Selasa, 03 Maret 2009

Andalusia Modern, Restorasi “Bintang Yang Jatuh

Andalusia Modern
Restorasi “Bintang Yang Jatuh”
oleh: Hafizh Assami

Fajar Islam

Mentari menyinari Eropa yang hidup di tengah-tengah masa kelam kejahiliahan. Thariq bin Ziyad, mencelup Andalusia dengan “larutan damai” Islam. Pendaratan spektakuler sang panglima perang, yang dijuluki Thariq al-Laitsiy oleh Ibnu Khaldun tersebut, di pantai selatan Eropa, telah merobek tirai penghalang merasuknya cahaya Islam ke jantung benua itu. Di saat yang sama, Andalusia sedang dikuasai kaum Visigoth, orang-orang Kristen Aryan, di bawah pimpinan raja Roderick.

Negeri ini memperoleh kemerdekaan setelah berjuang keras selama tiga tahun, dari 92-95 H (711-714 M). Luas wilayahnya sekitar 700 ribu km2, meliputi sebagaian besar wilayah Spanyol sekarang, seluruh wilayah Portugis, dan sebagian besar wilayah bagian selatan Perancis. Tidak sampai satu abad usai fath al-ilslam (kemenangan Islam), seluruh warga Andalusia menyatakan keislamannya. Lambat laun mereka akrab dan berkomunikasi dengan bahasa Arab.

Kejayaan Islam di Andalusia mejadikan negeri itu sebagai mercusuar ilmu pengetahuan di benua Eropa. Universitas-universitas menghiasi berbagai kota. Riset-riset dan eksperimen ilmiah didukung besar-besaran. Sehingga, Andalusia, tempat kebanyakan ilmuwan Muslim dilahirkan dan dibesarkan, menjadi pusat utama kemajuan dan perkembangan, khususnya di bidang kedokteran. Para dokter Muslim sangat ahli di berbagai bidang seperti farmakologi, ilmu bedah, optalmologi, ginekologi, fisiologi, bakteriologi, dan ilmu kesehatan. Mereka juga membuat sejumlah penemuan penting yang meletakkan landasan bagi ilmu pengetahuan modern.

Andalusia juga menjadi gawang ilmu-ilmu syar’i, ditandai dengan kemunculan ulama-ulama terkemuka di dunia Islam. Di antara yang populer adalah Imam Abu Abdillah al-Qurthubiy dengan kitab tafsirnya al-Jami’ li-Ahkamil Qur`an.

Dalam sejarahnya yang panjang, Andalusia telah melewati beberapa periode pemerintahan. Seiring itu, Andalusia terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Dalam kondisi demikian, secara periodik, raja-raja Kristen berkonspirasi menyabet kesempatan ini untuk menelan satu per-satu kerajaan-kerajaan kecil tersebut. Ujungnya, terebutnya Kerajaan Islam Granada oleh Duo-Catholic Kings, Ferdinand (Raja Aragon) dan Isabella (Ratu Castile), pada tahun 897 H (1492 M).

Jatuhnya Granada pada 20 Januari 1492 M, dengan demikian, telah mengakhiri berkibarnya pemerintahan muslim selama 781 tahun di Andalusia. Pasca-keruntuhan, yang tersisa adalah riak-riak kecil “pemberontakan” kelompok. Perlawanan Granada Raya (Gharnathah al-Kubra) 1568-1570 M adalah perjuangan terakhir rakyat Andalusia untuk menyelamatkan Islam. Operasi itu dikomando oleh seorang panglima muda yang cendekia dan pemberani, Muhammad bin Umayyah. Dia dibaiat sebagai pemimpin saat baru berusia 22 tahun.

Eropa, kemudian, hingga Abad Pertengahan diperintah oleh penguasa dogmatis Gereja Katolik. Gereja melarang kebebasan berpikir dan mengekang para ilmuwan. Inkuisisi diberlakukan untuk mempertahankan hegemoni. Orang-orang dihukum hanya karena menganut keyakinan atau pemikiran yang berbeda (bid’ah, heresy). Buku-buku karya mereka dibakar dan mereka sendiri dihukum mati. Segala yang berbau-bau Islam dan Arab disingkirkan. Kaum non-Kristen dipaksa masuk Kristen atau diusir keluar. Tahun 1809 M, Perancis menguasai Madrid --ibukota Spanyol--, sekaligus memberangus Dewan Inkuisisi Gereja.


Andalusia Modern

Andalusia adalah “bintang yang jatuh” dari negeri Islam. Penduduknya yang beragama Islam mengalami beribu duka akibat kebencian, penindasan, dan tekanan oleh pihak gereja untuk memeluk agama Kristen. Luka yang dialaminya semakin menganga ketika mereka dikhianati oleh saudaranya sesama muslim yang lebih memilih berkonsiliasi dengan musuh untuk “menghabisi” mereka ketimbang memberi bantuan. Sampai saat ini pun, sebagian umat Islam menganggap kaum Muslim di Andalusia telah punah. Padahal, realitas berbicara beda. Umat Islam di Andalusia tetap eksis.

Peninggalan budaya Islam masih bertebaran hingga kini. Masjid, istana, benteng-benteng pertahanan, perpustakaan-perpustakaan besar dan bangunan-bangunan historis masih tegak kokoh. Yang paling kesohor antara lain Istana al-Hamra di Granada (Gharnathah), Masjid Jami’ Cordoba (Qurthubah), dan selat atau bukit Gibraltar (Jabal Thariq), monumen alami yang mengabadikan nama harum sang ksatria penakluk, Thariq bin Ziyad.

Andalusia bukan “museum Islam”, seperti diduga orang kebanyakan. Kaum Muslim “sisa-sisa” pengusiran dan pembantaian di sana tetap konsisten memegang keislaman, walau harus ber-taqiyah. Fakta ini semakin terang kemudian dengan mencuatnya suara-suara kebangkitan Islam di Andalusia Modern.

Ahmad Mahmud Himayah, dalam “Al-Andalus Hal Ta’udu? (Akankah Andalusia Kembali?)”, menulis bahwa Andalusia Modern yang muncul sesudah diktator spanyol, Franko, terjungkal pada 1975 M, memperlihatkan tanda-tanda bangkitnya Islam di sana. Luas daerah otonomi Andalusia mencapai 87.268 km2 (17,28 % luas Spanyol) atau lebih besar dari Kerajaan Islam Granada di masa silam.

Lebih lanjut Ahmad Mahmud mengatakan, “Warga Andalusia menghidupkan kembali simbol perisai yang terdapat pada pintu gerbang kota Cordoba. Simbol tersebut dipakai pada era Abdurrahman an-Nashr al-Umawiy di menara Masjid Cordoba yang dikelilingi tembok kota dan empat batang pohon kurma. Tepat di atas pintu gerbang, terukir bait berbahasa Arab dengan kaligrafi model Kufi, yang artinya, Cordoba; Medan Tempur dan Perjuangan, Sumber Hikmah yang Murni dan Ilmu Pengetahuan.’

Rupa bendera rakyat Andalusia Modern bermotif tiga garis pita yang sama, dengan corak warna; hijau, putih, dan hijau. Hijau melambangkan Daulah Umawiyah di Andalusia yang benderanya berwarna hijau. Putih melukiskan negara kesatuan yang memerintah Andalusia, dan menyimbolkan persatuannya setelah berpecah belah.

Pastinya, upaya mengulang kembali golden age Islam di Andalusia mulai menerbitkan berkas sinarnya. Orang Persia bilang, “Islam zindahabad!” “Hidup Islam!”

1 komentar: