Kamis, 30 April 2009

Watashitachi no me...

Watashitachi no me...

oleh: Hafizh Assami

Apa kabar, saudaraku? Antum baik-baik saja kan? Aku berharap mudah-mudahan antum senantiasa dalam naungan rahmat Allah ‘azza wa jalla.

Di kesempatan ini, ada satu hal mendesak yang ingin aku tuliskan untuk antum, saudaraku, dimanapun berada. Sebetulnya ini ya untuk aku juga. Biar kita sama-sama mengambil mutiara ilmu dan amal, makanya aku beranikan diri untuk menyebarkannya. Insya Allah, ini dalam rangka saling memberikan nasehat dalam kebaikan dan kebenaran. Tak lebih hanya untuk menggapai ridha Allah.

Bagi seorang Muslim, apalagi yang baru beranjak dari usia kanak-kanak ke dunia remaja, hidup di alam yang serba bebas seperti sekarang ini, pasti banyak godaan syahwat yang menerpa. Kerap kali kita merasakan gejolak batin. Penyebabnya kadangkala adalah merasuknya stimulus-stimulus syahwati dari luar ke dalam diri kita. ‘Umpan-umpan’ tadi, yang berhasil menerobos celah-celah sempit dan menjangkau muara, yaitu hati kita, akan menimbulkan konflik di sana. Nah, kalau hati kita tergoda oleh rayuan umpan syahwat itu, fatal akibatnya. Sedikit demi sedikit anggota badan kita akan memberikan respon terhadap keinginan hati, yang sudah tergoda ‘umpan’, untuk berlaku maksiat.

Hal ini pasti sering, atau minimal, pernah menimpa kita. Kalau dalam dien kita, Islam, hal-hal seperti ini diperhatikan betul. Buktinya, ada upaya-upaya prefentif yang ditawarkan, supaya kita tidak sampai terpeleset dan tersungkur ke dalam lumpur kemaksiatan. Virus-virus syahwat yang menyerang lewat mata, Islam memiliki konsep Ghadhul Bashar, untuk menangkalnya. Antum sudah tahu maknanya? Kata ini memiliki makna padanan; ‘Menahan Pandangan’. Artinya, kita diperintah untuk menjaga mata dari obyek-obyek yang tidak layak dipandang. Secara eksplisit, Allah menyebut perintah ini dalam ayat ke-30 dari surat An-Nur. Bunyinya,

 “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.’ Sesungguhnya, Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.”
(QS an-Nur: 30)

Selain bisa mencegah timbulnya tindak-tindak maksiat, ternyata Ghadhul Bashar menyimpan banyak hikmah di baliknya. Apa sajakah itu? Sekarang kita akan mencoba menghadirkan apresiasi topik ini dari sebuah fasal dalam karya Ibnu Qayyim al Jauziyyah, seorang ulama kenamaan yang hidup di abad ke-delapan Hijriah.

Di dalam buku Ibnul Qayyim, Ighatsatul Lahfan min Mashayidisy Syaithan (Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan), terdapat satu fasal yang membahas tentang kesucian hati. Di situ, beliau mengemukakan tiga manfaat yang akan didapat oleh seorang Muslim yang menjauhkan pandangan matanya dari obyek-obyek haram.

Beliau memulai dengan menuliskan yang pertama, manis dan nikmatnya iman. Entah dengan bahasa yang bagaimana lagi harus diungkapkan. Aku tak tahu. Yang jelas, kata beliau, Allah akan menyediakan kenikmatan yang lebih nikmat, dan rasa manis yang lebih manis sebagai ganti dari ‘nikmat dan manisnya’ memandang obyek yang haram itu, jika si muslim tadi mampu mengekang pandangan matanya. Asalkan, dengan satu syarat, ia meniatkannya lillaahi ta’ala (for the sake of Allah).

Kedua, Ghadhul Bashar akan mengundang hadirnya cahaya dalam hati dan benarnya firasat. Dengan hati yang bercahaya, firasat seorang Muslim akan menjadi tajam dan kuat. Di poin kedua ini, Ibnu Qayyim menukil ucapan Abu Syuja’ al Kirmani. Aku belum tahu biografinya, namun dalam footnote buku itu dicantumkan keterangan bahwa beliau adalah seseorang yang dikenal kezuhudannya; ahli zuhud. Kata-katanya memang patut dicamkan,

“Barangsiapa selalu membiasakan diri, zhahirnya, untuk mengikuti sunah, dan membiasakan batinnya untuk bermuraqabah (mendekat kepada Allah), menahan nafsunya dari syahwat, menghindarkan matanya dari hal-hal yang haram dipandang, serta membiasakan makan makanan halal, fiasatnya tidak akan salah.”

Kata Ibnul Qayyim, rahasianya, ketika seorang insan mampu menahan pandangan, berarti ‘cahaya’ matanya tertahan. Sebagai gantinya, Allah menghidupkan cahaya mata hatinya. Dengan ketajaman mata hati itu, ia mampu ‘melihat’ sesuatu yang tidak mampu dilihat oleh orang yang hatinya gelap, penuh noda-noda maksiat lantaran mengumbar penglihatannya.

Terakhir, yang ketiga, munculnya kekuatan hati, keteguhan, berikut keberaniannya. Dengan diraihnya kekuatan hati tersebut, berarti Allah telah menganugerahkan kekuatan pertolongan (Nushrah) padanya, disamping kekuatan hujjah yang terdapat dalam cahaya hati (Nurul Qalbi), yang telah disebut pada poin kedua di atas. Dengan demikian, sempurnalah dua kekuatan berpadu dalam satu individu.

Keistimewaan-keistimewaan yang diuraikan Ibnul Qayyim tersebut, tentu tidak akan pernah disandang oleh orang yang gemar bermaksiat dengan membiarkan matanya liar, jelalatan kemana-mana. Na’udzubillah min dzalik. May Allah protect us from being like it.

Saudaraku, sebelum berpisah, aku mengajak; mari kita lebih serius lagi berusaha mengatur pandangan mata, agar hati kita suci dari noda-noda maksiat, bashirah (mata hati) menajam, dan keberanian untuk mengatakan suatu kebenaran, tumbuh dalam dada kita. Amin.
Sayonara…to...Ja mata!



Sincerely yours,
Hafizh Assami, student of
The Kanzun College of Ardent Learners (KCAL) in Solo

Doyoobi, Ramadhan 6, 1429 A.H./ September 6, 2008
The Kanzun College © 1429

Mana Jalan-mu?

“Mana Jalan-mu?”
Hafizh Chan


Telah lama dunia Islam terkoyak. Hingga hari ini pun masih belum sembuh juga luka besar yang menganga itu. Di sana-sini masih saja santer aksi-aksi penindasan bengis yang tak kasat mata lagi yang diarahkan kepada putra-putri Islam di pelosok-pelosok negeri kaum Muslimin. Sampai kapan kisah sedih nan kelam ini akan terus bertahan?

Memang ini adalah kita sendiri juga yang ikut andil menciptakan suasana. Dengan ditinggalkannya petunjuk-petunjuk Ilaahi dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, musuh-musuh kita jadi semakin berani unjuk gigi di depan hidung kita. Coba saja lihat si penjajah, penjahat, sekaligus teroris Israel membantai saudara-saudara kita tiap hari. Entah berapa jiwa yang telah melayang. Ini semua karena mereka tak takut lagi pada kita. Ya..memang tak ada lagi yang perlu dan bisa mereka takuti dari kita. Kita ibarat macan ompong kehilangan taring. Tak ada sesuatu yang bisa kita andalkan untuk menakut-nakuti musuh kita. Sehingga, kita ditimpa derita dan jadilah hina dina. Mereka, musuh-musuh kita, berkuasa hampir atas seluruh kaum Muslimin dan apa saja yang kita punyai. Ini adalah hukum sebab-akibat yang sudah menjadi sunnatullah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengabari kita,
“Jika kalian telah terperosok dalam jual beli ‘inah (jual-beli yang mengandung riba), mengikut di belakang ekor sapi (beternak), merasa mapan dengan pertanian, dan meninggalkan jihad fie sabiilillaah, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan pada kalian, yang tidak akan dicabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada (ajaran) Dien kalian.” (h.r. Abu Dawud, Ahmad, Ath-Thabrani dalam “al-Kabiir” dan dishahihkan oleh Ibnu al-Qaththan)

Itulah akibat yang kita terima ketika kita mengesampingkan titah-titah Rabbani. Kita lena dengan silaunya gemerlap dunia. Kita lalai dari tugas-tugas keberagamaan, yang salah satunya dan bahkan di antara yang terpenting yaitu “al-jihad”, sebagai buah tuntutan kalimat ‘laailaaha illallaah muhammadur-rasulullah’. Jihad adalah dzirwatu sanaamil Islaam (puncak tertingginya Islam), setelah kita mengikrarkan dua kalimat syahadat tadi. Jihad adalah lambang power yang akan membuat musuh-musuh kita kecut dan rendah dalam kehinaan kekafirannya. Selain sebagai pintu tersebarnya dakwah Islam ke pelbagai penjuru dunia yang belum sempat terjamah oleh cahayanya, ia juga sekaligus sebagai ciri khas yang kita miliki dalam mempertahankan eksistensi peradaban Islam yang rahmatan lil’aalamiin. Walupun jalan ini sangat tidak kita sukai, namun Allah ‘azza wa jalla menghendaki umat Islam menjadi baik lewat jalan ini. Nah, kalau kita tinggalkan, maka yang terjadi adalah persis seperti yang disabdakan Rasul yang mulia shallallaahu ‘alaihi wasallam di atas: kita hina dan dikuasai oleh musuh. Dan, kalau kita sudah terlanjur basah berada di bawah kuasa musuh, tak ada jalan lain untuk keluar kecuali: kembali kepada (ajaran) Dien. Para ahlul ‘ilmi mengatakan bahwa maksud dari kata Dien adalah al-jihad yang telah disebut di permulaan hadits.

Jadi, kita harus kembali menghidupkan jihad fie sabilillah yang telah kita lupakan. Itu kalau kita mau bangkit dan membebaskan diri dari kungkungan musuh, lalu kembali jaya. Memang berat, tak cukup hanya teori. Tapi ini juga bukan sekadar isapan jempol. Ini serius. Sekali lagi, ini jalan satu-satunya. The only way yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Terlebih lagi, metode ini sudah diujicobakan Allah ‘azza wa jalla melalui praktik hidup Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam bersama Shahabat-shahabat radhiyallahu ‘anhum. Buktinya, ampuh man! Dua kutub kekuatan super power pada waktu itu, Persia dan Romawi, bisa ditaklukkan. Tapi juga bukan cuma pamer kekuatan, yang lebih penting lagi adalah dibangunnya peradaban kemuliaan di kedua negeri tersebut. Peradaban yang melepaskan penghambaan manusia terhadap manusia lainnya menuju penghambaan manusia kepada Rabb-nya manusia dan alam semesta. Itulah hebatnya umat Islam jika tetap mempertahankan ciri khasnya yang asli ajaran Rabb-nya. Namanya juga Sang pencipta. Terang saja tahu segalanya. Yang diajarkan pasti tidak meleset, apa lagi kok sampai salah. Impossible! Sama juga dengan insinyur ahli robot yang lebih faham dengan onderdil plus detil-detil mesin yang ada di tubuh robot buatannya ketimbang robot itu sendiri.

Masalahnya sekarang, kita mau percaya dengan berita-berita Allah ‘azza wa jalla yang sampai kepada kita melalui lisan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam atau tidak. Atau, kita lebih memilih percaya apa kata koran dari pada ayat-ayat al-Qur`an?! Sadarkah kita?!
Wallaahua’lam bish-shawaab.



Rabi’ul awal 1426 H