“Kujemput PD-ku lewat ayat-Mu”
catatan Hafizh Assami
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali Imran [3]:139)
Setelah membaca ayat di atas, entah mengapa rasa-rasanya aku sedang berada di tempat yang amat tinggi. Tak satu pun orang bisa menjangkau dan menekanku. Semua terasa aku miliki. Aku bebas dan ringan tanpa beban.
Mungkinkah ini perasaan yang sama yang membungkus hati para sahabat Rasulullah dahulu? Aku terus bertanya. Dalam hati. Dalam sepi. Dalam sunyi. Tapi sebenarnya aku yakin bahwa ayat-ayat al-Quran memang menyiarkan pesona begitu indah. Hati mana tiada tertawan oleh indah bahasanya? Hurufnya saja, setelah kuamat-amati, kubanding-bandingkan dengan tipe huruf lainnya yang aku kenal, adalah bentuk yang paling sedap dipandang mata. Apalagi kalau dilukiskan dalam kaligrafi. Wuah, pokoknya serba paling.
Kalau ada orang yang tidak tertarik pada al-Quran ini, baik oleh penampilannya, majaz-majaznya, selera sastra yang super tinggi di kandungannya, hingga makna-makna mendalam tiap katanya, hampir bisa dipastikan, hatinya si empu tadi sedang dijamah beraneka masalah.
Bagaimana tidak? Wong orang kafir saja kalau mendengar ayat-ayatnya dibaca mesti ada perasaan ingin mendekat, kok. Contoh paling nyata yang diabadikan sejarah Islam yang mula-mula adalah kejadian yang dialami seorang musyrik bernama al-Walid bin al-Mughirah. Saat mendengar ayat-ayat kalamullah dibaca, dia terkesima. Inginnya menyimak terus lantunan itu. Namun sayang, lantaran hati yang bermasalah tadi, jadilah ia urung menikmati hidayah indah dari Rabb Yang Maha Indah. Padahal, dia sudah merasa dekat dengan al-Quran. Sampai-sampai dia mengungkapkan komentar jujurnya mengenai al-Quran, “Demi Allah, sungguh, pada al-Quran itu terdapat kemanisan. Padanya terukir keelokan. Benar-benar, bagian bawahnya sangat subur. Bagian atasnya memamerkan buah. Ia tinggi, tak ada yang menandingi. Ia akan membuat segala yang ada di level bawahnya kalah. Ini bukan kaul manusia.”
Aku kembali lagi ke poros obyek bicara. Dengan ayat di atas, insyaallah percaya diri seorang muslim akan terdongkrak. Tanpa harus repot-repot buang waktu dan merogoh kocek dalam-dalam untuk mengikuti bermacam-macam pelatihan pengembangan pribadi ala Barat. Atau ikut semacam Achievement Motivation Training, yang mungkin mengalokasikan banyak waktu. Sumber yang benarnya mutlak sudah ada di depan mata. Mau cari-cari model yang bagaimana lagi? Yang ala kafir?
Simpel saja. Asal mau merenung sedikit saja. Atau membuka tafsirnya jika perlu. PD itu akan muncul. Bahkan, akan lebih kuat memancarkan efek “energi positif” dibanding jika pemicu kemunculannya bukan al-Quran. Bukan keimanan kepada Dzat Yang Maha Tinggi. Rasa PD itu akan terasa jika rasa yakin, iman kepada Allah, benar-benar serius dihadirkan dalam hati dan ditampakkan dengan rupa nyata, riil, di alam dunia ini.
Aku percaya aku bisa meraih impianku jika aku memegangi ayat ini. Sebab, ayat ini mampu merubah orang-orang yang mengidap psychological inferiority menjadi person yang kokoh, superior, dan handal. Di bidang apapun dia beraktivitas. Mestinya bidang yang direstui Islam, lah.
“Percaya besar, kau akan menang besar!” kata hatiku terus berbisik menyemangati anggota badan yang lain.
Sepertinya aku belum menelisik lebih jauh makna-makna cerdas yang terselip rapi di balik susunan ayat mulia ini. Bagaimana interpretasi-interpretasi yang diutarakan para ilmwuan tafsir, misalnya. Bagaimana pula komentar ahli lughah, dan kajian-kajian serupa, yang tentunya semakin mempertebal kacamata pemahaman. Barangkali, di lain waktu tulisan ini akan menemui kelanjutannya dengan bahasa yang lebih enak dan empuk untuk disimak. Semoga. Untuk waktu ini, kiranya cukup sampai di sini dulu. Insyaallah, baru di sini saja, PD itu sudah mulai kurasa. “Aku mampu menjalani hidup dan menyambut tantangan-tantangannya dengan senang hati, atas izin Allah!” teriak batinku lantang.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar