Rabu, 04 Maret 2009

Repetition Magic Power

Repetition Magic Power
oleh: Hafizh Chan

Setiap produsen pasti berusaha maksimal untuk mempromosikan produknya supaya diminati pembeli. Maka dia butuh iklan. Mulai pamphlet kecil-kecilan, baliho pinggir jalan, hingga pasang iklan di media massa strategis pun dilakukan. Intinya, mereka harus mampu mengakrabkan produk ke khalayak, merebut hati mereka dan menggaet banyak konsumen.

Dalam perang pun, selain adu fisik, dikenal adanya psywar, perang psikologis. Tujuannya, membuat mental lawan ambruk sehingga mudah digebuk. Salah satunya, mereka menciptakan opini publik dengan membalik fakta.


Analisa Armstrong

Karen Armstrong dalam bukunya The Battle For God (Berperang Demi Tuhan) menyebutkan bahwa abad ke-21 adalah abad bangkitnya kaum fundamentalis (Arab: ushuliyyun) di seluruh dunia. Fundamentalisme yang dimaksud adalah semangat kembalinya manusia kepada nilai-nilai asas agama setelah jenuh dengan kehidupan teknologi canggih, yang menandai era modern berideologi materialisme. Mereka merindukan spiritualitas.

Kejadian ini dikomparasikan Armstrong dengan peristiwa yang muncul di Zaman Aksial (700-200 SM). Di masa itu, ketika manusia sudah sampai pada puncak kebosanan dengan kemakmuran kehidupan agraria, mereka mulai beralih kepada pola-pola hidup yang mengedepankan rasio. Mereka mulai berpikir tentang monotheisme dan meninggalkan animisme-dinamisme.

Di era ini, titik kulminasi kejenuhan terhadap materialisme, menurut Armstrong, memicu munculnya kelompok-kelompok yang cenderung bergeser ke kehidupan religius dengan menerapkannya secara kaku, sangat fanatik dan ekstrim tanpa banyak toleransi. Di nilainya, fenomena ini terjadi dan meng-general di semua agama. Akhirnya, peperangan yang mengatasnamakan tuhan mengalami eskalasi.

Bisa jadi, orang-orang Yahudi sangat menaruh respek pada analisa sejarah yang dibuat Armstrong ini, dan akibatnya semakin gencar memerangi Islam sebagai lawan berat. Sebagaimana yang tersebut dalam Protokolat Zionis (Protocols of Zion), mereka mengaku telah berhasil ‘mengintervensi’ pola keberagamaan Kristen. Singkatnya, mereka sedikit banyak telah mampu merusak Kristen. Jadi, sasaran utama yang tersisa sebagai kekuatan besar adalah Islam.

Mereka khawatir seandainya ‘kelompok-kelompok fundamentalis’ --seperti disebut Armstrong-- yang ada dalam Islam bangkit.


Islamophobia

Orang-orang Yahudi takut sekali dengan perkembangan Islam yang sangat pesat dewasa ini. Namun phobia terhadap Islam tak membuat mental mereka anjlok dan menghentikan langkah untuk menghancurkan Islam. Justru mereka menganggapnya sebagai cambuk untuk semakin solid menyusun kekuatan dan strategi.

Di antara perangkat ‘senjata berat’ yang kini mereka aktifasikan adalah perang opini. Karena memerangi Islam tak cukup hanya dengan kekuatan fisik semata, mereka harus terlebih dahulu menjungkirbalikkan image publik tentang Islam. Islam harus terkesan jelek di mata mereka. Jadinya, Yahudi mesti menawarkan ‘barang jualan’ ini secara global.

Formula paling ampuh untuk itu; Yahudi membidik Amerika Serikat sebagai pusat propaganda. Banyak media massa Amerika Serikat sudah dikuasai untuk kepentingan tersebut. Tugas utamanya mengulang-ulang informasi negatif tentang Islam hingga melekat di benak masyarakat dunia. Stigma Islam sebagai teroris, setan menakutkan, musuh peradaban, bahaya global --termasuk juga terma fundamentalis--, harus tersiar ke seantero bumi. Inilah yang mereka program sebagai repetition magic power (kekuatan ajaib pengulang-ulangan).

Dengan demikian, mereka bisa mempersempit ruang gerak Islam. Peluang menumbuhkan musuh Islam dari luar dan dalam Islam sendiri terbuka lebar; orang Islam juga harus jadi musuh Islam. Dari luar Islam, koalisi mudah digalang. Di tubuh Islam (baca: kelompok-kelompok pejuang Islam), ditanam orang-orang yang siap menelikung dari dalam (desepsi).


Dominasi Media

Contoh jelas kerja Yahudi untuk memanfaatkan pers sebagai alat propaganda politik mereka, tampak dari penguasaan atas tiga surat kabar harian paling berpengaruh di Amerika dan dunia. Yaitu New York Times, The Wall Street Journal, dan Washington Post.

Ketiga surat kabar tersebut di atas merupakan tolok ukur dan acuan bagi hampir semua koran yang ada. Mereka adalah yang menentukan apa yang bakal menjadi berita atau tidak pada tingkat nasional Amerika maupun di taraf interasional. Merekalah yang mengawali pemberitaan. Yang lainnya mengekor dan ‘membeo’. Dan, ketiga surat kabar tersebut berada di bawah kontrol Yahudi.

Selain itu, warga dunia dipancing supaya sibuk menghabiskan waktu di depan televisi dengan beragam tayangan. Targetnya, mereka harus ‘disulap’ hingga pada level ‘cacat mental’. Yaitu, mereka sulit membedakan mana realita dan mana fantasi.

Ketika kondisi ini sudah tercipta, sangat mudah sekali menyusupkan informasi-informasi yang akan membentuk pola pikir mereka sesuai keinginan, tanpa ada filter.
 
Lewat media cetak dan elektronik yang lainnya pula, Yahudi memanipulasi data-data peristiwa di seluruh dunia. Kalau ada media yang dengan jujur menampilkan data asli --yang dipandang menggangu grand-strategy mereka--, buru-buru diblokir, dibredel, diserang dengan tudingan-tudingan yang memojokkan, atau di-hack kalau itu berupa situs-situs di internet.


Awas, Gunting Dalam Lipatan!

Kaum muslim harus sangat waspada agar tidak termakan isu-isu miring tentang mujahidin, misalnya, yang di-blow up musuh. Berita-berita yang ditampilkan harus direspon dengan ekstra-selektif. Salah-salah, seorang muslim bisa --seringnya tanpa disadari-- menjadi musuh yang ‘menggunting dalam lipatan’ bagi para pembela Islam, sebagai korban repetition magic power yang ‘menyulap’ pola pikirnya.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar