Minggu, 03 Mei 2009

Ahmad Yasin

Ahmad Yasin
Syaikh Intifadhah Palestina

oleh: Hafizh Assami


"Hilangnya Palestina ke tangan Yahudi pada tahun 1948 M disebabkan oleh gejala stagnasi umat. Dan solusinya adalah membangun kembali kesatuan dan kekuatan siyasah Islamiyah (politik Islam) agar semua rezim sekuler yang ada dapat diruntuhkan dan diganti karena sangat tidak islamis dan anti-Islam."


Masa Kecil

Syaikh Ahmad Ismail Yasin, atau yang lebih familiar dengan nama Ahmad Yasin, lahir pada tahun 1938 M di sebuah Hamlet kecil (perumahan miskin di pedesaan) di al-Jaurah (kini telah musnah), di pinggiran daerah al-Mijdal, selatan Jalur Gaza dekat kota Ashkelon, Palestina.

Pada waktu kecil, beliau dijuluki dengan nama Ahmad Sa'dah. Nama ini diambil dari ibunya yang bernama Sa'dah Abdullah Al-Hubael. Hal ini dimaksudkan untuk dapat membedakan nama Ahmad yang banyak dipakai di keluarga Yasin. Sedangkan sang ayah telah wafat ketika umur beliau belum lagi genap tiga tahun.

Saat menginjak usia kurang lebih sepuluh tahun, beliau meninggalkan al-Jaurah, mengungsi bersama keluarganya ke Jalur Gaza setelah perang Israel-Palestina (Nakbah) tahun 1948 M meluluhlantakkan kampung halaman mereka. Sebelumnya, beliau sempat mengenyam pendidikan dasar sampai kelas lima.

Tak jauh beda dengan pengungsi Palestina lainnya, keluarga Syaikh Yasin juga merasakan getirnya kemiskinan dan kelaparan. Selama masa 1949-1950, Syaikh Yasin meninggalkan bangku sekolah. Untuk menyambung hidup tujuh orang anggota keluarganya, beliau, yang masih sekecil itu, harus bekerja sebagai salah satu pelayan restoran di Gaza. Lalu, beliau bisa melanjutkan kembali studinya yang terputus.

Di tahun 1952, ketika beranjak remaja, musibah menimpa beliau. Sebuah kecelakaan yang terjadi ketika berolahraga, membuat tulang leher beliau patah dan imbasnya menyebabkan kelumpuhan pada tangan dan kaki, yang tak kunjung pulih hingga akhir hayatnya. Sejak saat itu, beliau menjalani hari-harinya di atas kursi roda. Kendati demikian, tak pernah beliau menampakkan sikap pesimistis menghadapi ujian tersebut. Semua beliau jalani dengan penuh kerelaan.

Dengan semua keadaan ini, Syaikh Yasin menyelesaikan sekolah menengah atasnya pada tahun 1957-1958 M. Bahkan, kelumpuhan yang beliau alami itu tak bisa meredupkan semangat studi beliau. Tebukti, di tahun 1959 M, tekad baja beliau menuntunnya sampai ke Mesir untuk beberapa lama belajar di Universitas Ain Syams. Di sana, beliau menerima sebuah diploma universitas.


Kontra-kezhaliman

Sepulang dari Mesir, beliau langsung mendapatkan pekerjaan. Meskipun, pada mulanya, beliau menghadapi hambatan-hambatan yang menyangkut kondisi fisik. Beliau bekerja sebagai pengajar Bahasa Arab dan Studi Islam, disamping sebagai pengkhutbah yang popular di beberapa masjid di Jalur Gaza.

Keahlian orasi Syaikh Yasin mulai tampak jelas dan melambungkan bintang baru ini ke atas langit gaza bersama para da'i lainnya. Namun hal itu justeru mengundang kecurigaan spionase Mesir yang menjadi antek-antek penjajah. Akhirnya, di tahun 1965 M beliau ditangkap bersamaan dengan penangkapan besara-besaran yang dilakukan pemerintah Mesir terhadap jama'ah al-Ikhwanu al-Muslimun (IM) sejak tahun 1954.

Hampir sebulan Syaikh Ahmad Yasin sempat mendekam dalam penjara. Kemudian dilepaskan kembali setelah semua penyelidikan membuktikan tak ada hubungan antara dirinya dengan jama'ah IM. Selama masa penahanan, beliau justeru memperoleh kesan mendalam atas dirinya yang terungkap dalam kata-kata, "Saya benci kezhaliman." Bahkan pada masa itu, beliau mendukung adanya legalitas terhadap suatu kekuasaan yang harus didirikan atas dasar keadilan dan keykinan bahwa setiap orang harus merdeka.

Pasca-kekalahan Arab dalam perang tahun 1967 M, penjajahan Israel atas tanah-tanah Palestina semakin menjadi-jadi, termasuk terhadap wilayah Jalur Gaza. Karena itu, Syaikh Yasin terus berorasi dari atas mimbar Masjid Al-Abbas di kampung Ar-Ramal, Gaza, untuk menolak para penjajah. Pada saat yang sama, beliau juga aktif menggalang dana dan bantuan bagi keluarga para syuhada dan tahanan Palestina.


'Arsitek' Hamas

Alur pemikiran jamaah IM cukup mewarnai sepak terjang 'Amir Syuhada'. Begitu sebutan yang kerap disematkan kepada beliau. Memang, sejak keberadaan Syaikh Yasin di Mesir, beliau sudah mulai berinteraksi dengan organisasi yang didirikan oleh Syaikh Hasan Al-Banna pada tahun 1928 M tersebut.

Pada tahun 1983 M, Syaikh Ahmad Yasin ditangkap rezim imperialis Israel dengan tuduhan memiliki senjata, membentuk pasukan militer dan menyerukan pelenyapan eksistensi negara Yahudi. Karenanya, beliau dihadapkan ke mahkamah militer Israel dan divonis 13 tahun penjara.

Lalu di tahun 1985 M, setelah mendekam selama belasan bulan dalam penjara rezim Israel, beliau dikeluarkan. Hal ini menyusul adanya upaya pertukaran tahanan antara pihak rezim imperialis Israel dengan PFLL (Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina).

Berbagai kondisi tak mengenakkan yang beliau alami, tak membuat langkah perjuangan beliau surut sedikit pun. Beliau bersama pejuang-pejuang lainnya berupaya mencari formula-formula baru untuk menggebrak keangkuhan serdadu-serdadu Israel. Demi tujuan itu, Hamas (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah) didirikan pada pertengahan tahun 1987. Beliau bersama Syaikh Abdul Aziz Ar-Rantisi mengarsiteki terbentuknya tanzhim ini, sebelum nantinya, di tahun 1992 M memiliki sayap militer Brigade Izzuddin Al-Qassam di bawah komando insinyur Yahya Ayyasy.

Secara organisatoris, Syaikh Ahmad Yasin memiliki peran penting dalam intifadhah Palestina yang meletus saat itu. Intifadhah pertama ini dikenal dengan nama Intifadhah Masjid. Kemudian, beliau diangkat sebagai pemimpin spiritual bagi gerakan tesebut.

Di masa-masa selanjutnya, Hamas semakin mendapatkan tempat di hati penduduk Palestina. Sebaliknya, bagi Israel, tentu sangat menyesakkan dada mereka. Organisasi ini semakin mengokohkan eksistensinya, karena dikenal tak memberikan kompromi jika berhadapan dengan Israel. Hal ini tidak mengherankan. Sebab, mereka memiliki komitmen kuat untuk mengobarkan perang melawan Yahudi dan menguak konspirasi para petinggi gerakan Zionis yang termaktub dalam Protocols of the Elders of Zion. Cita-cita mulia pejuang Hamas untuk mengangkat tinggi-tinggi kalimat Allah di bumi Palestina, membuat pamor mereka kian bersinar di dunia Islam umumnya, dan di tengah-tengah warga Palestina yang merindukan kemerdekaan.


Bahasa Senjata

Seiring perjalanan waktu, meningkatnya intifadhah dan kekuatan bersenjata terlihat dari kemampuannya melaksanakan aksi-aksi bersenjata. Misalnya, menyandera dua serdadu Israel tahun 1989 M. Imbas aksi ini, Syaikh Yasin ditangkap pada tanggal 18 Mei 1989 M bersama dengan ratusan anggota Hamas lainnya.

Melihat kedudukan Syaikh Yasin yang begitu kharismatik di mata anggota-anggotanya, membuat sebuah satuan pasukan berani mati (fida`iy) dari Brigade Izzuddin Al-Qassam menculik seorang serdadu Israel pada 13 Desember 1992 M. Al-Qassam menuntut pelepasan serdadu Israel tersebut dengan kompensasi pembebasan Syaikh Ahmad Yasin dan beberapa tawanan Arab yang ditangkap militer Israel di Lebanon. Namun Israel menolak tuntutan tersebut, bahkan balik melancarkan serangan ke lokasi penahanan sehingga menyebabkan kematian serdadu tersebut berikut seorang komandan kesatuan pasukan Israel yang melakukan aksi penyerangan saat itu. Sedangkan semua sukarelawan Brigade al-Qassam, yang berada di dalam rumah berlokasi di desa Beir Nebala --dekat Jerusalem--, itu menemui syahid. Allahu Akbar!

Hingga, pada tanggal 1 Oktober 1997 M Syaikh Yasin dibebaskan dari penjara setelah Raja Husein dari Yordania meminta dengan tegas kepada pemerintah Israel ketika PM Benyamin Netanyahu menekan Yordania menyerahkan dua agen Mossad yang ditangkap pemerintah Yordania setelah gagal dalam usaha pembunuhan di Amman terhadap Khalid Misy'al, kepala Biro Politik Hammas di Amman.

Kehadiran beliau, telah dinanti-nanti oleh penduduk Palestina. Kemudian, beliau berupaya memulihkan dan membenahi kembali bangunan struktur Hamas setelah diobrak-abrik oleh pihak otoritas Palestina. Yasser Arafat melakukan hal itu atas tekanan pihak Israel dan Amerika Serikat. Hamas mengambil sikap berseberangan dengan pihak otoritas Palestina yang terkesan sangat kooperatif terhadap Israel.

Secara tegas, Syaikh Yasin menolak perjanjian Oslo yang beliau pandang sebagai sebuah "penyerahan yang memalukan" dan "suatu penipuan besar". Pasalnya, selepas ditandatanganinya perjanjian tersebut, pembangunan intensif pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta aneksasi Zionis-Israel atas lahan-lahan warga Palestina, kian jauh melampaui batas toleransi. Di mata warga Palestina, dengan bukti-bukti nyata ini, pandangan Syaikh Yasin semakin kuat mendapat pembenaran. Persaingan visi dan ketokohan Syaikh Yasin dengan Arafat, mengakibatkan ruang gerak beliau dibatasi. Bahkan, tahanan rumah pun kerap kali diberlakukan terhadap beliau dan hubungan komunikasi beliau selalu dipantau secara ketat.

Bagaimanapun juga, kerenggangan hubungan Hamas dan otoritas Palestina sangat menguntungkan Israel. Syaikh Yasin tetap berhati-hati agar tidak terjadi friksi berulang-ulang dengan pihak otoritas Palestina. Sebab ada agenda dan upaya-upaya Israel untuk menggiring agen-agen keamanan otoritas Palestina untuk memunculkan konflik internal di tubuh masyarakat sipil Palestina.

Untuk menghadapi Israel, Hamas teguh pada pendirian bahwa kebebasan harus diperjuangkan, bukan hadiah atau pemberian, dan yang dirampas dengan kekuatan hanya bisa direbut kembali melalui kekuatan.

Oleh karenanya, Hamas mempertahankan operasi-operasi martir melalui aksi istisyhadiyah. Aksi-aksi bom syahid tersebut diarahkan kepada target-target militer, bukan kepada penduduk sipil. Melalui pengalaman panjang berinteraksi dengan Israel, Hamas faham betul bahwa Israel hanya mengerti bahasa senjata. Segala perundingan dan perjanjian hanya isapan jempol. Ajakan Hamas untuk menghentikan semua serangan kepada rakyat sipil, baik Israel maupun Palestina, ditolak mentah-mentah. Intinya, kaum Zionis mengacuhkan semua inisiatif ke arah perdamaian.


Problem-solver

Di luar aktivitas perjuangan beliau bersama Hamas, nama Ahmad Yasin erat dengan masalah-masalah perdamaian hubungan antar manusia. Seorang pekerja di Dewan Islah (Perdamaian), rintisan Syaikh Yasin, memberikan kesaksian, "Prioritas utama Ahmad Yasin ialah mendamaikan manusia. Rakyat Palestina banyak yang meninggalkan institusi pengadilan dan beralih kepadanya untuk menyelesaikan masalah mereka."

Menariknya, Syaikh dikenal sangat ramah dan terbuka. Setiap hari pintu rumahnya tak pernah ditutup. Siapapun boleh masuk untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Terutama kaum papa (dhuafa). Bahkan semua kelompok mana pun, di dalam masyarakat Palestina, tanpa sungkan menemui beliau. Sebab, Syaikh dipercaya dapat menyelesaikan masalahnya secara adil dan fair. Lantaran hal itu, banyak warga sipil menarik berkas perkaranya yang berada di pengadilan atau dari seorang pengacara, dan kemudian membawanya ke Syaikh Yasin untuk memperoleh penyelesaian.


Intifadhah Al-Aqsha

Partisipasi aktif Hamas dalam intifadhah Al-Aqsha yang meletus pada akhir September 2000 M, menyulut gelora perlawanan Palestina. Terutama, setelah penataan ulang struktur oganisasi Hamas, dan ditopang oleh adanya sayap militer.

Israel makin berang. Negara Yahudi itu lalu menjalankan program 'kampanye keliling dunia' untuk menyebar provokasi agar negara-negara dunia memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris dan memutus aliran dana dengan membekukan rekening anggota-anggotanya. Propaganda ini disambut hangat oleh negara-negara Uni-Eropa, yang pada tanggal 6 September 2003 secara resmi memasukkan Hamas berikut biro politiknya sebagai organisasi teroris.

Eksistensi Hamas dengan aksi-aksi spektakulernya, tak lepas dari sosok seorang Ahmad Yasin. Karena dinilai sangat berbahaya, pihak kolonial Israel beberapa kali berusaha membunuh Syaikh Yasin secara langsung. Pada tanggal 6 September 2003 M, sebuah rudal dilepaskan pesawat tempur Israel ke rumah salah seorang tokoh Hamas, Ismail Haniyyah, namun beliau selamat dalam aksi percobaan pembunuhan ini.
Senin (22 Maret 2004), keheningan fajar dibuyarkan oleh ledakan dahsyat. Suaranya menggema ke seantero langit Gaza. Tiga buah roket diluncurkan Israel melalui helikopter Apache ke arah Syaikh Yasin serta dua orang pengawalnya, seusai menunaikan shalat shubuh di masjid Ja'ma Islami. Peristiwa itu menandai berakhirnya kiprah Syaikh Ahmad Yasin dalam perjuangan Palestina. Beliau pergi menemui Rabb-nya setelah menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah perjuangan umat Islam. Dalam serangan brutal itu, beberapa orang lainnya pun turut menjadi korban, termasuk dua orang putra Syaikh Yasin, yang mengalami cedera cukup serius. Atas karunia Allah, kuatnya ledakan tak mampu mengoyak jasad Syaikh Yasin.

Hari itu, warga Palestina dan umat Islam sedunia berkabung. Iring-iringan warga membanjiri jalan-jalan kota Gaza. Awan gelap dari asap bangkai kendaraan yang terbakar menyelimuti udara Gaza. Seolah, turut berbelasungkawa atas kepergian sang 'Amir Syuhada'.

Kecaman terhadap Israel datang silih berganti dari berbagai kalangan, media massa, oraganisasi dan lembaga-lembaga Islam dunia. Perwakilan Saraya Al-Quds, sayap militer organisasi perlawanan Jihad Islam, memberikan pernyataan, "Saraya Al-Quds memberitahukan kepada bangsa Palestina, Arab dan Islam tentang syahidnya salah satu pemimpin bangsa kita, Arab dan Islambersama dengan enam penduduk Palestina pada Senin, 1 Shafar 1425 H, yang bertepatan dengan 22 Maret 2004 M, akibat serangan Israel di kota Gaza. Kami menyampaikan selamat dan keberkahan kepada seluruh bangsa kami. Kami mengucapkan, tidak ada ratap tangis untuk orang seperti Syaikh Ahmad Yasin dan para syuhada yang meninggal bersamanya. Mereka hidup dan kita mati. Merekalah yang mengembalikan ruh bangsa ini, saat mereka menebus dengan ruhnya."

Nama harum Syaikh Ahmad Ismail Yasin, akan dikenang sepanjang masa oleh rakyat Palestina dan dunia. Khutbah-khutbah pembakar semangat beliau, akan tetap menggugah spirit jihad kaum Muslim di seluruh penjuru bumi.*[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar