Kamis, 30 April 2009

Mana Jalan-mu?

“Mana Jalan-mu?”
Hafizh Chan


Telah lama dunia Islam terkoyak. Hingga hari ini pun masih belum sembuh juga luka besar yang menganga itu. Di sana-sini masih saja santer aksi-aksi penindasan bengis yang tak kasat mata lagi yang diarahkan kepada putra-putri Islam di pelosok-pelosok negeri kaum Muslimin. Sampai kapan kisah sedih nan kelam ini akan terus bertahan?

Memang ini adalah kita sendiri juga yang ikut andil menciptakan suasana. Dengan ditinggalkannya petunjuk-petunjuk Ilaahi dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, musuh-musuh kita jadi semakin berani unjuk gigi di depan hidung kita. Coba saja lihat si penjajah, penjahat, sekaligus teroris Israel membantai saudara-saudara kita tiap hari. Entah berapa jiwa yang telah melayang. Ini semua karena mereka tak takut lagi pada kita. Ya..memang tak ada lagi yang perlu dan bisa mereka takuti dari kita. Kita ibarat macan ompong kehilangan taring. Tak ada sesuatu yang bisa kita andalkan untuk menakut-nakuti musuh kita. Sehingga, kita ditimpa derita dan jadilah hina dina. Mereka, musuh-musuh kita, berkuasa hampir atas seluruh kaum Muslimin dan apa saja yang kita punyai. Ini adalah hukum sebab-akibat yang sudah menjadi sunnatullah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengabari kita,
“Jika kalian telah terperosok dalam jual beli ‘inah (jual-beli yang mengandung riba), mengikut di belakang ekor sapi (beternak), merasa mapan dengan pertanian, dan meninggalkan jihad fie sabiilillaah, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan pada kalian, yang tidak akan dicabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada (ajaran) Dien kalian.” (h.r. Abu Dawud, Ahmad, Ath-Thabrani dalam “al-Kabiir” dan dishahihkan oleh Ibnu al-Qaththan)

Itulah akibat yang kita terima ketika kita mengesampingkan titah-titah Rabbani. Kita lena dengan silaunya gemerlap dunia. Kita lalai dari tugas-tugas keberagamaan, yang salah satunya dan bahkan di antara yang terpenting yaitu “al-jihad”, sebagai buah tuntutan kalimat ‘laailaaha illallaah muhammadur-rasulullah’. Jihad adalah dzirwatu sanaamil Islaam (puncak tertingginya Islam), setelah kita mengikrarkan dua kalimat syahadat tadi. Jihad adalah lambang power yang akan membuat musuh-musuh kita kecut dan rendah dalam kehinaan kekafirannya. Selain sebagai pintu tersebarnya dakwah Islam ke pelbagai penjuru dunia yang belum sempat terjamah oleh cahayanya, ia juga sekaligus sebagai ciri khas yang kita miliki dalam mempertahankan eksistensi peradaban Islam yang rahmatan lil’aalamiin. Walupun jalan ini sangat tidak kita sukai, namun Allah ‘azza wa jalla menghendaki umat Islam menjadi baik lewat jalan ini. Nah, kalau kita tinggalkan, maka yang terjadi adalah persis seperti yang disabdakan Rasul yang mulia shallallaahu ‘alaihi wasallam di atas: kita hina dan dikuasai oleh musuh. Dan, kalau kita sudah terlanjur basah berada di bawah kuasa musuh, tak ada jalan lain untuk keluar kecuali: kembali kepada (ajaran) Dien. Para ahlul ‘ilmi mengatakan bahwa maksud dari kata Dien adalah al-jihad yang telah disebut di permulaan hadits.

Jadi, kita harus kembali menghidupkan jihad fie sabilillah yang telah kita lupakan. Itu kalau kita mau bangkit dan membebaskan diri dari kungkungan musuh, lalu kembali jaya. Memang berat, tak cukup hanya teori. Tapi ini juga bukan sekadar isapan jempol. Ini serius. Sekali lagi, ini jalan satu-satunya. The only way yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Terlebih lagi, metode ini sudah diujicobakan Allah ‘azza wa jalla melalui praktik hidup Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam bersama Shahabat-shahabat radhiyallahu ‘anhum. Buktinya, ampuh man! Dua kutub kekuatan super power pada waktu itu, Persia dan Romawi, bisa ditaklukkan. Tapi juga bukan cuma pamer kekuatan, yang lebih penting lagi adalah dibangunnya peradaban kemuliaan di kedua negeri tersebut. Peradaban yang melepaskan penghambaan manusia terhadap manusia lainnya menuju penghambaan manusia kepada Rabb-nya manusia dan alam semesta. Itulah hebatnya umat Islam jika tetap mempertahankan ciri khasnya yang asli ajaran Rabb-nya. Namanya juga Sang pencipta. Terang saja tahu segalanya. Yang diajarkan pasti tidak meleset, apa lagi kok sampai salah. Impossible! Sama juga dengan insinyur ahli robot yang lebih faham dengan onderdil plus detil-detil mesin yang ada di tubuh robot buatannya ketimbang robot itu sendiri.

Masalahnya sekarang, kita mau percaya dengan berita-berita Allah ‘azza wa jalla yang sampai kepada kita melalui lisan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam atau tidak. Atau, kita lebih memilih percaya apa kata koran dari pada ayat-ayat al-Qur`an?! Sadarkah kita?!
Wallaahua’lam bish-shawaab.



Rabi’ul awal 1426 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar