Sufi Berdasi; Teosofi?
Hafizh Assami
Nestapa Orang Modern
Persoalan besar yang muncul di tengah-tengah umat manusia belakangan ini adalah krisis spiritualitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi rasionalisme, empirisisme, dan positivisme, ternyata membawa manusia kepada kehidupan modern di mana sekularisme menjadi mentalitas jaman dan karena itu spiritualisme menjadi suatu ‘kerinduan’ bagi kehidupan modern. Sampai-sampai, ada istilah the plight of modern men, nestapa orang-orang modern, untuk menyebut fenomena ini.
Titik jenuh pada materialisme membawa orang untuk kembali kepada nilai-nilai ajaran agama yang sempat ditinggalkan. Umumnya, gejala ini menyambangi kehidupan masyarakat kota. Rasa penat dengan aktivitas kerja yang dituntut oleh persaingan ketat, stress di kantor, mendorong mereka untuk mengejar ketenangan batin atau demi menyelaraskan kehidupan yang gamang. Dalam misi ‘pencarian’ itu, tak jarang diantara mereka yang bergabung dengan klub-klub tasawuf. Baik secara langsung menjadi anggotanya, atau sekadar ikut menikmati ritual-ritualnya saja. Seakan-akan, dalam tasawuf, mereka menemukan sebuah oase di tengah padang gersang.
Tasawuf, yang dalam literatur Barat biasa dikenal dengan terminologi sufism (sufisme), sebetulnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Utamanya, bagi masyarakat pedesaan yang kehidupannya dianggap lebih religius. Ajaran-ajaran tasawuf, yang tadinya minim peminat di wilayah perkotaan, kini mulai bergeser dan merambah kehidupan masyarakat metropolitan. Bahkan, seakan menjadi sebuah trend baru di Indonesia.
White-Collar ‘Sufi’ Community
Di kota, tasawuf terbilang laku keras. Bentuknya tidak persis seperti yang ada di desa-desa. Untuk tampil elegan, tidak tampak ‘kampungan’, para pegiat tasawuf di kota melakukan inovasi dan kreasi dari bentuk ritualnya yang konvensional. Hal ini merupakan adaptasi terhadap gaya dan tuntutan kehidupan metropolis yang cenderung menyukai sesuatu yang artistik, modis, meriah, namun tetap mengikuti ritme kehidupan yang serba cepat dan praktis, dengan tidak mengabaikan sisi-sisi ‘ilmiah’. Seperti, untuk mengakrabkan spirit sufisme di dunia remaja, mereka memublikasikan frase-frase semacam “sufi funky”, “sufi gaul” lewat media massa, dan menyisipkan lirik-lirik sufistik dalam lagu-lagu anak muda.
Tidak mengherankan pula jika kini muncul klub-klub tasawuf yang beranggotakan orang-orang berdasi. Tak sedikit dari kalangan eksekutif dan selebriti menjadi peserta kursus atau terlibat dalam suatu komunitas tarekat tertentu. Kegiatannya juga beragam. Mulai dari kajian-kajian tasawuf di internal jamaahnya, hingga ‘show of force’ dalam ‘dzikir dan doa bersama’.
Karena itulah, gejala sufisme kontemporer di Indonesia dan juga di dunia Muslim lainnya, tidak lagi hanya diwakili bentuk tasawuf konvensional, baik tarekat maupun tasawuf yang diamalkan secara personal-individual. Tetapi, muncul pula bentuk baru yang mirip dengan apa yang disebut ‘new age movement’, gerakan [spiritualitas keagamaan] zaman baru.
Dalam konteks itu, jika secara konvensional, dzikir misalnya, dilakukan secara pribadi dan kelompok di ruang tertutup, kini dilakukan secara massal dan terbuka dengan liputan TV. Gejala baru ini tidak membuat pengamalan sufisme konvensional lenyap. Bahkan, sebaliknya, tidak hanya bertahan, tetapi juga menemukan momentumnya.
Sebagian kalangan memetakan dua model utama sufisme masyarakat kota dewasa ini. Pertama, sufisme kontemporer (biasanya berciri longgar dan terbuka siapapun bisa masuk) yang aktivitasnya tidak menjiplak model sufi sebelumnya. Model ini dapat dilihat dalam kelompok-kelompok pengajian eksekutif, seperti Paramadina, Tazkia Sejati, Grand Wijaya, Paramartha Internatiaonal Centre For Tashawwuf Studies (Bandung) dan IIMaN. Model ini pula yang berkembang di kampus-kampus perguruan tinggi umum, dan kalangan white collar community. Kedua, Sufisme konvesional. Yaitu gaya sufisme yang pernah ada sebelumnya dan kini diminati kembali. Model ini adalah yang berbentuk tarekat (Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, Syatariyah, Syadziliyah, dan lain-lain).
Tasawuf: Teosofi?
Merunut ke zaman kolonial Belanda, selain Snouck Hurgrounje, seorang orientalis yang dikenal aktif menghidup-hidupkan tarekat-tarekat tasawuf di Indonesia, ada tangan lain yang turut andil memakmurkan aliran ini. Pada penghujung abad-18 dan awal abad-19, muncul nama Dr. Leadbater dan Blavatsky. Leadbater adalah seorang pendeta berdarah Yahudi kelahiran Belanda, sedangkan Blavatsky ialah seorang wanita Rusia yang didatangkan ke Indonesia dari New York, AS. Keduanya disebut-sebut sebagai propagandis utama Teosofi di Indonesia.
Jika ditelisik lebih dalam lagi, akan didapati bahwa Teosofi merupakan kepanjangan tangan Freemasonry. Pada mulanya, oraganisasi Teosofi ini adalah alat kaum Yahudi untuk menggaet orang-orang Hindu di India. Seperti diketahui, pola operasi Freemasonry di Asia dilaksanakan dengan mendekati kalangan pemeluk agama mayoritas. Kalau di India mereka menggarap Hindu, maka di Indonesia, Islam dijadikan sasaran empuknya. Untuk kepentingan di atas, kaum Teosofi membuka pos di Indonesia pada tahun 1909, yang bernama Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging (Perkumpulan Teosofi Hindia Belanda), yang merupakan cabang dari markas besar perkumpulan mereka di Adyar, Madras, India.
Dalam statuen (anggaran dasar) Vrijmetselarij --nama Belanda untuk Freemasonry--, dicantumkan bahwa tujuan perhimpunan ini untuk mengantarkan orang dan kemanusiaan ke derajat pikiran dan ilmu kehidupan yang lebih tinggi di dalam Loge, gedung perkumpulan orang-orang Teosofi sebagai tempat persembahyangan mereka yang melibatkan roh halus (baca: setan) melalui ritual semacam ‘mengheningkan cipta’.
Dalam rangka menarik simpati pengikut di Indonesia, mereka terkadang menyebut ajaran Teosofi sebagai ajaran tasawuf. Jadi, mereka menggunakan istilah plesetan. Namun, ternyata itu tidak semata kemiripan nama. Sebab, ritual-ritual mereka pun memang bergaya sufistik. Di sinilah mereka mengecoh orang-orang yang gandrung dengan tasawuf supaya mau bergabung.
Di masa ini, meditasi ringan, dzikir-dzikir tanpa tuntunan yang jelas dari Islam, senam yoga, ‘relaksasi pikiran’, forum-forum kursus atau training metode tasawuf dan bentuk-bentuk ritual lain hasil kolaborasi antara sufisme konvensional dan kontemporer, boleh jadi merupakan menu favorit untuk mengawali ketertarikan orang-orang yang mendambakan ‘ketenangan batin’. Nantinya, jauh ke depan, rekrutan-rekrutan baru, yang kebanyakan berasal dari komunitas elit dan eksekutif, itu diperalat menjadi ‘mesin pencetak uang’ dan corong publikasi ide-ide sesat demi melicinkan misi-misi Freemasonry, jala para Zionis.*
Hafizh Assami
Nestapa Orang Modern
Persoalan besar yang muncul di tengah-tengah umat manusia belakangan ini adalah krisis spiritualitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi rasionalisme, empirisisme, dan positivisme, ternyata membawa manusia kepada kehidupan modern di mana sekularisme menjadi mentalitas jaman dan karena itu spiritualisme menjadi suatu ‘kerinduan’ bagi kehidupan modern. Sampai-sampai, ada istilah the plight of modern men, nestapa orang-orang modern, untuk menyebut fenomena ini.
Titik jenuh pada materialisme membawa orang untuk kembali kepada nilai-nilai ajaran agama yang sempat ditinggalkan. Umumnya, gejala ini menyambangi kehidupan masyarakat kota. Rasa penat dengan aktivitas kerja yang dituntut oleh persaingan ketat, stress di kantor, mendorong mereka untuk mengejar ketenangan batin atau demi menyelaraskan kehidupan yang gamang. Dalam misi ‘pencarian’ itu, tak jarang diantara mereka yang bergabung dengan klub-klub tasawuf. Baik secara langsung menjadi anggotanya, atau sekadar ikut menikmati ritual-ritualnya saja. Seakan-akan, dalam tasawuf, mereka menemukan sebuah oase di tengah padang gersang.
Tasawuf, yang dalam literatur Barat biasa dikenal dengan terminologi sufism (sufisme), sebetulnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Utamanya, bagi masyarakat pedesaan yang kehidupannya dianggap lebih religius. Ajaran-ajaran tasawuf, yang tadinya minim peminat di wilayah perkotaan, kini mulai bergeser dan merambah kehidupan masyarakat metropolitan. Bahkan, seakan menjadi sebuah trend baru di Indonesia.
White-Collar ‘Sufi’ Community
Di kota, tasawuf terbilang laku keras. Bentuknya tidak persis seperti yang ada di desa-desa. Untuk tampil elegan, tidak tampak ‘kampungan’, para pegiat tasawuf di kota melakukan inovasi dan kreasi dari bentuk ritualnya yang konvensional. Hal ini merupakan adaptasi terhadap gaya dan tuntutan kehidupan metropolis yang cenderung menyukai sesuatu yang artistik, modis, meriah, namun tetap mengikuti ritme kehidupan yang serba cepat dan praktis, dengan tidak mengabaikan sisi-sisi ‘ilmiah’. Seperti, untuk mengakrabkan spirit sufisme di dunia remaja, mereka memublikasikan frase-frase semacam “sufi funky”, “sufi gaul” lewat media massa, dan menyisipkan lirik-lirik sufistik dalam lagu-lagu anak muda.
Tidak mengherankan pula jika kini muncul klub-klub tasawuf yang beranggotakan orang-orang berdasi. Tak sedikit dari kalangan eksekutif dan selebriti menjadi peserta kursus atau terlibat dalam suatu komunitas tarekat tertentu. Kegiatannya juga beragam. Mulai dari kajian-kajian tasawuf di internal jamaahnya, hingga ‘show of force’ dalam ‘dzikir dan doa bersama’.
Karena itulah, gejala sufisme kontemporer di Indonesia dan juga di dunia Muslim lainnya, tidak lagi hanya diwakili bentuk tasawuf konvensional, baik tarekat maupun tasawuf yang diamalkan secara personal-individual. Tetapi, muncul pula bentuk baru yang mirip dengan apa yang disebut ‘new age movement’, gerakan [spiritualitas keagamaan] zaman baru.
Dalam konteks itu, jika secara konvensional, dzikir misalnya, dilakukan secara pribadi dan kelompok di ruang tertutup, kini dilakukan secara massal dan terbuka dengan liputan TV. Gejala baru ini tidak membuat pengamalan sufisme konvensional lenyap. Bahkan, sebaliknya, tidak hanya bertahan, tetapi juga menemukan momentumnya.
