Selasa, 03 Maret 2009

Muslim Indonesia, Macan Yang Terlelap

Muslim Indonesia,
Macan Yang Terlelap
by: Hafizh Assami

Akrab Ilmu

Peradaban Islam adalah peradaban ilmu. Sepanjang sejarah, fakta keterikatan Islam dengan ilmu, sangat kentara. Tradisi ilmiah sangat diprioritaskan di dunia Islam. Segala aktivitas, semua harus dilandaskan pada ilmu, yang digali dari wahyu al-Qur`an dan al-Hadits. Di atas pondasi ilmu yang diinspirasi wahyu inilah umat Islam, sejak berabad-abad silam, membangun peradaban yang betul-betul berkarakter kuat, khas. 

Di bawah bimbingan ilmu, kekuatan Islam betul-betul nyata. Tidak palsu, seperti besarnya induk ayam yang menggelembungkan bulu-bulu ketika melindungi anaknya dari bahaya. ‘Besar’ benar-benar besar, bukan sekedar dibesar-besarkan (di-blow-up) media.

Adian Husaini, seorang kandidat doktor bidang Islamic Civilization di International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia, dalam pengantar bukunya, Wajah Peradaban Barat; Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekular-Liberal, menulis, “Banyak tokoh Muslim berpikir jalan pintas, bahwa keagungan Islam akan bisa dicapai jika kekuasaan politik mereka pegang. Politik, ekonomi, informasi, adalah sektor-sektor penting dalam kehidupan manusia. Kaum Muslim tentu saja seyogianya memiliki potensi-potensi itu. Tetapi, semua itu harus berbasiskan keilmuan yang tinggi. Tradisi keilmuanlah yang akan membangkitkan satu peradaban.”

Dalam konteks peradaban, tidak bisa tidak, masalah ilmu harus menjadi perhatian utama, mengingat peranannya yang amat esensial. Mongol boleh saja mengalahkan Islam di Baghdad dan sekitarnya. Namun, peradaban yang rendah itu akhirnya justru terserap oleh peradaban Islam. Hal ini memperlihatkan kepada musuh-musuh Islam, dan kaum Muslim sendiri, bahwa kekuatan fisik semata, tak mampu menundukkan umat Islam.

Lalu, trauma berkepanjangan juga menghantui musuh Islam setelah menyaksikan episode sejarah yang menayangkan kekalahan Kristen dalam Perang Salib. Kekalahan telak yang memaksa mereka menempuh jalan alternatif untuk memperdayai umat Islam di masa kemudian. Seperti terbaca dari ungkapan seorang misionaris legendaris mereka, Henry Martyn, “Saya datang menemui umat Islam, tidak dengan senjata, tapi dengan kata-kata. Tidak dengan pasukan, tapi dengan akal sehat. Tidak dengan kebencian, tapi dengan cinta.” Sementara misionaris lain, Raymond Lull, mengatakan, “Kulihat banyak ksatria pergi ke Tanah Suci di seberang lautan; dan kupikir mereka akan merebutnya dengan kekuatan senjata; tapi akhirnya semua hancur sebelum mereka mendapatkan apa yang tadinya ingin mereka rebut.”

Paling tidak, kata-kata tersebut di atas terus membekap benak musuh-musuh Islam. Sehingga, pada tahap awal, mereka tidak mengandalkan kekuatan senjata dan fisik untuk mengusik umat Islam, tetapi lebih mengandalkan gerakan bawah tanah alias clandestine. Mereka mendekati target dengan menyelubungi lembaga-lembaga yang konsern di bidang sosial, ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.

‘Pembodohan’ Massal

Secara global, Barat berupaya maksimal menempatkan lawan-lawannya berada di level ‘bodoh’, tidak mampu membaca realitas skenario politik dunia yang mereka rekayasa. Para elit yang mendominasi dan menentukan arah kebijakan (policy) Barat, membutuhkan pihak lain sebagai spectators sekaligus korban. Tugas mereka hanya menonton bagaimana para elit itu menjalankan program-program yang menindas dan melibas saudara-saudara mereka, sambil menunggu giliran tiba.

Setelah itu, prinsip ‘Might is Right (Kekuatan adalah Kebenaran)’ dimainkan Barat sebagai instrumen untuk mengulur umur hegemoni mereka. Karena kekuasaan ada dalam genggaman, kejahatan apa pun yang mereka lakukan adalah sebuah kebenaran. Dengan berbagai muslihat, mereka kemas kesadisan, keganasan dan kekejaman secara rapi, lalu tampil ke muka publik dunia ‘yang terbodohkan’, bak pahlawan yang berjasa memelihara keamanan dan perdamaian internasional. Padahal, kejahatan tingkat tinggi tengah mereka praktekkan di balik topeng manis itu. Lawan-lawan yang coba menghadang segera dieliminasi sembari dilabeli atribut-atribut buruk.

Muslim Indonesia: Macan Tidur?

Hari ini, khususnya di Indonesia, kaum Muslim menghadapi berbagai problem. Diantara yang sangat krusial adalah, musuh Islam menjamahkan tangan kotornya ke dunia pendidikan. Mereka merekrut orang-orang yang siap dididik menjadi kader-kader perusak pola pikir kaum Muslim Indonesia. Dengan menjalani studi Islam ke negara-negara Barat, entah sadar entah tidak, mereka dijadikan obyek brainwashing (cuci otak). Setelah masa studi usai atau dianggap selesai, layaknya hewan piaraan yang lama dikarantina, mereka dilepas kembali ke ‘habitat’nya. Dengan sangat mandiri, tanpa didikte-dikte lagi, misi dijalankan. Dunia pendidikan tinggi adalah sasaran utamanya. Melalui lembaga-lembaga perguruan tinggi ‘yang bisa dilobi’, yang tersebar di seluruh pelosok negeri, mereka menularkan pemikiran-pemikiran yang sudah dicetak sesuai mindset Barat. Tatanan ilmu Islam yang menjadi unsur fundamental kekuatan Islam coba dibongkar.

Ini adalah satu bentuk ‘Konfrontasi Intelektual’ Barat terhadap kaum Muslim. Kedok ‘ilmiah’ dijadikan sarana mentransfer pola pikir ala Barat kepada calon-calon pendidik anak-anak Muslim di bumi Nusantara. Target jangka panjangnya, mengacaukan paradigma berpikir generasi Islam mendatang terhadap ajaran agamanya dan peradaban Barat, tidak lagi melalui titik perspektif Islam. Kalau sikap umat Islam dinilai sudah ‘melunak’ dan cukup ‘kooperatif’, Barat bisa leluasa membentangkan sayap peradabannya yang dibangun di atas ‘nilai-nilai destruktif’.

Umat Islam Indonesia, yang luar biasa besar jumlahnya ini di-ninabobo-kan; menjadi tidak sadar atas ketertipuan yang mereka alami. Dan, yang memang sudah tidur sedari mula, dibuat tetap lelap dalam mimpinya. Hal ini sangat beralasan. Barat selalu khawatir jika dari Indonesia, ‘kondominium raksasa’ bagi 200-an juta Muslim, dengan beragam potensi tersimpan di sana, lahir kekuatan massive yang akan menggugat eksistensinya. Kekhawatiran Barat bisa terjadi, insya Allah, jika asas kekuatan Islam, tradisi ilmu yang harus pure (murni), dibersihkan dari segala kontaminasi. Wallahu a’lam bish-shawab.*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar