Senin, 04 Mei 2009

Islamic Poems

Love of Allah
Imam Ibnu Qayyim al Jawziyyah


The love of the Beloved
must be unconditionally returned.

If you claim love
yet oppose the Beloved,
then your love is but a pretence.
You love the enemies of your Beloved
and still seek love in return.

You fight the beloved of your Beloved.

Is this Love or the following of shaytaan?

True devotion is nothing
but total submission
of body and soul
to One Love.

We have seen humans claim to submit,
yet their loyalties are many.

They put their trust here, and their hope there,
and their love is without consequence.





To A Non-Muslim Woman

When you look at me
All that you can see
is the scarf that covers my hair
My words you can't hear
because you're too full of fear,
mouth gaping, all you do is stare

You think it's not my choice
in your own "liberation" rejoice.
You think I'm uneducated,
trapped, oppressed and subjugated,
You're so thankful that you're free.

But non-Muslim woman you've got it wrong
You're the weak and I'm the strong.
For I've rejected the trap of man.
Fancy clothes - low neck, short skirt
those are devices for pain and hurt.
I'm not falling for that little plan.

I'm a person with ideas and thought.
I'm not for sale, I can't be bought.
I'm me - not a fancy toy,
I won't decorate anyone's arm,
nor be promoted for my charm.
There is more to be than playing coy.

Living life as a balancing game - mother,
daughter, wife, nurse, cleaner, cook, lover
and still bring home a wage.
Who thought up this modern "freedom"?
Where man can love'em and man can leave'em.
This is not free, but life in a cage.
Always jumping to a male agenda
competing on his terms.
No job share, no creche facilities,
no feeding and nappy changing amenities
No time off for menstrual pain,
"hormones" they laugh "what a shame"
No equal pay equal skill
your job they can always fill.
No promotion unless you're sterilised.
No promotion unless you're sexually terrorised.
And this is liberation?

Non-Muslim woman you can have your life.
Mine - it has less strife.
I cover and I get respected,
surely that's to be expected,
for I won't demean the feminine,
I won't live to male criterion,
I dance to my own tune
and I hope you see this very soon.
For your own sake - wake up and use your sight.
Are you so sure that you are right?

From a Muslim Woman




From Abu AbdurRahmaan (ilm-net maintainer

As-salaamu `alaykum wa-rahmatu llaah.

Here is a poem which was forwarded to me by brother Umair Qadeer
Razak Mohamed Lazim
May Allah help us to act on the Qur'aan.


LAMENT OF THE QURAN

As an ornament do they adorn me,
Yet they keep me and sometimes kiss me.
In their celebrations they recite me,
In disputes they swear by me,
On shelves do they securely keep me
Till another celebration or dispute,
When they need me.

Yes, they read me and memorize me,
Yet only an ornament am I..
My message lies neglected,
My treasure untouched,
The field lies bare, where blossomed once true glory.
Wrong is the treatment I receive
So much to give I, but none is there to perceive.



From: Huda Aljunied[SMTP:aljunied@hotmail.com]

I am a Muslim
==============
I am a Muslim
And God I praise
For all His blessings
My voice I raise
In one God I believe
No equal has He
Lord of the universe
Compassionate to me
Muhammad the prophet
Taught me the way
To be honest and truthful
Throughout every day
The holy Qur'an
To life is my guide
It's teachings I follow
By it I abide
Islam my religion
Preaches good deeds
Mercy and kindness
To the right path it leads
Upon all humanity
God showers His grace
Regardless of colour
Nationality or race
Through working together
Our hopes increase
To live in a world
Full of love and peace
I am a Muslim
And God I praise
For all His blessings
Myvoice I raise

Anonymous



Pearls from Rasulullah

"Read the Qur`an, for it will come as an intercessor for its reciters on the Day of Resurrection." [Muslim]

"The best amongst you is the one who learns the Qur`an and teaches it." [Al-Bukhari and Muslim]

"Verily, Allah elevates some people with this Qur`an and abases others." [Muslim]

"He who does not memorize any part of the Qur`an he is like the ruined house." [At-Tirmidhi]

"Any group of people that assemble in one of the Houses of Allah to study the Qur`an, tranquillity will descend upon them, mercy will engulf them, angels will surround them and Allah will make mention of them to those (of angels) in His proximity." [Muslim]

"The parable of one who knows the Qur`an by heart is as the parable of an owner of hobbled camel. If he remains vigilant, he will retain it; and if he neglects it, it will go away." [Al-Bukhari and Muslim]

Minggu, 03 Mei 2009

Syaikh Yusuf al-‘Uyairi

Syaikh Yusuf al-‘Uyairi
“Bodyguard” Usamah Bin Ladin

oleh: Hafizh Assami


Nama panjang beliau adalah Abu Muhammad Yusuf bin Shalih bin Fahd al-‘Uyairi. Lahir pada hari Senin tanggal 1 Rabi’ul Akhir 1394 H. Dari pernikahannya dengan seorang wanita dari keluarga Ash Shaq’abi, yang merupakan saudari kandung dari istri Syaikh Sulaiman al-‘Ulwan, beliau dikaruniai tiga orang putri.

Setelah banyak menikmati keindahan dunia jihad, pada usia yang baru 30 tahun, Allah memanggil beliau untuk menghadap-Nya. Beliau syahid --insya`allah-- di tangan tentara Saudi.

Syaikh Yusuf remaja menyelesaikan sekolah menengah pertama (tingkat Mutawasithah). Belum lagi sampai satu semester mengenyam pendidikan di bangku Tsanawiyyah (tingkat SMA), beliau meninggalkan studi demi menyambut hangat riuhnya jihad di bumi Afghanistan. Beliau menginjakkan kaki di daratan tandus Afghanistan sebagai pemuda perkasa yang masih sangat belia. Di tanah para mullah itulah jihad bertaut dalam hatinya dan mengisi ruang jiwanya.

Beliau dikaruniai Allah otak yang jenius, pandangan yang tajam dan hafalan yang kuat. Sehingga, tidak mengherankan jika beliau menjadi salah satu instruktur di Kamp Pelatihan Al Faruq pada masa perang Afghanistan pertama melawan Uni Soviet.


Ensiklopedia Berjalan

Orang-orang yang pernah merasakan ber-mu’asyarah dengan Syaikh Yusuf menceritakan betapa hafalan beliau yang sungguh mengagumkan mengenai berbagai persenjataan dan data-data yang sangat mendetail tentang seluk-beluk senjata-senjata tersebut. Selain itu, beliau juga memiliki kesabaran yang luar biasa di saat menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berbagai pertempuran yang membuat Allah memuliakan beliau lantaran taburan debu fie sabilillah yang menghias kedua kaki beliau.

Dengan segala kelebihan yang melekat pada diri beliau, Syaikh Usamah bin Ladin --hafizhahullah-- mendaulat beliau menjadi pengawal pribadi. “Job” baru itu beliau emban setelah ambruknya kedigdayaan pasukan Beruang Merah Uni Soviet.

Di samping Afghanistan, Syaikh Yusuf juga menyambangi bumi jihad Somalia saat mengusir tentara Amerika. Untuk Chechnya dan Bosnia, beliau juga tidak mengabaikan. Penggalangan dana dari Arab Saudi beliau galakkan. Beliau juga memfasilitasi mujahidin yang akan berangkat ke Bosnia. Sumbangan ide pikiran cemerlang yang tertuang dalam poin-poin strategi dan tak-tik tempur, beliau alamatkan kepada Jendral Khathab di pegunungan dingin Kaukasus.

Bak sesosok manusia dengan multi-talenta, Syaikh Yusuf menggenapi khidmatnya di dunia jihad lewat mata pena. Berbagai buku beliau tulis dengan tujuan inti untuk membela kehormatan kaum Muslim dan mengharumkan nama mujahidin yang ada di tapal batas (ahluts tsughur). Tulisan-tulisan beliau itu tersebar luas melalui situs Markaz Ad Dirasat dan bisa diakses pula dalam forum-forum umum di internet.

Beliau dikaruniai Allah dengan ungkapan yang sangat mendalam, sabar dan ulet yang menjadikan beliau tidak henti-hentinya memproduksi tulisan-tulisan syar’i dan analisa-analisa politik.

Ada seorang sahabat beliau yang memberikan komentar demikian, “Beliau ini adalah ibarat esiklopedi ilmiah dalam semua persoalan. Jika beliau berbicara mengenai ilmu syar’i, tentu kita akan mengatakan bahwa ia adalah seorang ulama’ yang faqih. Dan apabila beliau berbicara mengenai persoalan politik, pasti kita akan mengatakan bahwa ia adalah seorang politikus yang handal. Selain itu, beliau juga memiliki perhatian pada ilmu komputer dan programming. Beliau juga menguasai ilmu-ilmu militer layaknya seorang komandan yang cerdik. Beliau juga menguasai topografi, teknologi dan elektronik.”

Syaikh Yusuf adalah figur pribadi yang menyandang kelembutan hati, perasaan sensitif dan mudah melelehkan air mata. Khususnya apabila bercerita tentang mujahidin dan pengorbanan di jalan Allah. Apabila beliau menyampaikan nasehat terdengar suara tangis dan khusyu’, terutama ketika mengingatkan tentang Allah, akhirat, jihad dan mati syahid di jalan-Nya.

Beliau mengungkapkan, kita harus menjelaskan kepada manusia bahwa jihad itu tidak lain adalah usaha untuk merealisasikan tauhid dan mewujudkan konsekuensi-konsekuensi kalimat syahadat Laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah. Kita harus ikat manusia dengan perkara ini supaya dari satu sisi mereka mengetahui pentingnya jihad, dan dari sisi yang lain agar mereka tetap teguh di jalan ini.

Untuk hal yang satu ini, beliau rahimahullah sering mengulang taushiyah dengan perkataan Syaikh Abdullah Azzam, “Gambaran yang engkau bawa ke medan jihad lain dengan gambaran yang engkau bawa pulang dari medan jihad.” Maksudnya, sekelompok orang berangkat berjihad hanya karena terdorong oleh luapan emosi setelah menyaksikan penyiksaan terhadap kaum Muslim dan penodaan kaum wanita. Emosi semacam ini memang bagus. Namun, alangkah lebih baik jika motivasi yang menggerakkan langkah mereka pergi berjihad adalah kesadaran dan keyakinan mendalam akan fardhunya menapaki jalan ini yang berjalinan sinergi dengan aqidah tauhid, serta komitmen mempropagandakan jihad di tengah-tengah umat untuk membangun daulah yang merealisasikan jihad.


Nominator Black List

Belum pula sempat puas menghirup udara bebas setelah dipenjara dengan tuduhan terlibat pemboman di Khabar, Arab Saudi, pemerintah Saudi buru-buru mencantumkan nama beliau dalam black list atas instruksi Amerika Serikat.

Mereka memburu beliau selama satu tahun lebih. Namun beliau menolak menyerah dan menghinakan diri dalam persoalan aqidah yang krusial. Selama itu, beliau jarang sekali beristirahat. Kadang-kadang tidak tidur sampai beberapa hari. Dengan senjata siap di tangan, beliau selalu siaga dan waspada siang malam.

Beliau pernah mengatakan kepada seorang temannya, “Akhi (saudaraku), kita ini bukan orang yang lebih mulia daripada para sahabat Rasul SAW. Hal mana mereka hidup di Madinah diliputi rasa takut dan was-was, hingga berkata,

‘Wahai Rasulullah, tidak ada pada diri kami selain perasaan takut, sementara masing-masing kita senantiasa memanggul pedang di atas pundaknya.’”

Beliau menghibur diri dengan kondisi para sahabat ridhwanullahu ‘alaihim. Hingga tibalah hari penuh berkah itu. Sabtu malam, 30 Rabi’ul Awal 1424 H, di daerah Hail, Allah mengabulkan cita-cita beliau dalam sebuah perlawanan yang maksimal. Beliau lebih memilih gugur di jalan Allah daripada ditawan oleh rezim Saudi. Allâhumma alhiq-hu bi Qâfilah asy-Syuhadâ’ . [Diadaptasi dari arrahmah.com]

Inspiring Words

"Ketika aksara memendam kuasa, kenapa kita biarkan ia lari berkelana..."

Remember:
"Anak-anak 'kiri' itu, mereka menyusun karya tulis setebal 1,7 m! Bukan main!!" (fizh)

"Hati-hatilah pada setiap amal yang dilakukan, syetan selalu memanfaatkan sisi kelemahan." (Joe)

"Orang yang bijak adalah mereka yang selalu menasehati dengan ikhlas. Tanpa pamrih. Dan rendah hati. Dan tidak menyembunyikan apa-apa yang nilainya baik. Termasuk kejujuran diri." (Joe)

"Kau adalah singa muda Islam yang cendekia, brilliant. Buktikan kepada dunia!!!" (someone)

"The Jihad is in need of money, and men is in need of Jihad!" (Abdullah Yusuf Azzam)

"Know yourself and decide what you want most of all to make out of your life. Then write down your goals and plan to reach them." (Money Making; Secrets of the Milionaires, p. 25)

"Pandangan negatif-mu terhadap dirimu sendiri menyebabkan kerendahanmu. Pandangan positif-mu terhadap dirimu sendiri menyebabkan kesuksesanmu."

"Jangan engkau rendahkan cita-citamu. Sesungguhnya aku tidak melihat orang yang lebih malas daripada orang yang rendah cita-citanya." (Umar bin Khathab)

"Mengapa kita tidak belajar mengenai hidup dari pohon pisang...Pohon pisang tak rela mati sebelum mampu berbuah, dan tak akan ikhlas berbuah sebelum tumbuh tunas di sampingnya..."

"Nothing goes by luck in composition. It allows of no tricks. The best you can write will be the best you are."

"Reading makes a full man; talking, a ready man; writing, an exact man."

"Practice makes perfect."

Remember:
"SO MANY BOOKS, SO LITTLE TIME !!!"


"Semakin sering orang menulis, dan semakin sering pula orang memikirkan tulisannya, semakin bagus jualah tulisannya." (Dean Koontz)

"Join with the atqiya`, the abriya`, and the akhfiya`." (Ust. Umar Faqihuddin)

“Prinsip pertama saya dalam hal menulis adalah membebaskan diri. Ini berarti, saya harus membebaskan diri saya dari hal-hal apapun. Agar kata-kata dari dalam diri saya dapat keluar dan kemudian tersusun menjadi kalimat-kalimat bermakna, sya harus menganggap diri saya seorang diri pada saat menulis.”__Hernowo, ABISP

“Aku, sejak pertama menulis, mencoba berpegang pada prinsip yang aku anggap cukup ideal untuk diriku. Prinsip itu terangkum dalam akronim RAW (mentah)-WAR (perang); Kepanjangannya ialah Read, Analyze, Write.”__Herliawan Setiabudi

"Jika kau mengekor langkah orang lain, kau akan kehilangan masalah-masalah yang sesungguhnya sangat berharga jika kau pecahkan sendiri."__[Shadow Divers, p. 134]

"Keistimewaan itu lahir dari persiapan, dedikasi, konsentrasi, dan kegigihan; jika kau kompromikan salah satunya, kau akan jadi orang kebanyakan."__[Shadow Divers, p. 134]

"Periksa segala sesuatu; tidak semua hal seperti yang terlihat atau seperti yang dikatakan orang lain kepadamu."__[Shadow Divers, p. 134]

"Tetapi aku punya sesuatu yang istimewa, yaitu keberanian. Menjadi Pangeran Pemberani lebih aku sukai daripada jadi Pangeran Rupawan, karena aku harus punya keberanian."__[Shadow Divers, p. 117]

"Yang paling penting, Chatterton tak pernah mau menyerah." [Shadow Divers, p. 143]

"Kakek mereka membela kehormatan dirinya sebagai lelaki sejati." [Shadow Divers, p. 116]

"Kakek mereka itu menghargai keunggulan dan kegigihan, dan bahwa kehidupan bisa jadi tak terbatas bagi orang-orang bercita-cita tinggi dan tak pernah menyerah." [Shadow Divers, p. 117]

"Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya."

"Kasih ibu, bagai sang surya menyinari dunia. Hanya memberi tak harap kembali."

"I'm the equal of any man, I have within me the capacity to achieve whatever I desire, and I intend to do just that."

"So, declare war, rigt now, on your negative thoughts. As quickly as you do, you'll find that your fear of the future, of insecurity, of defeat, will rapidly dissipate."

"False beliefs, negative thinking, are based upon doubt and fear. And there is no realistic reason why you should be a victim of them."

"The winners override fear and doubt!"

"Do more than you get paid for and soon you'll be paid for more than you do!"

"Air. Menyesuaikan bentuknya ke manapun ia bergerak dalam alirannya, menyingkirkan batu-batuan yang menghalangi, memuluskan batu-batuan besar. Ia tidak pernah berhenti, ia tidak pernah sama. Semakin cepat ia bergerak, semakin jernihlah ia jadinya."

"Jangan pernah menjelaskan kepada orang-orang Anda, cara melakukan segalanya. Jelaskan saja apa yang harus dilakukan maka mereka akan mengejutkan Anda dengan orisinalitas mereka."

"Rayap. Dari dalam struktur rumahnya, diam-diam rayap memakan kayunya, pasukannya dengan sabar menembus tiang dan penopang. Pekerjaan mereka tidak ketahuan, namun hasil karya mereka pasti dahsyat."

"Menaklukkan bukanlah apa-apa. Kita harus untung dari sukses kita."

"Matahari. Ketika matahari terbenam di bawah cakrawala, ia meninggalkan berkas cahaya cemerlang yang layak dikenang. Kembalinya matahari selalu dinantikan."

"Bumi dan langit begitu luas. Apa yang ditakdirkan oleh-Nya..."

"Sebuah kaum yang generasinya berbondong-bondong memburu syahadah. Tak kenal kata kalah, menyerah." (Khalid bin Walid)

"Menulis adalah tradisi para ulama. Lestarikan budaya menulis sebagai wujud peneladanan terhadap mereka." (Herliawan Setiabudi, The Compilation of Wise Words)

"KEKACAUAN-adalah tempat lahirnya IMPIAN CEMERLANG." (I Ching)

"Dinding. Lawan Anda berdiri di balik sebuah dinding, yang melindungi mereka dari orang asing dan penyusup. Jangan membenturkan kepala Anda ke dinding tersebut atau mengepungnya; temukan pilar dan penopang yang menjadikan dinding tersebut berdiri dan yang memberinya kekuatan. Galilah di bawah dinding tersebut, rusak fondasinya hingga dinding tersebut ambruk dengan sendirinya."

"Ia selalu mengikuti perkembangan zaman dan turut berubah sesuai perubahan zaman. Yang bertahan adalah prinsip yang teguh, hukum batiniah keberadaannya, yang menentukan segala tindakannya." (I Ching)

"Kalau ada cita-cita yang layak dibidik, seharusnya kita bercita-cita menjadi seorang pejuang strategis, pria atau wanita yang mengelola situasi-situasi sulit dan orang-orang sulit melalui manuver yang cerdik dan cerdas."

"Dalam menghadapi lawan cerdik yang juga menggunakan strategi, berkembanglah tekanan ke atas: untuk meraih keunggulan, seorang jenderal harus lebih strategis lagi, lebih tidak langsung dan lebih cerdik lagi, daripada pihak lawan."

"Para pemimpin militer menemukan bahwa semakin mereka berpikir dan membuat rencana di depan, semakin besar kemungkinan mereka sukses."

الصبر مر في مذاقته ولكن عواقبه أحلى من العسل

Ahmad Yasin

Ahmad Yasin
Syaikh Intifadhah Palestina

oleh: Hafizh Assami


"Hilangnya Palestina ke tangan Yahudi pada tahun 1948 M disebabkan oleh gejala stagnasi umat. Dan solusinya adalah membangun kembali kesatuan dan kekuatan siyasah Islamiyah (politik Islam) agar semua rezim sekuler yang ada dapat diruntuhkan dan diganti karena sangat tidak islamis dan anti-Islam."


Masa Kecil

Syaikh Ahmad Ismail Yasin, atau yang lebih familiar dengan nama Ahmad Yasin, lahir pada tahun 1938 M di sebuah Hamlet kecil (perumahan miskin di pedesaan) di al-Jaurah (kini telah musnah), di pinggiran daerah al-Mijdal, selatan Jalur Gaza dekat kota Ashkelon, Palestina.

Pada waktu kecil, beliau dijuluki dengan nama Ahmad Sa'dah. Nama ini diambil dari ibunya yang bernama Sa'dah Abdullah Al-Hubael. Hal ini dimaksudkan untuk dapat membedakan nama Ahmad yang banyak dipakai di keluarga Yasin. Sedangkan sang ayah telah wafat ketika umur beliau belum lagi genap tiga tahun.

Saat menginjak usia kurang lebih sepuluh tahun, beliau meninggalkan al-Jaurah, mengungsi bersama keluarganya ke Jalur Gaza setelah perang Israel-Palestina (Nakbah) tahun 1948 M meluluhlantakkan kampung halaman mereka. Sebelumnya, beliau sempat mengenyam pendidikan dasar sampai kelas lima.

Tak jauh beda dengan pengungsi Palestina lainnya, keluarga Syaikh Yasin juga merasakan getirnya kemiskinan dan kelaparan. Selama masa 1949-1950, Syaikh Yasin meninggalkan bangku sekolah. Untuk menyambung hidup tujuh orang anggota keluarganya, beliau, yang masih sekecil itu, harus bekerja sebagai salah satu pelayan restoran di Gaza. Lalu, beliau bisa melanjutkan kembali studinya yang terputus.

Di tahun 1952, ketika beranjak remaja, musibah menimpa beliau. Sebuah kecelakaan yang terjadi ketika berolahraga, membuat tulang leher beliau patah dan imbasnya menyebabkan kelumpuhan pada tangan dan kaki, yang tak kunjung pulih hingga akhir hayatnya. Sejak saat itu, beliau menjalani hari-harinya di atas kursi roda. Kendati demikian, tak pernah beliau menampakkan sikap pesimistis menghadapi ujian tersebut. Semua beliau jalani dengan penuh kerelaan.

Dengan semua keadaan ini, Syaikh Yasin menyelesaikan sekolah menengah atasnya pada tahun 1957-1958 M. Bahkan, kelumpuhan yang beliau alami itu tak bisa meredupkan semangat studi beliau. Tebukti, di tahun 1959 M, tekad baja beliau menuntunnya sampai ke Mesir untuk beberapa lama belajar di Universitas Ain Syams. Di sana, beliau menerima sebuah diploma universitas.


Kontra-kezhaliman

Sepulang dari Mesir, beliau langsung mendapatkan pekerjaan. Meskipun, pada mulanya, beliau menghadapi hambatan-hambatan yang menyangkut kondisi fisik. Beliau bekerja sebagai pengajar Bahasa Arab dan Studi Islam, disamping sebagai pengkhutbah yang popular di beberapa masjid di Jalur Gaza.

Keahlian orasi Syaikh Yasin mulai tampak jelas dan melambungkan bintang baru ini ke atas langit gaza bersama para da'i lainnya. Namun hal itu justeru mengundang kecurigaan spionase Mesir yang menjadi antek-antek penjajah. Akhirnya, di tahun 1965 M beliau ditangkap bersamaan dengan penangkapan besara-besaran yang dilakukan pemerintah Mesir terhadap jama'ah al-Ikhwanu al-Muslimun (IM) sejak tahun 1954.

Hampir sebulan Syaikh Ahmad Yasin sempat mendekam dalam penjara. Kemudian dilepaskan kembali setelah semua penyelidikan membuktikan tak ada hubungan antara dirinya dengan jama'ah IM. Selama masa penahanan, beliau justeru memperoleh kesan mendalam atas dirinya yang terungkap dalam kata-kata, "Saya benci kezhaliman." Bahkan pada masa itu, beliau mendukung adanya legalitas terhadap suatu kekuasaan yang harus didirikan atas dasar keadilan dan keykinan bahwa setiap orang harus merdeka.

Pasca-kekalahan Arab dalam perang tahun 1967 M, penjajahan Israel atas tanah-tanah Palestina semakin menjadi-jadi, termasuk terhadap wilayah Jalur Gaza. Karena itu, Syaikh Yasin terus berorasi dari atas mimbar Masjid Al-Abbas di kampung Ar-Ramal, Gaza, untuk menolak para penjajah. Pada saat yang sama, beliau juga aktif menggalang dana dan bantuan bagi keluarga para syuhada dan tahanan Palestina.


'Arsitek' Hamas

Alur pemikiran jamaah IM cukup mewarnai sepak terjang 'Amir Syuhada'. Begitu sebutan yang kerap disematkan kepada beliau. Memang, sejak keberadaan Syaikh Yasin di Mesir, beliau sudah mulai berinteraksi dengan organisasi yang didirikan oleh Syaikh Hasan Al-Banna pada tahun 1928 M tersebut.

Pada tahun 1983 M, Syaikh Ahmad Yasin ditangkap rezim imperialis Israel dengan tuduhan memiliki senjata, membentuk pasukan militer dan menyerukan pelenyapan eksistensi negara Yahudi. Karenanya, beliau dihadapkan ke mahkamah militer Israel dan divonis 13 tahun penjara.

Lalu di tahun 1985 M, setelah mendekam selama belasan bulan dalam penjara rezim Israel, beliau dikeluarkan. Hal ini menyusul adanya upaya pertukaran tahanan antara pihak rezim imperialis Israel dengan PFLL (Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina).

Berbagai kondisi tak mengenakkan yang beliau alami, tak membuat langkah perjuangan beliau surut sedikit pun. Beliau bersama pejuang-pejuang lainnya berupaya mencari formula-formula baru untuk menggebrak keangkuhan serdadu-serdadu Israel. Demi tujuan itu, Hamas (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah) didirikan pada pertengahan tahun 1987. Beliau bersama Syaikh Abdul Aziz Ar-Rantisi mengarsiteki terbentuknya tanzhim ini, sebelum nantinya, di tahun 1992 M memiliki sayap militer Brigade Izzuddin Al-Qassam di bawah komando insinyur Yahya Ayyasy.

Secara organisatoris, Syaikh Ahmad Yasin memiliki peran penting dalam intifadhah Palestina yang meletus saat itu. Intifadhah pertama ini dikenal dengan nama Intifadhah Masjid. Kemudian, beliau diangkat sebagai pemimpin spiritual bagi gerakan tesebut.

Di masa-masa selanjutnya, Hamas semakin mendapatkan tempat di hati penduduk Palestina. Sebaliknya, bagi Israel, tentu sangat menyesakkan dada mereka. Organisasi ini semakin mengokohkan eksistensinya, karena dikenal tak memberikan kompromi jika berhadapan dengan Israel. Hal ini tidak mengherankan. Sebab, mereka memiliki komitmen kuat untuk mengobarkan perang melawan Yahudi dan menguak konspirasi para petinggi gerakan Zionis yang termaktub dalam Protocols of the Elders of Zion. Cita-cita mulia pejuang Hamas untuk mengangkat tinggi-tinggi kalimat Allah di bumi Palestina, membuat pamor mereka kian bersinar di dunia Islam umumnya, dan di tengah-tengah warga Palestina yang merindukan kemerdekaan.


Bahasa Senjata

Seiring perjalanan waktu, meningkatnya intifadhah dan kekuatan bersenjata terlihat dari kemampuannya melaksanakan aksi-aksi bersenjata. Misalnya, menyandera dua serdadu Israel tahun 1989 M. Imbas aksi ini, Syaikh Yasin ditangkap pada tanggal 18 Mei 1989 M bersama dengan ratusan anggota Hamas lainnya.

Melihat kedudukan Syaikh Yasin yang begitu kharismatik di mata anggota-anggotanya, membuat sebuah satuan pasukan berani mati (fida`iy) dari Brigade Izzuddin Al-Qassam menculik seorang serdadu Israel pada 13 Desember 1992 M. Al-Qassam menuntut pelepasan serdadu Israel tersebut dengan kompensasi pembebasan Syaikh Ahmad Yasin dan beberapa tawanan Arab yang ditangkap militer Israel di Lebanon. Namun Israel menolak tuntutan tersebut, bahkan balik melancarkan serangan ke lokasi penahanan sehingga menyebabkan kematian serdadu tersebut berikut seorang komandan kesatuan pasukan Israel yang melakukan aksi penyerangan saat itu. Sedangkan semua sukarelawan Brigade al-Qassam, yang berada di dalam rumah berlokasi di desa Beir Nebala --dekat Jerusalem--, itu menemui syahid. Allahu Akbar!

Hingga, pada tanggal 1 Oktober 1997 M Syaikh Yasin dibebaskan dari penjara setelah Raja Husein dari Yordania meminta dengan tegas kepada pemerintah Israel ketika PM Benyamin Netanyahu menekan Yordania menyerahkan dua agen Mossad yang ditangkap pemerintah Yordania setelah gagal dalam usaha pembunuhan di Amman terhadap Khalid Misy'al, kepala Biro Politik Hammas di Amman.

Kehadiran beliau, telah dinanti-nanti oleh penduduk Palestina. Kemudian, beliau berupaya memulihkan dan membenahi kembali bangunan struktur Hamas setelah diobrak-abrik oleh pihak otoritas Palestina. Yasser Arafat melakukan hal itu atas tekanan pihak Israel dan Amerika Serikat. Hamas mengambil sikap berseberangan dengan pihak otoritas Palestina yang terkesan sangat kooperatif terhadap Israel.

Secara tegas, Syaikh Yasin menolak perjanjian Oslo yang beliau pandang sebagai sebuah "penyerahan yang memalukan" dan "suatu penipuan besar". Pasalnya, selepas ditandatanganinya perjanjian tersebut, pembangunan intensif pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta aneksasi Zionis-Israel atas lahan-lahan warga Palestina, kian jauh melampaui batas toleransi. Di mata warga Palestina, dengan bukti-bukti nyata ini, pandangan Syaikh Yasin semakin kuat mendapat pembenaran. Persaingan visi dan ketokohan Syaikh Yasin dengan Arafat, mengakibatkan ruang gerak beliau dibatasi. Bahkan, tahanan rumah pun kerap kali diberlakukan terhadap beliau dan hubungan komunikasi beliau selalu dipantau secara ketat.

Bagaimanapun juga, kerenggangan hubungan Hamas dan otoritas Palestina sangat menguntungkan Israel. Syaikh Yasin tetap berhati-hati agar tidak terjadi friksi berulang-ulang dengan pihak otoritas Palestina. Sebab ada agenda dan upaya-upaya Israel untuk menggiring agen-agen keamanan otoritas Palestina untuk memunculkan konflik internal di tubuh masyarakat sipil Palestina.

Untuk menghadapi Israel, Hamas teguh pada pendirian bahwa kebebasan harus diperjuangkan, bukan hadiah atau pemberian, dan yang dirampas dengan kekuatan hanya bisa direbut kembali melalui kekuatan.

Oleh karenanya, Hamas mempertahankan operasi-operasi martir melalui aksi istisyhadiyah. Aksi-aksi bom syahid tersebut diarahkan kepada target-target militer, bukan kepada penduduk sipil. Melalui pengalaman panjang berinteraksi dengan Israel, Hamas faham betul bahwa Israel hanya mengerti bahasa senjata. Segala perundingan dan perjanjian hanya isapan jempol. Ajakan Hamas untuk menghentikan semua serangan kepada rakyat sipil, baik Israel maupun Palestina, ditolak mentah-mentah. Intinya, kaum Zionis mengacuhkan semua inisiatif ke arah perdamaian.


Problem-solver

Di luar aktivitas perjuangan beliau bersama Hamas, nama Ahmad Yasin erat dengan masalah-masalah perdamaian hubungan antar manusia. Seorang pekerja di Dewan Islah (Perdamaian), rintisan Syaikh Yasin, memberikan kesaksian, "Prioritas utama Ahmad Yasin ialah mendamaikan manusia. Rakyat Palestina banyak yang meninggalkan institusi pengadilan dan beralih kepadanya untuk menyelesaikan masalah mereka."

Menariknya, Syaikh dikenal sangat ramah dan terbuka. Setiap hari pintu rumahnya tak pernah ditutup. Siapapun boleh masuk untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Terutama kaum papa (dhuafa). Bahkan semua kelompok mana pun, di dalam masyarakat Palestina, tanpa sungkan menemui beliau. Sebab, Syaikh dipercaya dapat menyelesaikan masalahnya secara adil dan fair. Lantaran hal itu, banyak warga sipil menarik berkas perkaranya yang berada di pengadilan atau dari seorang pengacara, dan kemudian membawanya ke Syaikh Yasin untuk memperoleh penyelesaian.


Intifadhah Al-Aqsha

Partisipasi aktif Hamas dalam intifadhah Al-Aqsha yang meletus pada akhir September 2000 M, menyulut gelora perlawanan Palestina. Terutama, setelah penataan ulang struktur oganisasi Hamas, dan ditopang oleh adanya sayap militer.

Israel makin berang. Negara Yahudi itu lalu menjalankan program 'kampanye keliling dunia' untuk menyebar provokasi agar negara-negara dunia memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris dan memutus aliran dana dengan membekukan rekening anggota-anggotanya. Propaganda ini disambut hangat oleh negara-negara Uni-Eropa, yang pada tanggal 6 September 2003 secara resmi memasukkan Hamas berikut biro politiknya sebagai organisasi teroris.

Eksistensi Hamas dengan aksi-aksi spektakulernya, tak lepas dari sosok seorang Ahmad Yasin. Karena dinilai sangat berbahaya, pihak kolonial Israel beberapa kali berusaha membunuh Syaikh Yasin secara langsung. Pada tanggal 6 September 2003 M, sebuah rudal dilepaskan pesawat tempur Israel ke rumah salah seorang tokoh Hamas, Ismail Haniyyah, namun beliau selamat dalam aksi percobaan pembunuhan ini.
Senin (22 Maret 2004), keheningan fajar dibuyarkan oleh ledakan dahsyat. Suaranya menggema ke seantero langit Gaza. Tiga buah roket diluncurkan Israel melalui helikopter Apache ke arah Syaikh Yasin serta dua orang pengawalnya, seusai menunaikan shalat shubuh di masjid Ja'ma Islami. Peristiwa itu menandai berakhirnya kiprah Syaikh Ahmad Yasin dalam perjuangan Palestina. Beliau pergi menemui Rabb-nya setelah menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah perjuangan umat Islam. Dalam serangan brutal itu, beberapa orang lainnya pun turut menjadi korban, termasuk dua orang putra Syaikh Yasin, yang mengalami cedera cukup serius. Atas karunia Allah, kuatnya ledakan tak mampu mengoyak jasad Syaikh Yasin.

Hari itu, warga Palestina dan umat Islam sedunia berkabung. Iring-iringan warga membanjiri jalan-jalan kota Gaza. Awan gelap dari asap bangkai kendaraan yang terbakar menyelimuti udara Gaza. Seolah, turut berbelasungkawa atas kepergian sang 'Amir Syuhada'.

Kecaman terhadap Israel datang silih berganti dari berbagai kalangan, media massa, oraganisasi dan lembaga-lembaga Islam dunia. Perwakilan Saraya Al-Quds, sayap militer organisasi perlawanan Jihad Islam, memberikan pernyataan, "Saraya Al-Quds memberitahukan kepada bangsa Palestina, Arab dan Islam tentang syahidnya salah satu pemimpin bangsa kita, Arab dan Islambersama dengan enam penduduk Palestina pada Senin, 1 Shafar 1425 H, yang bertepatan dengan 22 Maret 2004 M, akibat serangan Israel di kota Gaza. Kami menyampaikan selamat dan keberkahan kepada seluruh bangsa kami. Kami mengucapkan, tidak ada ratap tangis untuk orang seperti Syaikh Ahmad Yasin dan para syuhada yang meninggal bersamanya. Mereka hidup dan kita mati. Merekalah yang mengembalikan ruh bangsa ini, saat mereka menebus dengan ruhnya."

Nama harum Syaikh Ahmad Ismail Yasin, akan dikenang sepanjang masa oleh rakyat Palestina dan dunia. Khutbah-khutbah pembakar semangat beliau, akan tetap menggugah spirit jihad kaum Muslim di seluruh penjuru bumi.*[]

Syamil Salmanovich Basayev

Syamil Salmanovich Basayev
Pahlawan Kaukasus

oleh: Hafizh Assami


“Seorang Mujahid faham bahwa eksistensi musuh merupakan alat uji untuk menakar kadar keimanan, tekad, keteguhan, kesabaran, dan mengasah kemampuannya dalam mengambil keputusan. Musuh mendorongnya berperang, demi menjalankan tugas di hadapan Allah.”


Dari Imam Ke-3

Syamil Salmanovich Basayev lahir 14 January 1965, di desa pegunungan Vedeno, kawasan tenggara Chechnya. Sejak 2003, Basayev dikenal sebagai Amir Abdullah Syamil Abu Idris. Namanya diambil dari Imam Syamil, ulama-mujahid yang hidup antara tahun 1797-Maret 1871. Ia merupakan pemimpin suku-suku Muslim yang tinggal di Kaukasus Utara, sekaligus pengobar gerakan anti-Rusia yang melawan penjajahan kekaisaran Rusia, di abad-19 itu. Ia menjabat sebagai imam ke-tiga bagi masyarakat Muslim Dagestan dan Chechnya selama kurun waktu dua puluh lima tahun, dari 1834 sampai 1859.

Syamil Basayev menyelesaikan semua jenjang sekolah dasar dan menengahnya di Dyshne, Vedeno, tahun 1982. Masa dua tahun selanjutnya beliau lalui di dinas kemiliteran Soviet sebagai anggota tim pemadam kebakaran. Empat tahun berikutnya bekerja di lahan pertanian Aksaiisky, Volgograd, selatan Rusia, sebelum akhirnya memutuskan pergi ke Moskow. Beliau mendaftar studi pada Fakultas Hukum di The Moscow State University, namun gagal. Akhirnya diterima di The Moscow Engineering Institute of Land Management tahun 1987. Berselang satu tahun kemudian, beliau meninggalkan bangku kuliah dan bekerja sebagai salesman komputer.

Syamil Basayev pertama kali dikenal dunia pada tahun 1991. Waktu itu, setelah presiden Jauhar Dudayev memproklamirkan berdirinya CRI (Chechen Republic of Ichkeria), lepas dari Federasi Rusia, pada bulan November 1991, Chechnya dipaksa oleh serbuan militer agar tetap berada di bawah jajahan negara adidaya itu. Tanggal 9 November 1991, Basayev bersama dua rekannya, Lom-Ali Chachayev dan Said-Ali Satuyev membajak pesawat Aeroflot Tu-154 milik Rusia yang take-off dari kota Mineralnye Vody, Rusia, dengan rute penerbangan ke Ankara, Turki. Dengan ‘sedikit’ ancaman akan meledakkan pesawat jika status emergency diumumkan, pembajakan itu sukses. Di Ankara, ‘para pembajak’ mengadakan jumpa pers untuk menjaring dukungan dan simpati masyarakat Muslim dunia dengan menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi di negeri mereka. Sebab, media massa --yang rata-rata berada di bawah kendali Barat--, tak pernah bersikap fair ketika mengekspos informasi mengenai bangsa Muslim Chechnya.

Tahun 1992 Basayev mengunjungi Abkhazia, sebuah kawasan pecahan Georgia, demi membantu Mujahidin setempat melawan pemerintah Georgia yang tetap ingin mempertahankan kontrol atas daerah itu. Di sinilah “Batalion Abkhaz” muncul, yang nantinya melahirkan tentara-tentara handal yang punya andil besar dalam Jihad Chechnya pertama.

Dari Abkhazia, Basayev bertolak ke Azerbaijan untuk bertempur bersama rakyat Muslim Azerbaijan menumpas kaum separatis Armenia. Di tempat inilah untuk pertama kalinya Basayev bersua dengan Jendral Ibnu Khathab, pemimpin Mujahidin Arab. Sepanjang karir militer bersama batalion Abkhaz di Azerbaijan, dikabarkan, beliau hanya sekali mengalami kekalahan. Yaitu, saat bertempur melawan pasukan Dashnak di sebuah tempat bernama Karabakh. Setelah meninggalkan Azerbaijan, beliau dikabarkan berada di Afghanistan menjalin kontak dengan Mujahidin al-Qaeda pimpinan Syaikh Usamah bin Ladin.

Jihad Chechnya I

Perang Chechnya periode pertama dimulai sejak invasi Rusia untuk menumbangkan pemerintahan Jauhar Dudayev pada 11 Desember 1994. Dengan meletusnya perang, presiden Dudayev menempatkan Amir Basayev di jajaran komandan garda depan. Amir Basayev berperan aktif dalam perlawanan itu. Namun kali ini kekuatan “Batalion Abkhaz”-nya harus bekerja ekstra keras untuk membendung kekuatan Rusia yang hendak menguasai ibu kota Chechnya, Grozny. Perang ini berlangsung sampai Pebruari 1995 dengan jatuhnya Grozny ke tangan Rusia. Pasukan Chechnya terdesak hingga ke daerah-daerah pegunungan dengan mayoritas perlengkapan dan instalasi-instalasi perang yang mereka miliki hancur. Saat itu Mujahidin Chechnya mengalami masa-masa genting. Khususnya, setelah pertempuran bulan Mei di sekitar Vedeno yang membuat jumlah personel Mujahidin terus menurun drastis. Di waktu yang hampir bersamaan, angkatan udara Rusia membombardir Dyshne, kampung halaman Basayev, dan mengakibatkan komandan Syamil kehilangan delapan orang anggota keluarga, termasuk istri dan anak-anaknya.

Dalam situasi sulit yang tetap menyelimuti, angkatan bersenjata Chechnya melakukan upaya-upaya keluar dari tekanan. Juni 1995, di bawah komando Amir Basayev, pasukan Chechnya menempuh strategi penyanderaan terhadap sebuah rumah sakit di Budyonnovsk untuk mendesak Rusia agar segera hengkang dari bumi Chechnya. Basayev dan pengikutnya akhirnya berhasil meninggalkan lokasi dengan membawa sejumlah sandera yang dibebaskan kemudian. Basayev pulang disambut sebagai pahlawan. Walaupun upaya ini tidak seratus persen berhasil, namun cukup efektif untuk sekadar memaksa pemerintahan Moskow menghentikan perang selama beberapa bulan. Masa-masa itu tidak disia-siakan oleh Mujahidin. Mereka memulihkan kekuatan dan menata ulang strategi.

Di tahun 1996 Basayev diangkat menjadi Jendral sekaligus menjabat Komandan Angkatan Bersenjata Chechnya. Pada bulan Agustus di tahun yang sama sang Amir sukses memimpin sebuah operasi merebut kembali kota Grozny. Akhirnya Rusia angkat kaki dari Chechnya setelah keletihan melayani gempuran-gempuran yang dilancarkan Mujahidin.

Desember 1996, Syamil didaulat sebagai kandidat presiden dalam pemilihan tahun itu, namun akhirnya ikhlas menerima kemenangan Ashlan Maskadov. Di awal tahun 1997 Syamil diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri oleh Maskhadov. Sejak bulan Januari 1998 Syamil memangku jabatan Perdana Menteri Chechnya. Namun enam bulan kemudian mengundurkan diri.

Bulan Agustus 1999, bersama Jendral Ibnu Khathab, Syamil meninggalkan Chechnya menuju Dagestan untuk bergabung bersama kaum Muslim di sana yang ingin segera lepas dari ikatan statusnya sebagai koloni Rusia.


Jihad Chechnya II

Tahun 2000 Basayev kembali ke Chechnya. Dengan dalih memburu Syamil Basayev dan orang-orangnya, Rusia kembali masuk ke Chechnya. Dengan demikian bendera Jihad Chechnya Jilid-2 mulai dikibarkan. Di tahun inilah kaki kanan Amir Basayev harus diamputasi setelah menginjak ranjau, ketika memandu timnya dalam satu operasi menyisiri ladang ranjau (landmine) yang ditanam tentara Rusia.

Di tahun berikutnya, memasuki Agustus 2001, penyerangan dalam skala besar diarahkan Syamil ke distrik Vedensky. Syamil Basayev masuk dalam “daftar resmi nominasi teroris” versi Dewan Keamanan PBB tahun 2003. Di tahun ini pula, tepatnya tanggal 12 Mei, sekelompok Mujahidin melakukan aksi bom syahid (istisyhadiyyah). Mereka mengendarai sebuah truk bermuatan bahan peledak, lalu menabrakkannya ke komplek gedung perkantoran milik pemerintah Rusia, di Znamenskoye, daerah utara Chechnya. Dalam peledakan tersebut diberitakan 59 orang terbunuh. Peristiwa ini seolah menyambung rantai aksi serupa di tahun sebelumnya, dimana, menurut satu sumber pemberitaan, Basayev mengklaim telah menghancurkan sebuah target bangungan berlantai empat di Grozny, melalui remote control.

Oleh kantor berita Inggris-Yahudi, Reuters, Syamil ‘dianugerahi’ sebuah gelar langka, “Jagal-nya Beslan”, merujuk pada aksi penawanan murid-murid sebuah sekolah di Beslan (Rusia), September 2004. Akibat serbuan serdadu Rusia ke sekolah itu, tercatat 331 anak dan orang dewasa tewas. Basayev sendiri, dalam pesan pribadinya, menggambarkan kejadian itu sebagai “Tragedi Mengerikan (The Terrible Tragedy)” dan itu merupakan kesalahan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Seakan tak pernah reda, spirit jihad Syamil Basayev menuntutnya terus menggadang aksi-aksi yang membuat negara penjajah, Rusia, kuwalahan. Pada pertengahan tahun 2005, bulan Mei menjadi satu barakah tersendiri bagi perjuangan Chechnya, setelah sebuah serangan besar yang dirancang Amir Basayev, mengguncang kota Moskow.

Menyusul kemudian, pada 13 Oktober di tahun yang sama, prestasi gemilang Basayev tertoreh kian indah. Penyerangan Nalchik, ibukota Kabardino-Balkaria, sebuah negara republik satelit Rusia, berakhir sukses besar. Bahkan, yang lebih membanggakan, Syamil dan “orang-orang pilihan”-nya, untuk menyelesaikan operasi ini hanya butuh waktu dua jam berada di dalam kota itu.


Pakar Militer

Ternyata, kesibukan sang Commander di parit-parit jihad tak menghalanginya untuk mengekspresikan buah pikirannya melalui tulisan. Dalam sebuah buku yang dikarangnya, Book of Mujahideen, yang dipromosikan lewat sebuah website Mujahidin Kaukasus (www.kavkazcenter.com), Syamil berbagi ilmu tentang jihad kepada publik dunia. Dalam karyanya ini, beliau berbicara banyak mengenai filosofi prinsipiil dan karakteristik seorang Mujahid, serta pengalaman-pengalaman yang mungkin menghampirinya. Lebih jauh lagi, Basayev juga mendeskripsikan ide-ide taktis dan strategis dalam format sarat seni, sesuai perspektif Islam.

Di mata para pengamat pergerakan jihad, Syamil Basayev adalah seorang pakar perang yang sudah malang melintang di dunia militer. Pegalaman yang sudah terinternalisasi dalam dirinya, bahkan teraktualisasi selama kurang lebih 15 tahun menjadi panglima angkatan bersenjata Chechnya menghadapi kepongahan Rusia, membuatnya layak untuk disebut seorang “Muslim-hero” bagi negeri Muslim Chechnya. Di ranah jihad, baik Chechnya maupun dunia, sang Amir, selain lihai di lapangan, beliau juga dikenal sebagai think-thank militer dalam operasi-operasi khusus, sabotase intelijen (intelligence-sabotage) dan taktik perang gerilya. Satu lagi, yang mungkin menjadi keahlian uniknya, Basayev mampu merancang misi-misi ofensif dalam skala besar (large-scale offensive operations) yang dijalankan oleh hanya sebuah thaifah (grup) kecil.

Sebuah pernyataan singkat Komandan Syamil, yang dirilis www.kavkazcenter.com dalam versi bahasa Inggris, mengungkapkan, “A Mujahid knows that enemies exist in order to test his Faith (Iman), his courage, his perseverance, his ability to make decisions, and his patience. The enemies are making him fight for the sake of fulfilling his duty before Almighty Allah (Seorang Mujahid faham bahwa keberadaan musuh merupakan alat uji untuk menakar kadar keimanannya, tekad, keteguhan, kesabaran, dan mengasah kemampuannya dalam mengambil keputusan. Musuh mendorongnya berperang, demi menjalankan tugas di hadapan Allah).”

Dengan aksi-aksi spektakulernya, Basayev terus mengawal perjalanan Jihad Chechnya ke-dua ini. Hussein bin Mahmoud, seorang ulama yang mendukung perjuangan Mujahidin Chechnya, mempersembahkan sebuah artikel penghargaan berjudul “Rajawali Kaukasus” untuk Syamil. Tulisan itu menceritakan perjuangan Muslimin Chechnya yang tak pernah berhenti melewati berbagai rezim, sejak Catherine the Great, Joseph Stalin, Boris Yeltsin sampai Vladimir Putin. Hussein juga menceritakan riwayat hidup Syamil, sejak kelahirannya di Vedeno, pengalamannya berjihad di Khost, Afghanistan, hingga memimpin jihad di negerinya sendiri. Lembaran hidupnya dipenuhi dengan kisah-kisah jihad. Beliau tak mau lengah melepaskan waktu-waktunya berlalu tanpa makna di luar jihad. Meski kaki kanan beliau pun sudah di-’jual’ dalam jihad, beliau tetap tak mau berpisah dengan bumi jihad.

Orang seperti Basayev, sangat sulit dicarikan penggantinya. Hal ini dirasakan oleh para pemimpin Chechnya di saat kepergian sang panglima perang, untuk selama-lamanya. Begitulah sosok Syamil, sebutir mutiara berharga bagi rakyat Muslim Chechnya. Himmah-nya yang teramat kuat untuk berjihad, memancar dan menginspirasi setiap orang yang menyimak kisah hidupnya untuk selalu merindukan atmosfer jihad. Beliau menghibahkan dirinya untuk hidup dalam nuansa jihad. Seakan, seperti tergambar dalam sebait syair, pena pun memutar memorinya untuk mengingat jihad.

“Hingga aku kembali, pena-penaku berkata kepadaku,
‘Kemuliaan hanya milik pedang, bukan milik pena.
Menulislah selalu dengan kami, setelah engkau menulis dengannya.’”



Tarif 10 Juta Dolar

Basayev, yang oleh sebagian media disebut sebagai ‘seorang pria yang pantang mundur’, tercatat sebagai ‘teroris’ nomor wahid di Rusia. Lantaran selalu membuat Rusia kerepotan, Moskow menjanjikan imbalan sepuluh juta dolar untuk penangkapan atau pembunuhan Basayev. Tapi, masih disangsikan, apakah langkah terobosan untuk ‘membeli kepala’ Syamil Basayev itu bisa mempermudah penangkapan atau pembunuhan atas dirinya ataukah tidak. Namun yang pasti, sampai hampir sepuluh tahun sejak sayembara itu diumumkan, toh Basayev, atas izin Allah, masih tetap leluasa mengacak-acak barisan tentara Rusia dengan manuver-manuver khasnya.

Hingga, pada bulan Juli 2006, pihak Rusia menabur kontroversi yang menyelimuti peristiwa gugurnya Basayev. Mereka mengklaim bahwa sebuah misi agen rahasia yang tergabung dalam Federal Security Service (FSB) telah berhasil membunuh Syamil Basayev. Klaim itu ditampik oleh Majelis Syura Mujahidin Kaukasus, melalui statemen resmi muftinya, Abu Umar As-Saif, “There was no special operation whatsoever. Shamil and the other brothers of ours became Shaheeds (insha Allah) according to Allah's (swt) will. The Supreme one has his own plan and decision. And about the special operation, Mujahideen will show how it should be carried out. (Tidak ada operasi khusus apapun. Syamil dan saudara kami lainnya, gugur sebagai syuhada --insya Allah--, sesuai kehendak Allah. Dzat Yang Maha Kuasa memiliki rencana dan keputusan. Mengenai (isu,-ed) operasi khusus itu, Mujahidin akan menyikapinya secara proporsional.)”

“Di antara orang-orang Mukmin ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menanti-nanti dan mereka tiada mengubah janji...” (Al-Ahzab [32]: 23)

Pagi cerah, 10 Juli 2006, menjelang. Dataran utara Ingushetia di Kaukasus, tengah dihangatkan musim panas. Sebuah truk KamAZ, dalam persiapan sebuah penyerangan, melintasi hamparan rumpun bunga daisy yang bermekaran di mana-mana. Tempat itu, daerah pedesaan Ekazhevo, menjadi saksi, Amir Abdullah Syamil Abu Idris gugur bersama tiga Mujahid lain. Truk kargo bermuatan bahan peledak (explosive) yang dikendarainya itu meledak setelah terperosok dalam sebuah lubang. Beliau gugur ketika membela bangsa Muslim Chechnya berjuang melawan agresi serdadu komunis negeri Beruang Merah.* []

Umar Mukhtar

Umar Mukhtar
Singa Berakhlak Mulia


Nama pahlawan Islam asal Libya ini barangkali sudah tak asing lagi terdengar. Melalui sepak terjangnya yang dipadati oleh kisah-kisah mengagumkan, sang singa padang pasir memperlihatkan kepada dunia, betapa Islam selalu punya cukup ‘izzah untuk sekadar ‘meladeni’ kezhaliman.


Keluarga Mulia

Beliau lahir di al-Bathnan yang terletak di wilayah Jabal al-Akhdhar dari dua orang tua yang shalih, pada tahun 1862 M. Namun, ada juga yang mencatat tahun kelahirannya adalah 1858 M.

Beliau tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga yang dipenuhi kemuliaan dan kehormatan, dikelilingi oleh kesopanan budi kaum muslimin serta akhlak dan sifat mereka yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Ayah beliau bernama Mukhtar bin Umar. Umar Mukhtar sudah ditinggal sang ayah sejak masih kecil. Ayah beliau meninggal dunia saat menempuh perjalanan menunaikan ibadah haji. Selanjutnya, Umar Mukhtar hidup dalam asuhan Syaikh Husain al-Gharyani, saudara kandung ayahnya.


Akidah, Akhlak dan Jihad

Di penghujung era kekhilafahan hingga menjelang Perang Dunia II, beliau mengobarkan jihad melawan kekuatan Italia yang menjajah negerinya. Tahun 1911, pertama kali beliau terjun ke kancah jihad menghadang serdadu agresor Fasis itu, yang sedang menjadi ‘momok’ menakutkan di seantero Eropa.

Dari figur mujahid besar yang satu ini, kita banyak diajari nilai-nilai akhlaq qur`ani yang mulia. Umar Mukhtar adalah orang yang selalu menjaga shalat tepat pada waktunya. Ia juga selalu membaca al-Qur`an setiap harinya. Ia mengkhatamkan al-Qur`an setiap tujuh hari sekali, sejak mendapat pesan dari seorang imam bernama Muhammad al-Mahdi as-Sanusi. Isi pesan itu cukup singkat, “Wahai Umar, wiridmu adalah al-Qur`an.”

Beliau mengharuskan kepada dirinya sendiri untuk selalu menunaikan shalat dhuha. Beliau juga adalah orang yang senantiasa menjaga wudhunya meski pada waktu-waktu di luar shalat.

Mahmud al-Jahmi, seorang mujahid yang berperang di bawah komando Umar Mukhtar, menuturkan dalam catatan hariannya selama mendampinginya. Ungkapnya, “Saya tidak pernah melihat Umar Mukhtar tidur hingga pagi menjelang, barang sekalipun. Paling banyak, beliau tidur dua atau tiga jam, lalu bangun untuk membaca al-Qur`an sampai Subuh. Pada tengah malam, beliau lebih sering meraih kendi dan wudhu. Lalu, kembali membaca al-Qur`an. Beliau sungguh seorang yang berakhlak mulia dengan keistimewaan sifat wara’ (berhati-hati dari yang haram) dan takwa, serta bersifat sebagai seorang mujahid yang mulia.”

Karena keimanan yang besar, lahirlah dalam dirinya sifat-sifat yang indah. Amanah, keberanian, kejujuran, menentang segala rupa kezaliman dan kesewenang-wenangan, seakan tak mau berpisah dari kepribadian beliau.

Dengan segudang prestasi, pengalaman, dan berbagai skill yang melingkari, tak berlebihan kiranya nama gagah ‘Singa Padang Pasir’ disematkan kepada beliau.


Di Mata Lawan

Tak hanya menjadi ikon kekaguman pengikutnya, di mata lawan pun, beliau tetap diakui sebagai pribadi yang mulia, sekaligus menggentarkan nyali mereka.

Rudolfo Grazziani, seorang jendral perang Italia, melontarkan komentar positifnya tentang Umar Mukhtar, “Umar Mukhtar merupakan salah seorang tokoh mujahid yang disegani. Dia menempati kedudukan yang tinggi di kalangan para pengikut dan orang-orang yang mencintainya. Sosok Umar Mukhtar berbeda dengan mujahid yang lain. Tak ada yang meragukan kapabilitasnya sebagai seorang syaikh yang sangat komitmen dengan ajaran agamanya, sangat teguh dan kokoh dalam beragama, serta sangat pengasih di saat-saat sulit. Dia tidak akan mengkhianati prinsip-prinsip yang diyakini selamanya. Dia senantiasa dihormati, meskipun tindak-tanduk yang dilancarkannya tidak pernah memihak kami.”

Grazziani mengatakan demikian karena, “Pengalaman yang telah saya lalui dalam perang Libya.”

Celupan Al-Qur`an banyak mencetak sikap tegasnya membawa aqidah Islam ke alam realitas. Karakter khas ini terbaca dari prestasi-prestasi spektakuler sepanjang perjalanan jidad beliau melawan tentara Italia yang menjajah tanah Libya.

Ketika berada di bawah tawanan Italia, beliau menegaskan keyakinannya, “Sesungguhnya, tertawannya saya merupakan penegasan terhadap ketentuan Allah ta’ala dan sudah tertulis sebelumnya dalam ilmu Allah.

Sekarang, saya menjadi tawanan pemerintah Fasis Italia. Allah akan melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap saya. Kalian telah berhasil menangkap saya, dan kalian bisa melakukan apa saja tehadap saya.

Tetapi, di sini saya ingin menekankan bahwa saya tidak pernah berpikir untuk menyerah di hadapan kalian. Meskipun tekanan dan penderitaan itu sangat berat. Namun kehendak Allah menginginkan hal ini. Dengan demikian, tak ada yang dapat menolak ketentuan dan kehendak Allah ta’ala.”


Tiang Gantungan

“Wajib bagi setiap muslim berjihad. Kewajiban itu bukan datang dari dirinya sendiri, bukan juga karena keinginan orang tertentu, akan tetapi ia adalah kewajiban dari Allah Yang Maha Esa.”

Ini adalah kata-kata beliau yang diabadikan sejarah dengan tinta emas. Hingga, saat beliau ditawari untuk menunaikan ibadah haji, beliau sampaikan, “Sekali-kali, aku tidak akan meninggalkan medan jihad ini sampai datang utusan-utusan Rabb-ku. Dan sungguh, pahala haji tidak dapat mengungguli pahala membela agama, akidah, dan tanah air Islam.”

Beliau banyak berdoa kepada Allah untuk membuat akhir umurnya berada di atas jalan jihad yang penuh berkah. Beliau katakan, “Ya Allah, jadikanlah kematianku dalam keadaan jihad yang penuh berkah ini.”

Doa beliau dikabulkan Allah. Hari Rabu, tanggal 16 September 1931, tepat pukul 9 pagi, penjajah Italia melaksanakan eksekusi hukuman mati di tiang gantungan terhadap syaikh dan pahlawan jihad, singa padang pasir Libya di Saluq, sebuah tempat di selatan kota Benghazi, setelah sekian lama beliau bergelut di medan jihad.[]

Muhammad Natsir

Muhammad Natsir
Inspirator Dakwah Indonesia



Nama Muhammad Natsir, tentunya sudah sangat akrab bagi kaum Muslim Indonesia. Sosoknya yang penuh semangat berdakwah dan membela Islam, tidak hanya popular di negeri ini, namun juga meluas ke penjuru dunia Islam.

Muhammad Natsir, dengan gelar Datuk Sinaro Panjang, lahir dari pasangan Sutan Saripado dan Khadijah, di Sumatera Barat. Tepatnya, di Kampung Jembatan Berukir, Kecamatan Lembah Gumanti, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, pada tanggal 17 Juli 1908. Gaya bicara Natsir penuh sopan santun, rendah hati dan bersuara lembut. Ia juga sangat bersahaja dan terkadang bercanda dengan siapa saja yang menjadi teman bicaranya.


Dunia Pendidikan

Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (HollandsInlandscheSchool) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (AlgemeneMiddelbareSchool) di Bandung.

Lulus dari AMS dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah pada Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten (sekarang Sarjana Hukum), atau kuliah ekonomi di Rotterdam, Belanda. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi. Tetapi, semua peluang itu tidak diambil Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustadz A. Hassan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung. Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar.

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikan dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi pemembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dakwah dan pemikiran. Bahkan, lebih dari 35 judul telah diterbitkan dalam bahasa Arab, diantaranya adalah Fiqhud Da’wah (Fikih Dakwah) dan Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu Dari Dua Jalan).


Kontra-Sekularisme

Walaupun pernah menjabat perdana menteri RI (bahkan yang pertama), dan menteri penerangan di beberapa kabinet, Natsir tetap merupakan pribadi yang tegas menentang sekularisme. Diantara sikap tegasnya itu, tercermin dari ungkapannya pada saat berpidato di Ruang Sidang Konstituante pada 13 November 1957. Ketika itulah, Natsir mengupas kelemahan sekularisme, yang ia katakan sebagai paham tanpa agama, atau la diiniyah. Sekularisme, kata Natsir, adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan, dan sikap hanya dalam batas keduniaan. Ia katakan, ”Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengatahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah ataupun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka.”

Lebih jauh, ketika mengupayakan Islam sebagai dasar negara Indonesia kala itu, Natsir menjelaskan betapa sekularisme adalah sesuatu yang tidak pantas disejajarkan dengan Islam, ”Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebut humanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, di mana sumber perikemanusiaan itu?”


Dunia Dakwah

Setelah menapaki dunia politik (bersama MASYUMI-nya) yang dipenuhi oleh beragam polemik antara dirinya dan Soekarno (Orla), di masa awal Orde Baru, tepatnya tahun 1967, bersama tokoh umat yang sehaluan dengannya, Natsir mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Pengabdian di bidang dakwah ini bukan dalam makna simbol, tetapi tumbuh lewat perangkat lengkapnya baik lisan, tulisan dan bil-haal (amaliah nyata). DDII banyak menghidupkan dakwah Islam di semua kalangan masyarakat. Mahasiswa-mahasiswa yang potensial banyak mengambil manfaat dari DDII, di mana Natsir sebagai tokoh sentral memberikan rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, terutama negara-negara Timur Tengah. Beberapa lembaga pendidikan Islam, pembangunan masjid, penyantunan orang tua, anak yatim, dan rumah sakit Islam di berbagai pelosok tanah air, juga mendapat asuhan dan dorongan utama dari Natsir.

Dalam percaturan dunia Islam, khususnya di negara-negara Arab, Natsir sangat dikenal, dihormati dan disegani. Ia ikut serta dan terlibat pada beberapa organisasi Islam tingkat internasional. Tahun 1967 diamanahi menjabat Wakil Presiden World Muslim Congress (Muktamar Alam Islami), yang berpusat di Karachi, Pakistan. Tahun 1969 menjadi anggota World Muslim League, Mekah, Saudi Arabia. Tahun 1972 menjadi anggota Majlis A’la al-Alam lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia), Mekah, Saudi Arabia. Tahun 1980 menerima “Faisal Award” atas pengabdiannya kepada Islam dari Raja Faisal, Saudi Arabia. Tahun 1985 menjadi anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable Foundation, Kuwait. Pada tahun 1986 menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Centre for Islamic Studies, London, Inggris dan angota Majelis Umana’ International Islamic Univesity, Islamabad, Pakistan.


Sejumput Pesan

Barangkali, ucapan Muhammad Natsir berikut bisa menjadi motivasi bagi generasi baru muslim untuk tetap bercita-cita hidup dalam naungan kaaffah Islam. Ia mengatakan, “Islam tidak terbatas pada aktivitas ritual muslim yang sempit, tapi pedoman hidup bagi individu, masyarakat dan negara. Islam menentang kesewenang-wenangan manusia terhadap saudaranya. Karena itu, kaum muslimin harus berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan. Islam menyetujui prinsip-prinsip negara yang benar. Karena itu, kaum muslimin harus mengelola negara yang merdeka berdasarkan nilai-nilai Islam. Tujuan ini tidak terwujud jika kaum muslimin tidak punya keberanian berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan, sesuai dengan nilai-nilai yang diserukan Islam. Mereka juga harus serius membentuk kader dari kalangan pemuda muslim yang terpelajar.”*

Abu Umar As-Saif

ABU UMAR AS-SAIF
Mufti Yang Mujahid


Nama lengkap beliau Muhammad bin Abdul1ah bin Saif At-Tamimi. Dibesarkan di propinsi Al-Qashim, Kerajaan Saudi Arabia. Sebelumnya pernah menimba ilmu dari para ulama kaliber di Saudi Arabia, semisal Syaikh Muhammad bin Shalih A1-’Utsaimin. Sebelum masuk dalam kancah jihad Chechnya, kehidupan jihadnya bermula di Afghanistan, dengan mengikuti pelatihan militer di sana. Kemudian beliau pindah ke Chechnya pada tahun 1417 H bertempat di kamp militer Panglima Khaththab rahimahullâh, dan berjihad di bawah komando Panglima Khaththab rahimahullâh pada permulaan meletusnya perang melawan Rusia.


Sejarah Jihad Beliau

Setelah hengkangnya pasukan Rusia pada perang pertama dari bumi Chechnya dan dibarengi berdirinya Negara Chechnya, para petinggi Chechnya berkeinginan kuat untuk menerapkan syariat Islam. Lalu diangkatlah Syaikh Abu Umar As-Saif untuk mengawasi dan membimbing perja1anan dan pembelajaran calon hakim agama. Maka dari itu didirikanlah Sekolah Tinggi Hukum Agama Islam, dan Sekolah Tinggi Penegak Syariat di kota Gudermes, yang di kemudian hari meluluskan beberapa hakim dan pelajar terbaik.

Pada tahun 1420 H, pasukan Rusia kembali melakukan agresi ke Chechnya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Syaikh Abu Umar As-Saif untuk menghunuskan senjatanya dan bergabung ke dalam barisan mujahidin. Beliau tidak hanya menjadi penasehat dan penggerak semangat jihad para mujahid, bahkan nasehat dan dorongan yang disampaikannya itu ikut mendarah daging dalam tubuhnya untuk terjun langsung ke kancah jihad bersama mujahidin lainnya.

Tidak sekali beliau terluka dalam peperangan melawan Rusia, bahkan tidak terhitung luka yang dialaminya ketika terjadi konfrontasi dengan pasukan beruang ‘komunis’ merah itu. Bahkan tidak sedikit adanya rekayasa konspirasi licik dari pihak Rusia untuk mencuri kesempatan menyergap dan membunuh beliau sepanjang perjalanan jihad beliau di Chechnya.

Kesibukan beliau memanggul senjata di kancah jihad tidak menjadikannya lalai untuk menyebarkan ilmu syar’i di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, sampai pada kondisi sesulit dan separah apapun yang dialaminya. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan beliau mendirikan Ma’had Imam Syafi’i, dan kedua, Ma’had Al-Hisbah. Itu di luar kesibukan beliau dalam menyelenggarakan dan mengisi diklat-diklat ilmu syar’i di berbagai daerah di Chechnya, untuk kalangan laki-laki dan perempuan. Hal ini memberikan dampak positif dalam rangka membentuk daya paham masyarakat awam Islam yang ada di Chechnya—khususnya bagi para mujahidin—terhadap perkara-perkara dienul Islam, yang juga menjadi target Rusia dengan pelbagai cara dan metode yang sangat mengerikan untuk menjauhkan masyarakat awam Islam di Chechnya dari ajaran-ajaran agamanya.

Bagi Syaikh Abu Umar As-Saif rahimahullâh tidak cukup kalau hanya berkecimpung dalam jihad menggunakan lisan, pena dan senjatanya saja. Lebih dari itu beliau juga berjihad dengan harta. Ini terbukti dengan adanya usaha beliau dalam mendirikan Yayasan Al Huda yang mengampu peranan sangat besar dalam menampung dan membiayai keluarga mujahidin. Entah yang ditinggal mati syahid ataupun ditawan oleh pihak Rusia, atau rakyat yang sangat memerlukan bantuan, dan bahkan merogoh koceknya sendiri untuk beliau infakkan. Pernah, ketika ada salah seorang mujahidin yang tertawan pihak Rusia, beliau sendiri yang menebusnya dalam jumlah 10.000 US Dollar.

Selain itu semua, beliau juga masuk dalam jajaran atas para pendiri Majelis Syura Militer Mujahidin Chechnya.


Syahidnya Beliau

Perhatian beliau terhadap jihad, tidak hanya terbatas pada masalah-masalah mujahidin yang ada di Chechnya saja, tapi diberikannya ke setiap tempat bumi jihad, seperti di Irak. Beliau pernah berjihad langsung di sana, dan begitu juga di jazirah Arab, tempat dimana beliau pernah mendapatkan siraman rohani yang sangat baik dan arahan-arahan, serta nasehat-nasehat.

Beliau menjumpai syahidnya pada bulan Syawal 1426 H bersama isterinya, setelah terjadi kontak senjata dengan tentara Rusia, dalam kondisi maju pantang mundur sedikitpun.

Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada seorang ‘alim yang satu ini yang telah membuktikan perjuangannya dengan ilmu dan amal.

“Di antara penghidupan yang paling baik yang dimiliki manusia; laki-laki yang menarik kekang kudanya dalam kancah jihad, bagaikan terbang di atas punggungnya, setiap ia mendengar hiruk pikuk dan suara minta tolong, ia pacu kudanya agar ia dibunuh dan mencari mati sesuai sangkaannya.” (HR. Muslim)*

Imam Ahmad bin Hanbal

IMAM AHMAD BIN HANBAL
Benteng Terakhir Ahlu-s-Sunnah Wa-l-Jama`ah



Garis Keturunan

Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal adalah sosok yang menjadi tokoh sentral Madzhab Hanbali, yang juga dinisbatkan pada nama beliau. Beliau termasuk kalangan ulama besar yang memberi warna amat mencolok bagi perkembangan sejarah Islam dan kaum muslimin.

Imam Ahmad bin Hanbal adalah orang Arab tulen keturunan Bani Syaiban. Sebuah kabilah dari anak-cucu Adnan yang bertemu dengan nasab Rasulullah pada Nazar bin Ma’ad bin Adnan. Bani Syaiban memegang peranan penting dalam penaklukan Irak dan Khurasan.

Beliau lahir di Baghdad pada 1 Rabiulawal 164 H. Kakek beliau, Hanbal bin Hilal, dulunya menjabat sebagai gubernur Sarkhas, di masa kekuasaan Bani Umayyah. Ayah beliau, Muhammad bin Hanbal, seorang komandan tentara di Khurasan. Saat Imam Ahmad dalam kandungan, ayah dan ibu beliau memutuskan kembali ke kampung halaman, Baghdad. Sekembalinya dari Khurasan, tak lama setelah itu, Imam Ahmad pun lahir. Berselang tiga tahun sejak kelahiran beliau, sang ayah meninggal dunia. Rupanya Allah hendak menguji beliau sejak usia dini.


Karir Ilmiah

Melalui dekapan kasih sayang dan pendidikan ibunda tercinta, Imam Ahmad kecil tumbuh menjadi anak yang mencintai ilmu dan ulama. Beliau kerap hadir dalam kajian-kajian ilmiah di kota Baghdad.

Imam Ahmad mulai meniti karir keilmuannya di kota kelahiran. Ketika berusia 15 tahun, beliau sudah hafal al-Qur`an dan menguasai baca tulis (leksikografi) dengan baik. Setelah itu beliau belajar hadits secara intensif (mulazamah) di bawah bimbingan beberapa ulama Baghdad.

Sepeninggal guru-guru beliau, Imam Ahmad mulai berpikir untuk mengawali pengembaraan mencari dan mengumpulkan hadits dari ulama-ulama di luar Baghdad. Beberapa kali beliau mengunjungi Iran, Khurasan, Hijaz, Yaman, Suriah, sampai ke Maghrib (Maroko) demi menelusuri jejak para pembawa hadits Nabi sekaligus me-recheck kasahihannya. Ketika menunaikan ibadah haji, beliau berguru kepada ulama-ulama Hijaz. Guru utama beliau ialah Sufyan bin Uyainah, tokoh ahli Madzhab Hijaz yang tinggal di Makkah.

Kemudian beliau menjadi murid Imam Syafi’i dan banyak terwarnai oleh ajaran-ajaran beliau. Kepada Imam Syafi’i, beliau lebih banyak berguru tentang fiqh daripada hadits. Sebab, seperti juga diakui Imam Syafi’i, perbendaharaan hadits Imam Ahmad lebih banyak daripada yang beliau miliki. Imam Syafi’i menilai muridnya ini sebagai orang paling cendekia dari Baghdad yang pernah beliau jumpai.



Fitnah Khalqul-Qur`an

Di masa pemerintahan khalifah Hisyam bin Abdul Malik, muncul pemikiran sesat khalqul qur`an (meyakini al-Qur`an sebagai makhluk Allah) yang diorbitkan pertama kali oleh Ja’ad bin Dirham. Ja’ad, atas perintah khalifah, akhirnya disembelih oleh Gubernur Irak, Khalid al-Qasry, pada hari raya qurban, seusai shalat dan khutbah Ied. Paham ini dipertahankan oleh Bisyr bin Ghiyats al-Marrisy secara sembunyi-sembunyi di masa kahalifah Harun ar-Rasyid. Pasca wafatnya sang khalifah, Bisyr mulai berani mempropagandakan fikrah sesat itu.

Khalifah pertama yang terpengaruh dan secara resmi menyokong doktrin rasionalis Mu’tazilah, yang termasuk di dalamnya khalqul qur`an, adalah Al-Makmun. Ulama-ulama terkemuka satu per satu tunduk di bawah intimidasi khalifah. Tiba giliran Imam Ahmad bin Hanbal untuk diinterogasi. Sikap dan karakter beliau yang agung nampak tatkala beliau dihadapkan kepada khalifah Abbasiyah, Makmun ar-Rasyid di Tarsus.

Khalifah meminta beliau untuk menerima doktrin Mu’tazilah. “Tidak!” jawab Imam Ahmad. “Al-Qur’an adalah Kalam Ilahi. Bagaimana mungkin memperlakukannya sebagai sebuah ciptaan?” bantah beliau. Khalifah lalu mendebatnya dibantu beberapa ulama, tetapi sang Imam tak bergeming, dan menolak mengubah pandangannya yang sesuai dengan keyakinan Nabi dan para sahabat. Beliau akhirnya dipenjarakan.

Khalifah Abbasiyah, Makmun ar-Rasyid meninggal dunia tak lama setelah Imam Ahmad disel. Al-Mu'tashim, khalifah penggantinya, memanggil kembali Imam Ahmad, dan mengajukan pertanyaan yang sama tentang penciptaan al-Qur'an. Karena masih tetap kukuh menentang doktrin itu, beliau dicambuk habis-habisan, dan tetap mendekam dalam penjara. Hal ini berlanjut hingga pada masa khalifah berikutnya, Al-Watsiq bin Mu’tashim. Namun, Al-Watsiq tidak berani menyakiti Imam Ahmad karena permasalahan ini sudah sampai pada klimaksnya di mata rakyat saat itu. Dia khawatir akan terjadi pemberontakan. Akhirnya, Imam Ahmad diperintahkan pergi dan hidup sembunyi-sembunyi.

Semua kekerasan dan kesadisan ini gagal menyimpangkan Imam Ahmad dari jalan yang lurus. Beliau rela menanggung tekanan khalifah Abbasiyah selama 15 tahun. Kala itu, beliau adalah benteng terakhir umat dalam memegangi aqidah ahlus-sunnah yang murni. Sehingga, dengan ketegaran beliau menghadapi siksaan, yang ulama-ulama lainnya lebih memilih bersikap diplomatis, beliau dikenal sebagai Imam Ahlus-sunnah Wal-jamaah.


Masa Kemenangan

Penderitaan Imam Ahmad baru berakhir ketika al-Mutawakkil menjadi khalifah yang kembali kepada kepercayaan asal. Imam Ahmad diundang dengan ramah. Khalifah meminta beliau menjadi guru hadits putra mahkota, al-Mu’taz. Permintaan khalifah itu ditolak oleh Imam Ahmad karena umur dan kesehatan beliau tidak lagi mengizinkan. Beliau pulang ke Baghdad dan wafat tanggal 12 Rabiulawal 241 H. Berjuta orang berkabung pada waktu pemakaman beliau.

Imam Ahmad bin Hanbal amat mementingkan hadits. Karya besar beliau ialah al-Musnad, sebuah ensiklopedi yang memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits. Kitab ini tidak disusun secara tematik seperti Shahih Bukhori dan Muslim, namun diurutkan sesuai nama perawi pertama (shahabat). Karya beliau yang lain ialah ar-Risalah fish-shalaht (buku tentang shalat), Ar-radd-alaz-Zindiq (sebuah risalah sangkalan terhadap aliran Mu’tazilah yang ditulis dalam penjara) dan kitab az-Zuhud, sebuah buku yang besarnya sepertiga al-Musnad, dan masih banyak lagi karya-karya beliau yang lain.

Walaupun tujuan utama ajaran Imam Ahmad itu dapat dilihat sebagai reaksi terhadap kodifikasi fiqh, murid beliau menghimpun dan mensistematisasikan jawaban-jawaban sang guru mengenai berbagai persoalan. Sehingga lahirlah fiqh Hanbali, Madzhab fiqh yang ke-empat.

Madzhab Hanbali, yang menurut sejarah banyak ditentang oleh lawan-lawan yang kuat, menonjol karena ajaran eksponennya yang terbesar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang mencela pemujaan orang suci dan kuburan. Kemudian ajaran ini disegarkan kembali dan dimasyarakatkan oleh pembaharu Arab Saudi, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.[]

Sabtu, 02 Mei 2009

“Kujemput PD-ku lewat ayat-Mu”

“Kujemput PD-ku lewat ayat-Mu”
catatan Hafizh Assami 

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali Imran [3]:139)

Setelah membaca ayat di atas, entah mengapa rasa-rasanya aku sedang berada di tempat yang amat tinggi. Tak satu pun orang bisa menjangkau dan menekanku. Semua terasa aku miliki. Aku bebas dan ringan tanpa beban.

Mungkinkah ini perasaan yang sama yang membungkus hati para sahabat Rasulullah dahulu? Aku terus bertanya. Dalam hati. Dalam sepi. Dalam sunyi. Tapi sebenarnya aku yakin bahwa ayat-ayat al-Quran memang menyiarkan pesona begitu indah. Hati mana tiada tertawan oleh indah bahasanya? Hurufnya saja, setelah kuamat-amati, kubanding-bandingkan dengan tipe huruf lainnya yang aku kenal, adalah bentuk yang paling sedap dipandang mata. Apalagi kalau dilukiskan dalam kaligrafi. Wuah, pokoknya serba paling.

Kalau ada orang yang tidak tertarik pada al-Quran ini, baik oleh penampilannya, majaz-majaznya, selera sastra yang super tinggi di kandungannya, hingga makna-makna mendalam tiap katanya, hampir bisa dipastikan, hatinya si empu tadi sedang dijamah beraneka masalah.

Bagaimana tidak? Wong orang kafir saja kalau mendengar ayat-ayatnya dibaca mesti ada perasaan ingin mendekat, kok. Contoh paling nyata yang diabadikan sejarah Islam yang mula-mula adalah kejadian yang dialami seorang musyrik bernama al-Walid bin al-Mughirah. Saat mendengar ayat-ayat kalamullah dibaca, dia terkesima. Inginnya menyimak terus lantunan itu. Namun sayang, lantaran hati yang bermasalah tadi, jadilah ia urung menikmati hidayah indah dari Rabb Yang Maha Indah. Padahal, dia sudah merasa dekat dengan al-Quran. Sampai-sampai dia mengungkapkan komentar jujurnya mengenai al-Quran, “Demi Allah, sungguh, pada al-Quran itu terdapat kemanisan. Padanya terukir keelokan. Benar-benar, bagian bawahnya sangat subur. Bagian atasnya memamerkan buah. Ia tinggi, tak ada yang menandingi. Ia akan membuat segala yang ada di level bawahnya kalah. Ini bukan kaul manusia.”

Aku kembali lagi ke poros obyek bicara. Dengan ayat di atas, insyaallah percaya diri seorang muslim akan terdongkrak. Tanpa harus repot-repot buang waktu dan merogoh kocek dalam-dalam untuk mengikuti bermacam-macam pelatihan pengembangan pribadi ala Barat. Atau ikut semacam Achievement Motivation Training, yang mungkin mengalokasikan banyak waktu. Sumber yang benarnya mutlak sudah ada di depan mata. Mau cari-cari model yang bagaimana lagi? Yang ala kafir?

Simpel saja. Asal mau merenung sedikit saja. Atau membuka tafsirnya jika perlu. PD itu akan muncul. Bahkan, akan lebih kuat memancarkan efek “energi positif” dibanding jika pemicu kemunculannya bukan al-Quran. Bukan keimanan kepada Dzat Yang Maha Tinggi. Rasa PD itu akan terasa jika rasa yakin, iman kepada Allah, benar-benar serius dihadirkan dalam hati dan ditampakkan dengan rupa nyata, riil, di alam dunia ini.

Aku percaya aku bisa meraih impianku jika aku memegangi ayat ini. Sebab, ayat ini mampu merubah orang-orang yang mengidap psychological inferiority menjadi person yang kokoh, superior, dan handal. Di bidang apapun dia beraktivitas. Mestinya bidang yang direstui Islam, lah.

“Percaya besar, kau akan menang besar!” kata hatiku terus berbisik menyemangati anggota badan yang lain.

Sepertinya aku belum menelisik lebih jauh makna-makna cerdas yang terselip rapi di balik susunan ayat mulia ini. Bagaimana interpretasi-interpretasi yang diutarakan para ilmwuan tafsir, misalnya. Bagaimana pula komentar ahli lughah, dan kajian-kajian serupa, yang tentunya semakin mempertebal kacamata pemahaman. Barangkali, di lain waktu tulisan ini akan menemui kelanjutannya dengan bahasa yang lebih enak dan empuk untuk disimak. Semoga. Untuk waktu ini, kiranya cukup sampai di sini dulu. Insyaallah, baru di sini saja, PD itu sudah mulai kurasa. “Aku mampu menjalani hidup dan menyambut tantangan-tantangannya dengan senang hati, atas izin Allah!” teriak batinku lantang.[]

Take Advantage of Five Matters before Five Other Matters

In the Name of Allah
the Most Gracious
the Most Merciful

Take Advantage of Five Matters before Five Other Matters
Hafizh Assami,
student of The Kanzun College of Ardent Learners (KCAL) in Solo-Indonesia

Islam is a deen of full-motivation. In every part of its teachings, we can find a strong encouragement for its people to do something good. Whether the motivation is explicitly mentioned or implicitly. In a verse of the Noble Quran, we can see that Allah says, “If you help (in the cause of) Allah, He’ll help you and make your foothold firm.” (Muhammad [47]:7). In other part, He says, that for every mukmin (believer), male or female, who does righteous good deeds, will be gardens (jannaat). Subhaanallaah!

Not just from the Quran, Rasulullah (the Messenger of Allah) shallallaahu alaihi wasallam, gave his ummah many encouragements as well. Through his ahaadiith, that spread in various books, we can find these great motivations that will lead everyone who applies them, to a magnificent success. Double success; in this world and in the hereafter. Rasulullah once said, guiding his ummah to become a successful and great ummah, that they should implement the following formula; taking advantage of five matters before five other matters. Namely,

•Take advantage of your youth before your old age.
•Take advantage of your health, before your sickness.
•Take advantage of your richness before poverty.
•Take advantage of your free-time before you are busy.
•Take advantage of your life before your death.

This is a nice advice from the greatest person ever alive. If one wishes a perfect success, he must do the secret above. For a magnificent success, hard work cannot be avoided. If one wishes a triumph of Islam, he must do his best to reach that desire. He has to dedicate all things for Islam. Islam always motivates every Muslim to do the best for the deen![]

Jumat, 01 Mei 2009

Sekelumit Tentang “at-tauhiid”

bismillaahirrahmaanirrahiim

Sekelumit Tentang “at-tauhiid”
Hafizh Chan


Tauhid merupakan permasalahan mendasar yang seyogianya
mendapat perhatian khusus dari setiap Muslim,
karena “tauhid adalah perintah
Allah ‘azza wa jalla yang paling agung,
lawan dari syirik yang merupakan
larangan Allah yang
paling besar”. (Lihat Syarh Tsalatsatul Ushul, hal 47 [pada teks matan kitab])

Secara bahasa, at-tauhiid berasal dari satu kata kerja dalam Bahasa Arab: wahhada-yuwahhidu yang artinya ‘menjadikan sesuatu itu satu’. Adapun secara istilah, maknanya adalah ‘menunggalkan Allah dalam ibadah’. Artinya, kita wajib beribadah hanya kepada Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan seorang nabi yang diutus, malaikat yang terdekat dengan-Nya, seorang pemimpin, raja, atau siapa pun di antara manusia. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin memberikan satu definisi lain dari at-tauhiid yang bersifat umum: ‘menunggalkan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi-Nya.’ (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 47-48)

Imam Ibnu Abdil ‘Izz dalam bukunya, Syarah ‘Aqidah Thahawiyah halaman 78, sebagaimana di kutip Syaikh Abdul Qadir Abdul Aziz, mengatakan, “Kewajiban pertama bagi setiap mukallaf adalah bersyahadat ‘laa ilaaha illallaah.” (Mendudukkan Aqidah dan Jihad, hal. 11). Seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah ke muka bumi ini, sejak nabi Adam a.s. hingga nabi Muhammad shallallaahu’alaihi wasallam mengemban risalah tauhid ini. Bahkan ini adalah urusan pertama yang mereka sampaikan kepada umat-umatnya. Syaikh Shalih ibnu Fauzan dalam buku ‘Aqiidatut-Tauhiid menerangkan, “Dan setiap rasul, pertama kali yang mereka serukan kepada kaumnya adalah ‘Sembahlah Allah! Tidak ada sesembahan lain bagi kalian selain Dia’ (al-A’raaf: 59). Seperti itu pulalah yang diserukan oleh Nuh a.s., Shalih a.s., Syu’aib a.s., dan semua nabi kepada kaum mereka.” (‘Aqiidatut-Tauhiid, hal. 7)

Syaikh Abdul Qadir Abdul Aziz menulis bahwasanya Ibnu ‘Abbas r.a. berkata, “Ketika Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda kepadanya,
’Sesungguhnya engkau akan datang kepada orang-orang Ahlul Kitab, maka hendaklah hal pertama kali yang kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah, bila mereka telah mengetahuinya, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu...’” (Shahih al-Bukhari II/1384)

Dalam riwayat yang lain, beliau bersabda,
“Maka bila engkau telah tiba di tengah-tengah mereka, ajaklah mereka untuk bersyahadat Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadar Rasuulullaah...” (Fathul Baariy XIII no. 7372)

Di atas tauhid inilah Allah akan menerima amal-amal perbuatan hamba-Nya. Tanpa tauhid tidaklah mungkin amal seorang manusia akan diterima. Allah berfirman,
“...Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum Islam), maka hapuslah amalan-amalannya.” (Q.S. al-Maa`idah: 5)

Maka tidaklah ada perintah (khithab) terhadap seseorang dalam masalah syari’at kecuali sesudah ia beriman kepada Allah (setelah mengikrarkan keimanan). (‘Aqiidatut-Tauhiid, hal. 13)

Tauhid ada tiga macam, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dalam Syarah Tsalatsatul Ushul (Sebenarnya tidak ada pembagian dalam tauhid, hanya saja para ulama memerincikannya sebagai upaya memudahkan orang dalam memahaminya.):
 Tauhid Rubuubiyyah
Menunggalkan Allah ‘azza wa jalla dalam penciptaan, kekuasaan, dan pemeliharaan.
Allah berfirman,
“Allah menciptakan segala sesuatu.” (az-Zumar: 62)
“Adakah sesuatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada ilaah selain Dia.” (Faathir: 3)
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Mulk: 1)
“Ingatlah, menciptakan atau memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raaf: 54)
 Tauhid Uluuhiyyah
Menunggalkan Allah subhaanahuwata’aala dalam ibadah. Caranya, hendaklah seseorang tidak beribadah maupun bertaqarrub kepada siapapun selain Allah, seperti ibadah dan taqarrubnya kepada Allah.
 Tauhid Asmaa` wash-Shifaat
Menunggalkan Allah subhaanahuwata’aala dalam nama yang Dia namakan bagi diri-Nya dan sifat yang Dia sifatkan bagi diri-Nya, di dalam kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya shallallaahu’alaihi wasallam. Penunggalan ini dengan cara menetapkan apa yang telah ditetapkan-Nya dan menafsirkan apa yang telah ditafsirkan-Nya, tanpa tahrif (pengubahan), ta’thil (peniadaan), takyif (penetapan bagaimananya), atau tamtsil (penyerupaan). (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 48-49)
Wallaahu a’lam bish-shawaab.


alhamdulillaahirabbil’aalamiin





Bahan referensi:
1. Muhammad ibnu Shalih al-‘Utsaimin. 2000. Syarah Tsalatsatul Ushul. Surakarta: Pustaka al-Qowam.
2. Shalih ibnu Fauzan ibnu Abdullah al-Fauzan. Tanpa tahun. ‘Aqiidatut Tauhiid. Riyadh: Muassasah al-Haramain al-Khairiyyah.
3. Abdul Qadir Abdul Aziz. 2002. Mendudukkan Aqidah dan Jihad. Surakarta: Pustaka Ikhtiar.

Note:
Tulisan ini sekadar sebagai alat rangsang bagi hati dan pikiran kita sehingga menggugah kepenasaran dan rasa ingin tahu (curiosity) terhadap materi-materi ini melalui kajian-kajian yang lebih lengkap dan mendalam.




Semarang, Muharram 1426 H