modern "freedom"?
Where man can love'em and man can leave'em.
This is not free, but life in a cage.
Always jumping to a male agenda
competing on his terms.
No job share, no creche facilities,
no feeding and nappy changing amenities
No time off for menstrual pain,
"hormones" they laugh "what a shame"
No equal pay equal skill
your job they can always fill.
No promotion unless you're sterilised.
No promotion unless you're sexually terrorised.
And this is liberation?

Non-Muslim woman you can have your life.
Mine - it has less strife.
I cover and I get respected,
surely that's to be expected,
for I won't demean the feminine,
I won't live to male criterion,
I dance to my own tune
and I hope you see this very soon.
For your own sake - wake up and use your sight.
Are you so sure that you are right?

From a Muslim Woman




From Abu AbdurRahmaan (ilm-net maintainer

As-salaamu `alaykum wa-rahmatu llaah.

Here is a poem which was forwarded to me by brother Umair Qadeer
Razak Mohamed Lazim
May Allah help us to act on the Qur'aan.


LAMENT OF THE QURAN

As an ornament do they adorn me,
Yet they keep me and sometimes kiss me.
In their celebrations they recite me,
In disputes they swear by me,
On shelves do they securely keep me
Till another celebration or dispute,
When they need me.

Yes, they read me and memorize me,
Yet only an ornament am I..
My message lies neglected,
My treasure untouched,
The field lies bare, where blossomed once true glory.
Wrong is the treatment I receive
So much to give I, but none is there to perceive.



From: Huda Aljunied[SMTP:aljunied@hotmail.com]

I am a Muslim
==============
I am a Muslim
And God I praise
For all His blessings
My voice I raise
In one God I believe
No equal has He
Lord of the universe
Compassionate to me
Muhammad the prophet
Taught me the way
To be honest and truthful
Throughout every day
The holy Qur'an
To life is my guide
It's teachings I follow
By it I abide
Islam my religion
Preaches good deeds
Mercy and kindness
To the right path it leads
Upon all humanity
God showers His grace
Regardless of colour
Nationality or race
Through working together
Our hopes increase
To live in a world
Full of love and peace
I am a Muslim
And God I praise
For all His blessings
Myvoice I raise

Anonymous



Pearls from Rasulullah

"Read the Qur`an, for it will come as an intercessor for its reciters on the Day of Resurrection." [Muslim]

"The best amongst you is the one who learns the Qur`an and teaches it." [Al-Bukhari and Muslim]

"Verily, Allah elevates some people with this Qur`an and abases others." [Muslim]

"He who does not memorize any part of the Qur`an he is like the ruined house." [At-Tirmidhi]

"Any group of people that assemble in one of the Houses of Allah to study the Qur`an, tranquillity will descend upon them, mercy will engulf them, angels will surround them and Allah will make mention of them to those (of angels) in His proximity." [Muslim]

"The parable of one who knows the Qur`an by heart is as the parable of an owner of hobbled camel. If he remains vigilant, he will retain it; and if he neglects it, it will go away." [Al-Bukhari and Muslim]

Minggu, 03 Mei 2009

Syaikh Yusuf al-‘Uyairi

Syaikh Yusuf al-‘Uyairi
“Bodyguard” Usamah Bin Ladin

oleh: Hafizh Assami


Nama panjang beliau adalah Abu Muhammad Yusuf bin Shalih bin Fahd al-‘Uyairi. Lahir pada hari Senin tanggal 1 Rabi’ul Akhir 1394 H. Dari pernikahannya dengan seorang wanita dari keluarga Ash Shaq’abi, yang merupakan saudari kandung dari istri Syaikh Sulaiman al-‘Ulwan, beliau dikaruniai tiga orang putri.

Setelah banyak menikmati keindahan dunia jihad, pada usia yang baru 30 tahun, Allah memanggil beliau untuk menghadap-Nya. Beliau syahid --insya`allah-- di tangan tentara Saudi.

Syaikh Yusuf remaja menyelesaikan sekolah menengah pertama (tingkat Mutawasithah). Belum lagi sampai satu semester mengenyam pendidikan di bangku Tsanawiyyah (tingkat SMA), beliau meninggalkan studi demi menyambut hangat riuhnya jihad di bumi Afghanistan. Beliau menginjakkan kaki di daratan tandus Afghanistan sebagai pemuda perkasa yang masih sangat belia. Di tanah para mullah itulah jihad bertaut dalam hatinya dan mengisi ruang jiwanya.

Beliau dikaruniai Allah otak yang jenius, pandangan yang tajam dan hafalan yang kuat. Sehingga, tidak mengherankan jika beliau menjadi salah satu instruktur di Kamp Pelatihan Al Faruq pada masa perang Afghanistan pertama melawan Uni Soviet.


Ensiklopedia Berjalan

Orang-orang yang pernah merasakan ber-mu’asyarah dengan Syaikh Yusuf menceritakan betapa hafalan beliau yang sungguh mengagumkan mengenai berbagai persenjataan dan data-data yang sangat mendetail tentang seluk-beluk senjata-senjata tersebut. Selain itu, beliau juga memiliki kesabaran yang luar biasa di saat menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berbagai pertempuran yang membuat Allah memuliakan beliau lantaran taburan debu fie sabilillah yang menghias kedua kaki beliau.

Dengan segala kelebihan yang melekat pada diri beliau, Syaikh Usamah bin Ladin --hafizhahullah-- mendaulat beliau menjadi pengawal pribadi. “Job” baru itu beliau emban setelah ambruknya kedigdayaan pasukan Beruang Merah Uni Soviet.

Di samping Afghanistan, Syaikh Yusuf juga menyambangi bumi jihad Somalia saat mengusir tentara Amerika. Untuk Chechnya dan Bosnia, beliau juga tidak mengabaikan. Penggalangan dana dari Arab Saudi beliau galakkan. Beliau juga memfasilitasi mujahidin yang akan berangkat ke Bosnia. Sumbangan ide pikiran cemerlang yang tertuang dalam poin-poin strategi dan tak-tik tempur, beliau alamatkan kepada Jendral Khathab di pegunungan dingin Kaukasus.

Bak sesosok manusia dengan multi-talenta, Syaikh Yusuf menggenapi khidmatnya di dunia jihad lewat mata pena. Berbagai buku beliau tulis dengan tujuan inti untuk membela kehormatan kaum Muslim dan mengharumkan nama mujahidin yang ada di tapal batas (ahluts tsughur). Tulisan-tulisan beliau itu tersebar luas melalui situs Markaz Ad Dirasat dan bisa diakses pula dalam forum-forum umum di internet.

Beliau dikaruniai Allah dengan ungkapan yang sangat mendalam, sabar dan ulet yang menjadikan beliau tidak henti-hentinya memproduksi tulisan-tulisan syar’i dan analisa-analisa politik.

Ada seorang sahabat beliau yang memberikan komentar demikian, “Beliau ini adalah ibarat esiklopedi ilmiah dalam semua persoalan. Jika beliau berbicara mengenai ilmu syar’i, tentu kita akan mengatakan bahwa ia adalah seorang ulama’ yang faqih. Dan apabila beliau berbicara mengenai persoalan politik, pasti kita akan mengatakan bahwa ia adalah seorang politikus yang handal. Selain itu, beliau juga memiliki perhatian pada ilmu komputer dan programming. Beliau juga menguasai ilmu-ilmu militer layaknya seorang komandan yang cerdik. Beliau juga menguasai topografi, teknologi dan elektronik.”

Syaikh Yusuf adalah figur pribadi yang menyandang kelembutan hati, perasaan sensitif dan mudah melelehkan air mata. Khususnya apabila bercerita tentang mujahidin dan pengorbanan di jalan Allah. Apabila beliau menyampaikan nasehat terdengar suara tangis dan khusyu’, terutama ketika mengingatkan tentang Allah, akhirat, jihad dan mati syahid di jalan-Nya.

Beliau mengungkapkan, kita harus menjelaskan kepada manusia bahwa jihad itu tidak lain adalah usaha untuk merealisasikan tauhid dan mewujudkan konsekuensi-konsekuensi kalimat syahadat Laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah. Kita harus ikat manusia dengan perkara ini supaya dari satu sisi mereka mengetahui pentingnya jihad, dan dari sisi yang lain agar mereka tetap teguh di jalan ini.

Untuk hal yang satu ini, beliau rahimahullah sering mengulang taushiyah dengan perkataan Syaikh Abdullah Azzam, “Gambaran yang engkau bawa ke medan jihad lain dengan gambaran yang engkau bawa pulang dari medan jihad.” Maksudnya, sekelompok orang berangkat berjihad hanya karena terdorong oleh luapan emosi setelah menyaksikan penyiksaan terhadap kaum Muslim dan penodaan kaum wanita. Emosi semacam ini memang bagus. Namun, alangkah lebih baik jika motivasi yang menggerakkan langkah mereka pergi berjihad adalah kesadaran dan keyakinan mendalam akan fardhunya menapaki jalan ini yang berjalinan sinergi dengan aqidah tauhid, serta komitmen mempropagandakan jihad di tengah-tengah umat untuk membangun daulah yang merealisasikan jihad.


Nominator Black List

Belum pula sempat puas menghirup udara bebas setelah dipenjara dengan tuduhan terlibat pemboman di Khabar, Arab Saudi, pemerintah Saudi buru-buru mencantumkan nama beliau dalam black list atas instruksi Amerika Serikat.

Mereka memburu beliau selama satu tahun lebih. Namun beliau menolak menyerah dan menghinakan diri dalam persoalan aqidah yang krusial. Selama itu, beliau jarang sekali beristirahat. Kadang-kadang tidak tidur sampai beberapa hari. Dengan senjata siap di tangan, beliau selalu siaga dan waspada siang malam.

Beliau pernah mengatakan kepada seorang temannya, “Akhi (saudaraku), kita ini bukan orang yang lebih mulia daripada para sahabat Rasul SAW. Hal mana mereka hidup di Madinah diliputi rasa takut dan was-was, hingga berkata,

‘Wahai Rasulullah, tidak ada pada diri kami selain perasaan takut, sementara masing-masing kita senantiasa memanggul pedang di atas pundaknya.’”

Beliau menghibur diri dengan kondisi para sahabat ridhwanullahu ‘alaihim. Hingga tibalah hari penuh berkah itu. Sabtu malam, 30 Rabi’ul Awal 1424 H, di daerah Hail, Allah mengabulkan cita-cita beliau dalam sebuah perlawanan yang maksimal. Beliau lebih memilih gugur di jalan Allah daripada ditawan oleh rezim Saudi. Allâhumma alhiq-hu bi Qâfilah asy-Syuhadâ’ . [Diadaptasi dari arrahmah.com]

Inspiring Words

"Ketika aksara memendam kuasa, kenapa kita biarkan ia lari berkelana..."

Remember:
"Anak-anak 'kiri' itu, mereka menyusun karya tulis setebal 1,7 m! Bukan main!!" (fizh)

"Hati-hatilah pada setiap amal yang dilakukan, syetan selalu memanfaatkan sisi kelemahan." (Joe)

"Orang yang bijak adalah mereka yang selalu menasehati dengan ikhlas. Tanpa pamrih. Dan rendah hati. Dan tidak menyembunyikan apa-apa yang nilainya baik. Termasuk kejujuran diri." (Joe)

"Kau adalah singa muda Islam yang cendekia, brilliant. Buktikan kepada dunia!!!" (someone)

"The Jihad is in need of money, and men is in need of Jihad!" (Abdullah Yusuf Azzam)

"Know yourself and decide what you want most of all to make out of your life. Then write down your goals and plan to reach them." (Money Making; Secrets of the Milionaires, p. 25)

"Pandangan negatif-mu terhadap dirimu sendiri menyebabkan kerendahanmu. Pandangan positif-mu terhadap dirimu sendiri menyebabkan kesuksesanmu."

"Jangan engkau rendahkan cita-citamu. Sesungguhnya aku tidak melihat orang yang lebih malas daripada orang yang rendah cita-citanya." (Umar bin Khathab)

"Mengapa kita tidak belajar mengenai hidup dari pohon pisang...Pohon pisang tak rela mati sebelum mampu berbuah, dan tak akan ikhlas berbuah sebelum tumbuh tunas di sampingnya..."

"Nothing goes by luck in composition. It allows of no tricks. The best you can write will be the best you are."

"Reading makes a full man; talking, a ready man; writing, an exact man."

"Practice makes perfect."

Remember:
"SO MANY BOOKS, SO LITTLE TIME !!!"


"Semakin sering orang menulis, dan semakin sering pula orang memikirkan tulisannya, semakin bagus jualah tulisannya." (Dean Koontz)

"Join with the atqiya`, the abriya`, and the akhfiya`." (Ust. Umar Faqihuddin)

“Prinsip pertama saya dalam hal menulis adalah membebaskan diri. Ini berarti, saya harus membebaskan diri saya dari hal-hal apapun. Agar kata-kata dari dalam diri saya dapat keluar dan kemudian tersusun menjadi kalimat-kalimat bermakna, sya harus menganggap diri saya seorang diri pada saat menulis.”__Hernowo, ABISP

“Aku, sejak pertama menulis, mencoba berpegang pada prinsip yang aku anggap cukup ideal untuk diriku. Prinsip itu terangkum dalam akronim RAW (mentah)-WAR (perang); Kepanjangannya ialah Read, Analyze, Write.”__Herliawan Setiabudi

"Jika kau mengekor langkah orang lain, kau akan kehilangan masalah-masalah yang sesungguhnya sangat berharga jika kau pecahkan sendiri."__[Shadow Divers, p. 134]

"Keistimewaan itu lahir dari persiapan, dedikasi, konsentrasi, dan kegigihan; jika kau kompromikan salah satunya, kau akan jadi orang kebanyakan."__[Shadow Divers, p. 134]

"Periksa segala sesuatu; tidak semua hal seperti yang terlihat atau seperti yang dikatakan orang lain kepadamu."__[Shadow Divers, p. 134]

"Tetapi aku punya sesuatu yang istimewa, yaitu keberanian. Menjadi Pangeran Pemberani lebih aku sukai daripada jadi Pangeran Rupawan, karena aku harus punya keberanian."__[Shadow Divers, p. 117]

"Yang paling penting, Chatterton tak pernah mau menyerah." [Shadow Divers, p. 143]

"Kakek mereka membela kehormatan dirinya sebagai lelaki sejati." [Shadow Divers, p. 116]

"Kakek mereka itu menghargai keunggulan dan kegigihan, dan bahwa kehidupan bisa jadi tak terbatas bagi orang-orang bercita-cita tinggi dan tak pernah menyerah." [Shadow Divers, p. 117]

"Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya."

"Kasih ibu, bagai sang surya menyinari dunia. Hanya memberi tak harap kembali."

"I'm the equal of any man, I have within me the capacity to achieve whatever I desire, and I intend to do just that."

"So, declare war, rigt now, on your negative thoughts. As quickly as you do, you'll find that your fear of the future, of insecurity, of defeat, will rapidly dissipate."

"False beliefs, negative thinking, are based upon doubt and fear. And there is no realistic reason why you should be a victim of them."

"The winners override fear and doubt!"

"Do more than you get paid for and soon you'll be paid for more than you do!"

"Air. Menyesuaikan bentuknya ke manapun ia bergerak dalam alirannya, menyingkirkan batu-batuan yang menghalangi, memuluskan batu-batuan besar. Ia tidak pernah berhenti, ia tidak pernah sama. Semakin cepat ia bergerak, semakin jernihlah ia jadinya."

"Jangan pernah menjelaskan kepada orang-orang Anda, cara melakukan segalanya. Jelaskan saja apa yang harus dilakukan maka mereka akan mengejutkan Anda dengan orisinalitas mereka."

"Rayap. Dari dalam struktur rumahnya, diam-diam rayap memakan kayunya, pasukannya dengan sabar menembus tiang dan penopang. Pekerjaan mereka tidak ketahuan, namun hasil karya mereka pasti dahsyat."

"Menaklukkan bukanlah apa-apa. Kita harus untung dari sukses kita."

"Matahari. Ketika matahari terbenam di bawah cakrawala, ia meninggalkan berkas cahaya cemerlang yang layak dikenang. Kembalinya matahari selalu dinantikan."

"Bumi dan langit begitu luas. Apa yang ditakdirkan oleh-Nya..."

"Sebuah kaum yang generasinya berbondong-bondong memburu syahadah. Tak kenal kata kalah, menyerah." (Khalid bin Walid)

"Menulis adalah tradisi para ulama. Lestarikan budaya menulis sebagai wujud peneladanan terhadap mereka." (Herliawan Setiabudi, The Compilation of Wise Words)

"KEKACAUAN-adalah tempat lahirnya IMPIAN CEMERLANG." (I Ching)

"Dinding. Lawan Anda berdiri di balik sebuah dinding, yang melindungi mereka dari orang asing dan penyusup. Jangan membenturkan kepala Anda ke dinding tersebut atau mengepungnya; temukan pilar dan penopang yang menjadikan dinding tersebut berdiri dan yang memberinya kekuatan. Galilah di bawah dinding tersebut, rusak fondasinya hingga dinding tersebut ambruk dengan sendirinya."

"Ia selalu mengikuti perkembangan zaman dan turut berubah sesuai perubahan zaman. Yang bertahan adalah prinsip yang teguh, hukum batiniah keberadaannya, yang menentukan segala tindakannya." (I Ching)

"Kalau ada cita-cita yang layak dibidik, seharusnya kita bercita-cita menjadi seorang pejuang strategis, pria atau wanita yang mengelola situasi-situasi sulit dan orang-orang sulit melalui manuver yang cerdik dan cerdas."

"Dalam menghadapi lawan cerdik yang juga menggunakan strategi, berkembanglah tekanan ke atas: untuk meraih keunggulan, seorang jenderal harus lebih strategis lagi, lebih tidak langsung dan lebih cerdik lagi, daripada pihak lawan."

"Para pemimpin militer menemukan bahwa semakin mereka berpikir dan membuat rencana di depan, semakin besar kemungkinan mereka sukses."

الصبر مر في مذاقته ولكن عواقبه أحلى من العسل

Ahmad Yasin

Ahmad Yasin
Syaikh Intifadhah Palestina

oleh: Hafizh Assami


"Hilangnya Palestina ke tangan Yahudi pada tahun 1948 M disebabkan oleh gejala stagnasi umat. Dan solusinya adalah membangun kembali kesatuan dan kekuatan siyasah Islamiyah (politik Islam) agar semua rezim sekuler yang ada dapat diruntuhkan dan diganti karena sangat tidak islamis dan anti-Islam."


Masa Kecil

Syaikh Ahmad Ismail Yasin, atau yang lebih familiar dengan nama Ahmad Yasin, lahir pada tahun 1938 M di sebuah Hamlet kecil (perumahan miskin di pedesaan) di al-Jaurah (kini telah musnah), di pinggiran daerah al-Mijdal, selatan Jalur Gaza dekat kota Ashkelon, Palestina.

Pada waktu kecil, beliau dijuluki dengan nama Ahmad Sa'dah. Nama ini diambil dari ibunya yang bernama Sa'dah Abdullah Al-Hubael. Hal ini dimaksudkan untuk dapat membedakan nama Ahmad yang banyak dipakai di keluarga Yasin. Sedangkan sang ayah telah wafat ketika umur beliau belum lagi genap tiga tahun.

Saat menginjak usia kurang lebih sepuluh tahun, beliau meninggalkan al-Jaurah, mengungsi bersama keluarganya ke Jalur Gaza setelah perang Israel-Palestina (Nakbah) tahun 1948 M meluluhlantakkan kampung halaman mereka. Sebelumnya, beliau sempat mengenyam pendidikan dasar sampai kelas lima.

Tak jauh beda dengan pengungsi Palestina lainnya, keluarga Syaikh Yasin juga merasakan getirnya kemiskinan dan kelaparan. Selama masa 1949-1950, Syaikh Yasin meninggalkan bangku sekolah. Untuk menyambung hidup tujuh orang anggota keluarganya, beliau, yang masih sekecil itu, harus bekerja sebagai salah satu pelayan restoran di Gaza. Lalu, beliau bisa melanjutkan kembali studinya yang terputus.

Di tahun 1952, ketika beranjak remaja, musibah menimpa beliau. Sebuah kecelakaan yang terjadi ketika berolahraga, membuat tulang leher beliau patah dan imbasnya menyebabkan kelumpuhan pada tangan dan kaki, yang tak kunjung pulih hingga akhir hayatnya. Sejak saat itu, beliau menjalani hari-harinya di atas kursi roda. Kendati demikian, tak pernah beliau menampakkan sikap pesimistis menghadapi ujian tersebut. Semua beliau jalani dengan penuh kerelaan.

Dengan semua keadaan ini, Syaikh Yasin menyelesaikan sekolah menengah atasnya pada tahun 1957-1958 M. Bahkan, kelumpuhan yang beliau alami itu tak bisa meredupkan semangat studi beliau. Tebukti, di tahun 1959 M, tekad baja beliau menuntunnya sampai ke Mesir untuk beberapa lama belajar di Universitas Ain Syams. Di sana, beliau menerima sebuah diploma universitas.


Kontra-kezhaliman

Sepulang dari Mesir, beliau langsung mendapatkan pekerjaan. Meskipun, pada mulanya, beliau menghadapi hambatan-hambatan yang menyangkut kondisi fisik. Beliau bekerja sebagai pengajar Bahasa Arab dan Studi Islam, disamping sebagai pengkhutbah yang popular di beberapa masjid di Jalur Gaza.

Keahlian orasi Syaikh Yasin mulai tampak jelas dan melambungkan bintang baru ini ke atas langit gaza bersama para da'i lainnya. Namun hal itu justeru mengundang kecurigaan spionase Mesir yang menjadi antek-antek penjajah. Akhirnya, di tahun 1965 M beliau ditangkap bersamaan dengan penangkapan besara-besaran yang dilakukan pemerintah Mesir terhadap jama'ah al-Ikhwanu al-Muslimun (IM) sejak tahun 1954.

Hampir sebulan Syaikh Ahmad Yasin sempat mendekam dalam penjara. Kemudian dilepaskan kembali setelah semua penyelidikan membuktikan tak ada hubungan antara dirinya dengan jama'ah IM. Selama masa penahanan, beliau justeru memperoleh kesan mendalam atas dirinya yang terungkap dalam kata-kata, "Saya benci kezhaliman." Bahkan pada masa itu, beliau mendukung adanya legalitas terhadap suatu kekuasaan yang harus didirikan atas dasar keadilan dan keykinan bahwa setiap orang harus merdeka.

Pasca-kekalahan Arab dalam perang tahun 1967 M, penjajahan Israel atas tanah-tanah Palestina semakin menjadi-jadi, termasuk terhadap wilayah Jalur Gaza. Karena itu, Syaikh Yasin terus berorasi dari atas mimbar Masjid Al-Abbas di kampung Ar-Ramal, Gaza, untuk menolak para penjajah. Pada saat yang sama, beliau juga aktif menggalang dana dan bantuan bagi keluarga para syuhada dan tahanan Palestina.


'Arsitek' Hamas

Alur pemikiran jamaah IM cukup mewarnai sepak terjang 'Amir Syuhada'. Begitu sebutan yang kerap disematkan kepada beliau. Memang, sejak keberadaan Syaikh Yasin di Mesir, beliau sudah mulai berinteraksi dengan organisasi yang didirikan oleh Syaikh Hasan Al-Banna pada tahun 1928 M tersebut.

Pada tahun 1983 M, Syaikh Ahmad Yasin ditangkap rezim imperialis Israel dengan tuduhan memiliki senjata, membentuk pasukan militer dan menyerukan pelenyapan eksistensi negara Yahudi. Karenanya, beliau dihadapkan ke mahkamah militer Israel dan divonis 13 tahun penjara.

Lalu di tahun 1985 M, setelah mendekam selama belasan bulan dalam penjara rezim Israel, beliau dikeluarkan. Hal ini menyusul adanya upaya pertukaran tahanan antara pihak rezim imperialis Israel dengan PFLL (Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina).

Berbagai kondisi tak mengenakkan yang beliau alami, tak membuat langkah perjuangan beliau surut sedikit pun. Beliau bersama pejuang-pejuang lainnya berupaya mencari formula-formula baru untuk menggebrak keangkuhan serdadu-serdadu Israel. Demi tujuan itu, Hamas (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah) didirikan pada pertengahan tahun 1987. Beliau bersama Syaikh Abdul Aziz Ar-Rantisi mengarsiteki terbentuknya tanzhim ini, sebelum nantinya, di tahun 1992 M memiliki sayap militer Brigade Izzuddin Al-Qassam di bawah komando insinyur Yahya Ayyasy.

Secara organisatoris, Syaikh Ahmad Yasin memiliki peran penting dalam intifadhah Palestina yang meletus saat itu. Intifadhah pertama ini dikenal dengan nama Intifadhah Masjid. Kemudian, beliau diangkat sebagai pemimpin spiritual bagi gerakan tesebut.

Di masa-masa selanjutnya, Hamas semakin mendapatkan tempat di hati penduduk Palestina. Sebaliknya, bagi Israel, tentu sangat menyesakkan dada mereka. Organisasi ini semakin mengokohkan eksistensinya, karena dikenal tak memberikan kompromi jika berhadapan dengan Israel. Hal ini tidak mengherankan. Sebab, mereka memiliki komitmen kuat untuk mengobarkan perang melawan Yahudi dan menguak konspirasi para petinggi gerakan Zionis yang termaktub dalam Protocols of the Elders of Zion. Cita-cita mulia pejuang Hamas untuk mengangkat tinggi-tinggi kalimat Allah di bumi Palestina, membuat pamor mereka kian bersinar di dunia Islam umumnya, dan di tengah-tengah warga Palestina yang merindukan kemerdekaan.


Bahasa Senjata

Seiring perjalanan waktu, meningkatnya intifadhah dan kekuatan bersenjata terlihat dari kemampuannya melaksanakan aksi-aksi bersenjata. Misalnya, menyandera dua serdadu Israel tahun 1989 M. Imbas aksi ini, Syaikh Yasin ditangkap pada tanggal 18 Mei 1989 M bersama dengan ratusan anggota Hamas lainnya.

Melihat kedudukan Syaikh Yasin yang begitu kharismatik di mata anggota-anggotanya, membuat sebuah satuan pasukan berani mati (fida`iy) dari Brigade Izzuddin Al-Qassam menculik seorang serdadu Israel pada 13 Desember 1992 M. Al-Qassam menuntut pelepasan serdadu Israel tersebut dengan kompensasi pembebasan Syaikh Ahmad Yasin dan beberapa tawanan Arab yang ditangkap militer Israel di Lebanon. Namun Israel menolak tuntutan tersebut, bahkan balik melancarkan serangan ke lokasi penahanan sehingga menyebabkan kematian serdadu tersebut berikut seorang komandan kesatuan pasukan Israel yang melakukan aksi penyerangan saat itu. Sedangkan semua sukarelawan Brigade al-Qassam, yang berada di dalam rumah berlokasi di desa Beir Nebala --dekat Jerusalem--, itu menemui syahid. Allahu Akbar!

Hingga, pada tanggal 1 Oktober 1997 M Syaikh Yasin dibebaskan dari penjara setelah Raja Husein dari Yordania meminta dengan tegas kepada pemerintah Israel ketika PM Benyamin Netanyahu menekan Yordania menyerahkan dua agen Mossad yang ditangkap pemerintah Yordania setelah gagal dalam usaha pembunuhan di Amman terhadap Khalid Misy'al, kepala Biro Politik Hammas di Amman.

Kehadiran beliau, telah dinanti-nanti oleh penduduk Palestina. Kemudian, beliau berupaya memulihkan dan membenahi kembali bangunan struktur Hamas setelah diobrak-abrik oleh pihak otoritas Palestina. Yasser Arafat melakukan hal itu atas tekanan pihak Israel dan Amerika Serikat. Hamas mengambil sikap berseberangan dengan pihak otoritas Palestina yang terkesan sangat kooperatif terhadap Israel.

Secara tegas, Syaikh Yasin menolak perjanjian Oslo yang beliau pandang sebagai sebuah "penyerahan yang memalukan" dan "suatu penipuan besar". Pasalnya, selepas ditandatanganinya perjanjian tersebut, pembangunan intensif pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta aneksasi Zionis-Israel atas lahan-lahan warga Palestina, kian jauh melampaui batas toleransi. Di mata warga Palestina, dengan bukti-bukti nyata ini, pandangan Syaikh Yasin semakin kuat mendapat pembenaran. Persaingan visi dan ketokohan Syaikh Yasin dengan Arafat, mengakibatkan ruang gerak beliau dibatasi. Bahkan, tahanan rumah pun kerap kali diberlakukan terhadap beliau dan hubungan komunikasi beliau selalu dipantau secara ketat.

Bagaimanapun juga, kerenggangan hubungan Hamas dan otoritas Palestina sangat menguntungkan Israel. Syaikh Yasin tetap berhati-hati agar tidak terjadi friksi berulang-ulang dengan pihak otoritas Palestina. Sebab ada agenda dan upaya-upaya Israel untuk menggiring agen-agen keamanan otoritas Palestina untuk memunculkan konflik internal di tubuh masyarakat sipil Palestina.

Untuk menghadapi Israel, Hamas teguh pada pendirian bahwa kebebasan harus diperjuangkan, bukan hadiah atau pemberian, dan yang dirampas dengan kekuatan hanya bisa direbut kembali melalui kekuatan.

Oleh karenanya, Hamas mempertahankan operasi-operasi martir melalui aksi istisyhadiyah. Aksi-aksi bom syahid tersebut diarahkan kepada target-target militer, bukan kepada penduduk sipil. Melalui pengalaman panjang berinteraksi dengan Israel, Hamas faham betul bahwa Israel hanya mengerti bahasa senjata. Segala perundingan dan perjanjian hanya isapan jempol. Ajakan Hamas untuk menghentikan semua serangan kepada rakyat sipil, baik Israel maupun Palestina, ditolak mentah-mentah. Intinya, kaum Zionis mengacuhkan semua inisiatif ke arah perdamaian.


Problem-solver

Di luar aktivitas perjuangan beliau bersama Hamas, nama Ahmad Yasin erat dengan masalah-masalah perdamaian hubungan antar manusia. Seorang pekerja di Dewan Islah (Perdamaian), rintisan Syaikh Yasin, memberikan kesaksian, "Prioritas utama Ahmad Yasin ialah mendamaikan manusia. Rakyat Palestina banyak yang meninggalkan institusi pengadilan dan beralih kepadanya untuk menyelesaikan masalah mereka."

Menariknya, Syaikh dikenal sangat ramah dan terbuka. Setiap hari pintu rumahnya tak pernah ditutup. Siapapun boleh masuk untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Terutama kaum papa (dhuafa). Bahkan semua kelompok mana pun, di dalam masyarakat Palestina, tanpa sungkan menemui beliau. Sebab, Syaikh dipercaya dapat menyelesaikan masalahnya secara adil dan fair. Lantaran hal itu, banyak warga sipil menarik berkas perkaranya yang berada di pengadilan atau dari seorang pengacara, dan kemudian membawanya ke Syaikh Yasin untuk memperoleh penyelesaian.


Intifadhah Al-Aqsha

Partisipasi aktif Hamas dalam intifadhah Al-Aqsha yang meletus pada akhir September 2000 M, menyulut gelora perlawanan Palestina. Terutama, setelah penataan ulang struktur oganisasi Hamas, dan ditopang oleh adanya sayap militer.

Israel makin berang. Negara Yahudi itu lalu menjalankan program 'kampanye keliling dunia' untuk menyebar provokasi agar negara-negara dunia memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris dan memutus aliran dana dengan membekukan rekening anggota-anggotanya. Propaganda ini disambut hangat oleh negara-negara Uni-Eropa, yang pada tanggal 6 September 2003 secara resmi memasukkan Hamas berikut biro politiknya sebagai organisasi teroris.

Eksistensi Hamas dengan aksi-aksi spektakulernya, tak lepas dari sosok seorang Ahmad Yasin. Karena dinilai sangat berbahaya, pihak kolonial Israel beberapa kali berusaha membunuh Syaikh Yasin secara langsung. Pada tanggal 6 September 2003 M, sebuah rudal dilepaskan pesawat tempur Israel ke rumah salah seorang tokoh Hamas, Ismail Haniyyah, namun beliau selamat dalam aksi percobaan pembunuhan ini.
Senin (22 Maret 2004), keheningan fajar dibuyarkan oleh ledakan dahsyat. Suaranya menggema ke seantero langit Gaza. Tiga buah roket diluncurkan Israel melalui helikopter Apache ke arah Syaikh Yasin serta dua orang pengawalnya, seusai menunaikan shalat shubuh di masjid Ja'ma Islami. Peristiwa itu menandai berakhirnya kiprah Syaikh Ahmad Yasin dalam perjuangan Palestina. Beliau pergi menemui Rabb-nya setelah menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah perjuangan umat Islam. Dalam serangan brutal itu, beberapa orang lainnya pun turut menjadi korban, termasuk dua orang putra Syaikh Yasin, yang mengalami cedera cukup serius. Atas karunia Allah, kuatnya ledakan tak mampu mengoyak jasad Syaikh Yasin.

Hari itu, warga Palestina dan umat Islam sedunia berkabung. Iring-iringan warga membanjiri jalan-jalan kota Gaza. Awan gelap dari asap bangkai kendaraan yang terbakar menyelimuti udara Gaza. Seolah, turut berbelasungkawa atas kepergian sang 'Amir Syuhada'.

Kecaman terhadap Israel datang silih berganti dari berbagai kalangan, media massa, oraganisasi dan lembaga-lembaga Islam dunia. Perwakilan Saraya Al-Quds, sayap militer organisasi perlawanan Jihad Islam, memberikan pernyataan, "Saraya Al-Quds memberitahukan kepada bangsa Palestina, Arab dan Islam tentang syahidnya salah satu pemimpin bangsa kita, Arab dan Islambersama dengan enam penduduk Palestina pada Senin, 1 Shafar 1425 H, yang bertepatan dengan 22 Maret 2004 M, akibat serangan Israel di kota Gaza. Kami menyampaikan selamat dan keberkahan kepada seluruh bangsa kami. Kami mengucapkan, tidak ada ratap tangis untuk orang seperti Syaikh Ahmad Yasin dan para syuhada yang meninggal bersamanya. Mereka hidup dan kita mati. Merekalah yang mengembalikan ruh bangsa ini, saat mereka menebus dengan ruhnya."

Nama harum Syaikh Ahmad Ismail Yasin, akan dikenang sepanjang masa oleh rakyat Palestina dan dunia. Khutbah-khutbah pembakar semangat beliau, akan tetap menggugah spirit jihad kaum Muslim di seluruh penjuru bumi.*[]

Syamil Salmanovich Basayev

Syamil Salmanovich Basayev
Pahlawan Kaukasus

oleh: Hafizh Assami


“Seorang Mujahid faham bahwa eksistensi musuh merupakan alat uji untuk menakar kadar keimanan, tekad, keteguhan, kesabaran, dan mengasah kemampuannya dalam mengambil keputusan. Musuh mendorongnya berperang, demi menjalankan tugas di hadapan Allah.”


Dari Imam Ke-3

Syamil Salmanovich Basayev lahir 14 January 1965, di desa pegunungan Vedeno, kawasan tenggara Chechnya. Sejak 2003, Basayev dikenal sebagai Amir Abdullah Syamil Abu Idris. Namanya diambil dari Imam Syamil, ulama-mujahid yang hidup antara tahun 1797-Maret 1871. Ia merupakan pemimpin suku-suku Muslim yang tinggal di Kaukasus Utara, sekaligus pengobar gerakan anti-Rusia yang melawan penjajahan kekaisaran Rusia, di abad-19 itu. Ia menjabat sebagai imam ke-tiga bagi masyarakat Muslim Dagestan dan Chechnya selama kurun waktu dua puluh lima tahun, dari 1834 sampai 1859.

Syamil Basayev menyelesaikan semua jenjang sekolah dasar dan menengahnya di Dyshne, Vedeno, tahun 1982. Masa dua tahun selanjutnya beliau lalui di dinas kemiliteran Soviet sebagai anggota tim pemadam kebakaran. Empat tahun berikutnya bekerja di lahan pertanian Aksaiisky, Volgograd, selatan Rusia, sebelum akhirnya memutuskan pergi ke Moskow. Beliau mendaftar studi pada Fakultas Hukum di The Moscow State University, namun gagal. Akhirnya diterima di The Moscow Engineering Institute of Land Management tahun 1987. Berselang satu tahun kemudian, beliau meninggalkan bangku kuliah dan bekerja sebagai salesman komputer.

Syamil Basayev pertama kali dikenal dunia pada tahun 1991. Waktu itu, setelah presiden Jauhar Dudayev memproklamirkan berdirinya CRI (Chechen Republic of Ichkeria), lepas dari Federasi Rusia, pada bulan November 1991, Chechnya dipaksa oleh serbuan militer agar tetap berada di bawah jajahan negara adidaya itu. Tanggal 9 November 1991, Basayev bersama dua rekannya, Lom-Ali Chachayev dan Said-Ali Satuyev membajak pesawat Aeroflot Tu-154 milik Rusia yang take-off dari kota Mineralnye Vody, Rusia, dengan rute penerbangan ke Ankara, Turki. Dengan ‘sedikit’ ancaman akan meledakkan pesawat jika status emergency diumumkan, pembajakan itu sukses. Di Ankara, ‘para pembajak’ mengadakan jumpa pers untuk menjaring dukungan dan simpati masyarakat Muslim dunia dengan menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi di negeri mereka. Sebab, media massa --yang rata-rata berada di bawah kendali Barat--, tak pernah bersikap fair ketika mengekspos informasi mengenai bangsa Muslim Chechnya.

Tahun 1992 Basayev mengunjungi Abkhazia, sebuah kawasan pecahan Georgia, demi membantu Mujahidin setempat melawan pemerintah Georgia yang tetap ingin mempertahankan kontrol atas daerah itu. Di sinilah “Batalion Abkhaz” muncul, yang nantinya melahirkan tentara-tentara handal yang punya andil besar dalam Jihad Chechnya pertama.

Dari Abkhazia, Basayev bertolak ke Azerbaijan untuk bertempur bersama rakyat Muslim Azerbaijan menumpas kaum separatis Armenia. Di tempat inilah untuk pertama kalinya Basayev bersua dengan Jendral Ibnu Khathab, pemimpin Mujahidin Arab. Sepanjang karir militer bersama batalion Abkhaz di Azerbaijan, dikabarkan, beliau hanya sekali mengalami kekalahan. Yaitu, saat bertempur melawan pasukan Dashnak di sebuah tempat bernama Karabakh. Setelah meninggalkan Azerbaijan, beliau dikabarkan berada di Afghanistan menjalin kontak dengan Mujahidin al-Qaeda pimpinan Syaikh Usamah bin Ladin.

Jihad Chechnya I

Perang Chechnya periode pertama dimulai sejak invasi Rusia untuk menumbangkan pemerintahan Jauhar Dudayev pada 11 Desember 1994. Dengan meletusnya perang, presiden Dudayev menempatkan Amir Basayev di jajaran komandan garda depan. Amir Basayev berperan aktif dalam perlawanan itu. Namun kali ini kekuatan “Batalion Abkhaz”-nya harus bekerja ekstra keras untuk membendung kekuatan Rusia yang hendak menguasai ibu kota Chechnya, Grozny. Perang ini berlangsung sampai Pebruari 1995 dengan jatuhnya Grozny ke tangan Rusia. Pasukan Chechnya terdesak hingga ke daerah-daerah pegunungan dengan mayoritas perlengkapan dan instalasi-instalasi perang yang mereka miliki hancur. Saat itu Mujahidin Chechnya mengalami masa-masa genting. Khususnya, setelah pertempuran bulan Mei di sekitar Vedeno yang membuat jumlah personel Mujahidin terus menurun drastis. Di waktu yang hampir bersamaan, angkatan udara Rusia membombardir Dyshne, kampung halaman Basayev, dan mengakibatkan komandan Syamil kehilangan delapan orang anggota keluarga, termasuk istri dan anak-anaknya.

Dalam situasi sulit yang tetap menyelimuti, angkatan bersenjata Chechnya melakukan upaya-upaya keluar dari tekanan. Juni 1995, di bawah komando Amir Basayev, pasukan Chechnya menempuh strategi penyanderaan terhadap sebuah rumah sakit di Budyonnovsk untuk mendesak Rusia agar segera hengkang dari bumi Chechnya. Basayev dan pengikutnya akhirnya berhasil meninggalkan lokasi dengan membawa sejumlah sandera yang dibebaskan kemudian. Basayev pulang disambut sebagai pahlawan. Walaupun upaya ini tidak seratus persen berhasil, namun cukup efektif untuk sekadar memaksa pemerintahan Moskow menghentikan perang selama beberapa bulan. Masa-masa itu tidak disia-siakan oleh Mujahidin. Mereka memulihkan kekuatan dan menata ulang strategi.

Di tahun 1996 Basayev diangkat menjadi Jendral sekaligus menjabat Komandan Angkatan Bersenjata Chechnya. Pada bulan Agustus di tahun yang sama sang Amir sukses memimpin sebuah operasi merebut kembali kota Grozny. Akhirnya Rusia angkat kaki dari Chechnya setelah keletihan melayani gempuran-gempuran yang dilancarkan Mujahidin.

Desember 1996, Syamil didaulat sebagai kandidat presiden dalam pemilihan tahun itu, namun akhirnya ikhlas menerima kemenangan Ashlan Maskadov. Di awal tahun 1997 Syamil diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri oleh Maskhadov. Sejak bulan Januari 1998 Syamil memangku jabatan Perdana Menteri Chechnya. Namun enam bulan kemudian mengundurkan diri.

Bulan Agustus 1999, bersama Jendral Ibnu Khathab, Syamil meninggalkan Chechnya menuju Dagestan untuk bergabung bersama kaum Muslim di sana yang ingin segera lepas dari ikatan statusnya sebagai koloni Rusia.


Jihad Chechnya II

Tahun 2000 Basayev kembali ke Chechnya. Dengan dalih memburu Syamil Basayev dan orang-orangnya, Rusia kembali masuk ke Chechnya. Dengan demikian bendera Jihad Chechnya Jilid-2 mulai dikibarkan. Di tahun inilah kaki kanan Amir Basayev harus diamputasi setelah menginjak ranjau, ketika memandu timnya dalam satu operasi menyisiri ladang ranjau (landmine) yang ditanam tentara Rusia.

Di tahun berikutnya, memasuki Agustus 2001, penyerangan dalam skala besar diarahkan Syamil ke distrik Vedensky. Syamil Basayev masuk dalam “daftar resmi nominasi teroris” versi Dewan Keamanan PBB tahun 2003. Di tahun ini pula, tepatnya tanggal 12 Mei, sekelompok Mujahidin melakukan aksi bom syahid (istisyhadiyyah). Mereka mengendarai sebuah truk bermuatan bahan peledak, lalu menabrakkannya ke komplek gedung perkantoran milik pemerintah Rusia, di Znamenskoye, daerah utara Chechnya. Dalam peledakan tersebut diberitakan 59 orang terbunuh. Peristiwa ini seolah menyambung rantai aksi serupa di tahun sebelumnya, dimana, menurut satu sumber pemberitaan, Basayev mengklaim telah menghancurkan sebuah target bangungan berlantai empat di Grozny, melalui remote control.

Oleh kantor berita Inggris-Yahudi, Reuters, Syamil ‘dianugerahi’ sebuah gelar langka, “Jagal-nya Beslan”, merujuk pada aksi penawanan murid-murid sebuah sekolah di Beslan (Rusia), September 2004. Akibat serbuan serdadu Rusia ke sekolah itu, tercatat 331 anak dan orang dewasa tewas. Basayev sendiri, dalam pesan pribadinya, menggambarkan kejadian itu sebagai “Tragedi Mengerikan (The Terrible Tragedy)” dan itu merupakan kesalahan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Seakan tak pernah reda, spirit jihad Syamil Basayev menuntutnya terus menggadang aksi-aksi yang membuat negara penjajah, Rusia, kuwalahan. Pada pertengahan tahun 2005, bulan Mei menjadi satu barakah tersendiri bagi perjuangan Chechnya, setelah sebuah serangan besar yang dirancang Amir Basayev, mengguncang kota Moskow.

Menyusul kemudian, pada 13 Oktober di tahun yang sama, prestasi gemilang Basayev tertoreh kian indah. Penyerangan Nalchik, ibukota Kabardino-Balkaria, sebuah negara republik satelit Rusia, berakhir sukses besar. Bahkan, yang lebih membanggakan, Syamil dan “orang-orang pilihan”-nya, untuk menyelesaikan operasi ini hanya butuh waktu dua jam berada di dalam kota itu.


Pakar Militer

Ternyata, kesibukan sang Commander di parit-parit jihad tak menghalanginya untuk mengekspresikan buah pikirannya melalui tulisan. Dalam sebuah buku yang dikarangnya, Book of Mujahideen, yang dipromosikan lewat sebuah website Mujahidin Kaukasus (www.kavkazcenter.com), Syamil berbagi ilmu tentang jihad kepada publik dunia. Dalam karyanya ini, beliau berbicara banyak mengenai filosofi prinsipiil dan karakteristik seorang Mujahid, serta pengalaman-pengalaman yang mungkin menghampirinya. Lebih jauh lagi, Basayev juga mendeskripsikan ide-ide taktis dan strategis dalam format sarat seni, sesuai perspektif Islam.

Di mata para pengamat pergerakan jihad, Syamil Basayev adalah seorang pakar perang yang sudah malang melintang di dunia militer. Pegalaman yang sudah terinternalisasi dalam dirinya, bahkan teraktualisasi selama kurang lebih 15 tahun menjadi panglima angkatan bersenjata Chechnya menghadapi kepongahan Rusia, membuatnya layak untuk disebut seorang “Muslim-hero” bagi negeri Muslim Chechnya. Di ranah jihad, baik Chechnya maupun dunia, sang Amir, selain lihai di lapangan, beliau juga dikenal sebagai think-thank militer dalam operasi-operasi khusus, sabotase intelijen (intelligence-sabotage) dan taktik perang gerilya. Satu lagi, yang mungkin menjadi keahlian uniknya, Basayev mampu merancang misi-misi ofensif dalam skala besar (large-scale offensive operations) yang dijalankan oleh hanya sebuah thaifah (grup) kecil.

Sebuah pernyataan singkat Komandan Syamil, yang dirilis www.kavkazcenter.com dalam versi bahasa Inggris, mengungkapkan, “A Mujahid knows that enemies exist in order to test his Faith (Iman), his courage, his perseverance, his ability to make decisions, and his patience. The enemies are making him fight for the sake of fulfilling his duty before Almighty Allah (Seorang Mujahid faham bahwa keberadaan musuh merupakan alat uji untuk menakar kadar keimanannya, tekad, keteguhan, kesabaran, dan mengasah kemampuannya dalam mengambil keputusan. Musuh mendorongnya berperang, demi menjalankan tugas di hadapan Allah).”

Dengan aksi-aksi spektakulernya, Basayev terus mengawal perjalanan Jihad Chechnya ke-dua ini. Hussein bin Mahmoud, seorang ulama yang mendukung perjuangan Mujahidin Chechnya, mempersembahkan sebuah artikel penghargaan berjudul “Rajawali Kaukasus” untuk Syamil. Tulisan itu menceritakan perjuangan Muslimin Chechnya yang tak pernah berhenti melewati berbagai rezim, sejak Catherine the Great, Joseph Stalin, Boris Yeltsin sampai Vladimir Putin. Hussein juga menceritakan riwayat hidup Syamil, sejak kelahirannya di Vedeno, pengalamannya berjihad di Khost, Afghanistan, hingga memimpin jihad di negerinya sendiri. Lembaran hidupnya dipenuhi dengan kisah-kisah jihad. Beliau tak mau lengah melepaskan waktu-waktunya berlalu tanpa makna di luar jihad. Meski kaki kanan beliau pun sudah di-’jual’ dalam jihad, beliau tetap tak mau berpisah dengan bumi jihad.

Orang seperti Basayev, sangat sulit dicarikan penggantinya. Hal ini dirasakan oleh para pemimpin Chechnya di saat kepergian sang panglima perang, untuk selama-lamanya. Begitulah sosok Syamil, sebutir mutiara berharga bagi rakyat Muslim Chechnya. Himmah-nya yang teramat kuat untuk berjihad, memancar dan menginspirasi setiap orang yang menyimak kisah hidupnya untuk selalu merindukan atmosfer jihad. Beliau menghibahkan dirinya untuk hidup dalam nuansa jihad. Seakan, seperti tergambar dalam sebait syair, pena pun memutar memorinya untuk mengingat jihad.

“Hingga aku kembali, pena-penaku berkata kepadaku,
‘Kemuliaan hanya milik pedang, bukan milik pena.
Menulislah selalu dengan kami, setelah engkau menulis dengannya.’”



Tarif 10 Juta Dolar

Basayev, yang oleh sebagian media disebut sebagai ‘seorang pria yang pantang mundur’, tercatat sebagai ‘teroris’ nomor wahid di Rusia. Lantaran selalu membuat Rusia kerepotan, Moskow menjanjikan imbalan sepuluh juta dolar untuk penangkapan atau pembunuhan Basayev. Tapi, masih disangsikan, apakah langkah terobosan untuk ‘membeli kepala’ Syamil Basayev itu bisa mempermudah penangkapan atau pembunuhan atas dirinya ataukah tidak. Namun yang pasti, sampai hampir sepuluh tahun sejak sayembara itu diumumkan, toh Basayev, atas izin Allah, masih tetap leluasa mengacak-acak barisan tentara Rusia dengan manuver-manuver khasnya.

Hingga, pada bulan Juli 2006, pihak Rusia menabur kontroversi yang menyelimuti peristiwa gugurnya Basayev. Mereka mengklaim bahwa sebuah misi agen rahasia yang tergabung dalam Federal Security Service (FSB) telah berhasil membunuh Syamil Basayev. Klaim itu ditampik oleh Majelis Syura Mujahidin Kaukasus, melalui statemen resmi muftinya, Abu Umar As-Saif, “There was no special operation whatsoever. Shamil and the other brothers of ours became Shaheeds (insha Allah) according to Allah's (swt) will. The Supreme one has his own plan and decision. And about the special operation, Mujahideen will show how it should be carried out. (Tidak ada operasi khusus apapun. Syamil dan saudara kami lainnya, gugur sebagai syuhada --insya Allah--, sesuai kehendak Allah. Dzat Yang Maha Kuasa memiliki rencana dan keputusan. Mengenai (isu,-ed) operasi khusus itu, Mujahidin akan menyikapinya secara proporsional.)”

“Di antara orang-orang Mukmin ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menanti-nanti dan mereka tiada mengubah janji...” (Al-Ahzab [32]: 23)

Pagi cerah, 10 Juli 2006, menjelang. Dataran utara Ingushetia di Kaukasus, tengah dihangatkan musim panas. Sebuah truk KamAZ, dalam persiapan sebuah penyerangan, melintasi hamparan rumpun bunga daisy yang bermekaran di mana-mana. Tempat itu, daerah pedesaan Ekazhevo, menjadi saksi, Amir Abdullah Syamil Abu Idris gugur bersama tiga Mujahid lain. Truk kargo bermuatan bahan peledak (explosive) yang dikendarainya itu meledak setelah terperosok dalam sebuah lubang. Beliau gugur ketika membela bangsa Muslim Chechnya berjuang melawan agresi serdadu komunis negeri Beruang Merah.* []