Sebagian kalangan memetakan dua model utama sufisme masyarakat kota dewasa ini. Pertama, sufisme kontemporer (biasanya berciri longgar dan terbuka siapapun bisa masuk) yang aktivitasnya tidak menjiplak model sufi sebelumnya. Model ini dapat dilihat dalam kelompok-kelompok pengajian eksekutif, seperti Paramadina, Tazkia Sejati, Grand Wijaya, Paramartha Internatiaonal Centre For Tashawwuf Studies (Bandung) dan IIMaN. Model ini pula yang berkembang di kampus-kampus perguruan tinggi umum, dan kalangan white collar community. Kedua, Sufisme konvesional. Yaitu gaya sufisme yang pernah ada sebelumnya dan kini diminati kembali. Model ini adalah yang berbentuk tarekat (Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, Syatariyah, Syadziliyah, dan lain-lain).
Tasawuf: Teosofi?
Merunut ke zaman kolonial Belanda, selain Snouck Hurgrounje, seorang orientalis yang dikenal aktif menghidup-hidupkan tarekat-tarekat tasawuf di Indonesia, ada tangan lain yang turut andil memakmurkan aliran ini. Pada penghujung abad-18 dan awal abad-19, muncul nama Dr. Leadbater dan Blavatsky. Leadbater adalah seorang pendeta berdarah Yahudi kelahiran Belanda, sedangkan Blavatsky ialah seorang wanita Rusia yang didatangkan ke Indonesia dari New York, AS. Keduanya disebut-sebut sebagai propagandis utama Teosofi di Indonesia.
Jika ditelisik lebih dalam lagi, akan didapati bahwa Teosofi merupakan kepanjangan tangan Freemasonry. Pada mulanya, oraganisasi Teosofi ini adalah alat kaum Yahudi untuk menggaet orang-orang Hindu di India. Seperti diketahui, pola operasi Freemasonry di Asia dilaksanakan dengan mendekati kalangan pemeluk agama mayoritas. Kalau di India mereka menggarap Hindu, maka di Indonesia, Islam dijadikan sasaran empuknya. Untuk kepentingan di atas, kaum Teosofi membuka pos di Indonesia pada tahun 1909, yang bernama Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging (Perkumpulan Teosofi Hindia Belanda), yang merupakan cabang dari markas besar perkumpulan mereka di Adyar, Madras, India.
Dalam statuen (anggaran dasar) Vrijmetselarij --nama Belanda untuk Freemasonry--, dicantumkan bahwa tujuan perhimpunan ini untuk mengantarkan orang dan kemanusiaan ke derajat pikiran dan ilmu kehidupan yang lebih tinggi di dalam Loge, gedung perkumpulan orang-orang Teosofi sebagai tempat persembahyangan mereka yang melibatkan roh halus (baca: setan) melalui ritual semacam ‘mengheningkan cipta’.
Dalam rangka menarik simpati pengikut di Indonesia, mereka terkadang menyebut ajaran Teosofi sebagai ajaran tasawuf. Jadi, mereka menggunakan istilah plesetan. Namun, ternyata itu tidak semata kemiripan nama. Sebab, ritual-ritual mereka pun memang bergaya sufistik. Di sinilah mereka mengecoh orang-orang yang gandrung dengan tasawuf supaya mau bergabung.
Di masa ini, meditasi ringan, dzikir-dzikir tanpa tuntunan yang jelas dari Islam, senam yoga, ‘relaksasi pikiran’, forum-forum kursus atau training metode tasawuf dan bentuk-bentuk ritual lain hasil kolaborasi antara sufisme konvensional dan kontemporer, boleh jadi merupakan menu favorit untuk mengawali ketertarikan orang-orang yang mendambakan ‘ketenangan batin’. Nantinya, jauh ke depan, rekrutan-rekrutan baru, yang kebanyakan berasal dari komunitas elit dan eksekutif, itu diperalat menjadi ‘mesin pencetak uang’ dan corong publikasi ide-ide sesat demi melicinkan misi-misi Freemasonry, jala para Zionis.*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar