Sabtu, 14 November 2009

Kirgizstan

Kirgizstan,

Tebalnya Tembok Sekularisme

oleh: Hafizh Assami

 

Kondisi Geografis

Kirgizstan, seperti juga negara-negara Asia Tengah lainnya, adalah bekas wilayah kekuasaan Uni Soviet. Negara ini membentang memanjang dari barat ke timur dengan luas 198.500 km2. Di sebelah barat, Uzbekistan menjadi pembatas negara ini (1.099 km). Kemudian di sebelah timur, berbatasan dengan Xinjiang (sepanjang 858 km), atau negeri muslim Turkmenistan Timur, yang dikuasai oleh China. Sementara itu negara Kazakhstan membentang di sepanjang garis perbatasan utara dari timur ke barat sepanjang 1.051 km. Di selatan, Kirgizstan bertetangga dengan Tajikistan (870 km). Kirgizstan merupakan land-locked country, semua daerah perbatasan dengan negara tetangga adalah daratan. Maka praktis, negara ini tidak memiliki garis pantai. Hanya saja, negara ini memiliki danau Ysyk-Kul, yang masuk dalam daftar danau-danau besar dunia.

Rangkaian pegunungan Tian Shan menghiasi Kirgizstan yang beriklim daratan. Di kawasan ini, suhu udara bulan Januari di sebagian besar daerah lembah mencapai minus 6o C, sedangkan pada bulan Juli adalah 15 sampai 25 derajat Celsius.

Secara administratif, Kirgizstan terdiri dari 7 oblast (wilayah atau provinsi), yaitu; Provinsi Batken (ibukota: Batken), Provinsi Chui (Tokmok), Provinsi Jalal-Abad (Jalal-Abad), Provinsi Naryn (Naryn), Provinsi Osh (Osh), Provinsi Talas (Talas), Provinsi Yssyk-Kul (Karakol). Oblast kemudian dibagi lagi kepada raions (distrik), yang diperintah para pejabat yang dilantik oleh pemerintah pusat. Selain ketujuh oblast tersebut, ada dua kota (shaar) yang juga menjadi unsur penting bagi Kirgizstan, yaitu kota Bishkek sebagai ibukota negara dan Osh yang merupakan ibukota provinsi Osh.

Ibukota Bishkek, dulunya dibangun pada tahun 1878, tahun 1926 dirubah menjadi Frunze, kemudian tahun 1991 nama Bishkek dipakai kembali. Kota ini termasuk di deretan daftar kota-kota terkenal di Asia Tengah. Jumlah penduduk kota Bishkek tercatat 797.700 orang (data Januari 2003). Di bagian barat wilayah Kirgizstan, ada sebuah kawasan yang disebut Lembah Fergana. Tempat ini merupakan daerah paling padat di negara ini. Lembah Fergana menjadi lahan perebutan antara Uzbekistan, Tajikistan dan Kirgizstan yang sejak lama menjadi pemicu konflik tiga negara, Baik sebelum maupun setelah runtuhnya Uni Soviet. Pasalnya daerah ini merupakan daerah subur dan dahulu merupakan bagian penting dari rute jalur sutra (silk-road).

 

Komposisi Masyarakat dan Budaya

Rata-Rata kepadatan penduduk adalah 69 orang per mil2 (25 jiwa per km²). Di negara ini hidup beragam suku yang mencapai bilangan 80 etnis. Populasi penduduk yang paling besar yaitu bangsa Kirgizstan asli. Penduduk lainnya yaitu meliputi Rusia 9.0% yang berpusat di utara Kirgizstan dan Uzbekistan 14.5% yang tinggal di Selatan Kirgizstan. Selain itu penduduk lainnya yang sedikit jumlahnya atau minoritas yaitu meliputi Tatar 1.9%, Uighur 1.1%, Tajikistan 1.1%, Kazakhstan 0.7% dan Ukrainia 0.5%.

Persilangan antara kebudayaan barat-timur dan utara-selatan bertemu di Kirgizstan. Paling tidak, wilayah ini merupakan daerah konvergensi dari empat peradaban besar; Eropa, yang masuk melalui Rusia, Muslim-Arab, Persia dan China. Dengan demikian, corak budaya masyarakat Kirgizstan sangat beragam. Dan keragaman itu terikat dalam simpul Islam, yang dianut oleh tidak kurang dari 75% penduduknya. Awalnya, bahasa yang dipakai oleh penduduk Kirgizstan adalah bahasa Kirgiz. Namun, pada Desember 2001, presiden Kirgizstan mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa bahasa Rusia dijadikan sebagai bahasa resmi.

 

Ekonomi

Perekonomian Kirgizstan terutama ditopang oleh industri pertanian dan peternakan. Industri pembangkitan tenaga listrik dan industri peternakan juga berkembang relatif maju. Hasil-hasil industri sebagai bahan ekspor antara lain emas, merkuri, uranium dan listrik. Gandum, kentang, gula bit, kapas, wol, tembakau, buah, daging sapi dan daging domba merupakan produk pertanian yang utama. Selama ini, Kirgizstan merupakan salah satu negara paling progresif dari bekas Uni Soviet dalam melaksanakan reformasi pasar. Negara ini mencatat perkembangan perekonomian tercepat dibanding negara tetangganya.

 

Dakwah Islam

Sebagaimana kawasan Asia Tengah lainnya, Islam menemukan momen-momen kejayaannya pada abad 8 H. Dalam perkembangan selanjutnya, di tahun 1864, Kekaisaran Rusia menganeksasi wilayah ini. Selama berada di bawah kekuasaan Uni Soviet, tepatnya sejak tahun 1937, Kirgizstan bernama lengkap Republik Sosialis Soviet Kirgizia. Bersamaan dengan merdekanya negara-negara Asia Tengah dari Uni Soviet, Kirgizstan pun mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1991.

Kirgizstan adalah negara di Asia Tengah yang jarang sekali tersentuh oleh media seputar konflik atau isu-isu politiknya sehingga jarang sekali terdengar berita sampai ke pelosok dunia. Sejak tujuh tahun pasca-runtuhnya Uni Soviet, di antara negara muslim bekas Soviet yang paling ‘tenang’ adalah Kirgizstan. Tetapi kini pemerintah pimpinan presiden Kurmanbek Bakiyev itu mulai ketularan sindrom anti Islam yang semakin keras bertiup.

Rezim penguasa sekular Kirgizstan merasa ketakutan terutama ketika kejahatan mereka terungkap karena tidak menerapkan syariah Islam. Ketakutan penguasa itu membuat mereka bersikap represif dan menangkapi para pengemban dakwah Islam. Ketika banyak negara mulai melarang pemakaian jilbab, pemerintah Kirgizstan baru-baru ini mengeluarkan keputusan yang melarang siswi sekolah negeri untuk mengenakan jilbab. Keputusan ini langsung mendapatkan penentangan dari kaum muslim dan para pembela hak-hak sipil.

"Kami adalah negara sekuler. Ketika pilihan antara pendidikan dan jilbab, kami memilih pendidikan," ujar seorang pejabat senior Kementerian Pendidikan Kirgizstan. Masalah jilbab bukanlah hal baru di Kirgizstan. Setiap tahun, pada awal tahun ajaran sekolah, beberapa siswi muslimah diberhentikan dari sekolah negeri karena memakai jilbab. Para pejabat sekolah mendapat buku pedoman tentang penegakan aturan berpakaian di sekolah secara tegas. Ketika kaum muslimah menginginkan untuk mengenakan hijab, di beberapa negeri mereka harus berhadapan dengan pelarangan atau pengusiran. Namun di tempat lain, seperti Indonesia misalnya, ketika kebebasan dirasakan, justeru sebagian kaum muslimah mengikuti tren berpakaian ala Barat yang memperlihatkan aurat dan merendahkan martabat mereka.

Di samping pelarangan jilbab, Presiden Kurmanbek Bakiyev juga menandatangani undang-undang yang melarang pendidikan agama secara pribadi dan impor atau penyebaran buku-buku agama. Undang-undang itu juga mengharuskan semua penganut agama untuk mendaftarkan diri kepada negara. Tentu saja hal ini mengundang perlawanan sekaligus menampakkan ketidakmampuan pemerintah dalam menghadapi kritik dan penentangan rakyatnya melalui argumentasi ilmiah.

Tak jarang pula pemerintah memilih pola-pola tindakan represif untuk menghadapi kritik dan penentangan warga muslimnya yang menuntut keadilan. Di antara daerah yang paling keras penentangannya terhadap pemerintah sekular setempat adalah penduduk Lembah Fergana. Penduduk Fergana dikenal paling religius dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya di Asia Tengah. Umat Islam Fergana digambarkan sebagai “orang-orang Islam yang taat bukan main”. Tidak ada kemaksiatan dan mereka tidak segan-segan melaksanakan shalat di pinggir jalan jika waktunya telah tiba. Selepas dari cengkraman Uni Soviet, penduduk Fergana sempat memproklamasikan berdirinya “Negara Islam Fergana”, namun tidak dapat bertahan lama karena dibagi-baginya daerah ini.

Kuatnya pengaruh Islam dan ketaatan penduduk pada ajaran agamanya, menjadikan Lembah Fergana disebut-sebut sebagai salah satu basis pergerakan Islam di Asia Tengah. Identitas keislaman penduduk Fergana tidak lepas dari jejak sejarah Islam, khususnya saat wilayah ini dikuasai Imperium Kokand, imperium Islam kuno, di samping Imperium Khiva dan Imperium Bukhara. Tidak heran jika Fergana menjadi basis pergerakan Islam yang memiliki cita-cita mengembalikan kejayaan Islam di sana. Kaum pergerakan Islam di sini berusaha melawan rezim-rezim sekuler Asia Tengah yang baru merdeka, seperti di Tajikistan, Kirgizstan, dan Uzbekistan yang hendak memadamkan cahaya Islam di bumi mereka.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar