Sabtu, 14 November 2009

KUTTAB

KUTTAB

oleh: Hafizh Assami

Sejak awal mula kehadirannya, Islam menaruh perhatian besar dalam persoalan pendidikan. Terbukti, Rasulullah Saw bekerja keras mengupayakan proses transmisi ilmu kepada para shahabat melalui beberapa forum pertemuan tertutup di Makkah. Dari forum pertemuan itu, kemudian muncul produk-produknya seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Said bin Zaid, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, serta beberapa shahabat yang memeluk Islam di awal-awal dakwah Rasul. Mereka inilah kader-kader awal penopang perjuangan Islam.

Transfer ilmu menjadi kebutuhan krusial menuju terciptanya peradaban Islam. Untuk melahirkan generasi penerus yang berkualifikasi ilmiah dan skill tinggi, generasi awal-awal Islam melakukan aktivitas pembelajaran bagi anak-anak mereka di tempat yang kemudian dikenal sebagai kuttab. Di institusi inilah proses pewarisan ilmu-ilmu Islam terjadi.

Adanya istilah kuttab dalam literatur Islam awal menunjukkan bahwa institusi ini telah ada sejak abad pertama Islam. Bahkan, bangsa Arab pra-Islam pun telah mengenalnya. Pendidikan di kuttab pada awalnya lebih terfokus pada materi kaligrafi, baca tulis sastra, gramatika bahasa Arab, syair Arab dan pembelajaran berhitung. Namun, setelah datang Islam materinya ditambah dengan materi baca-tulis al-Quran dan memahami hukum-hukum Islam. Siswa-siswanya berasal dari berbagai lapisan sosial ekonomi, baik anak-anak dari orang yang merdeka maupun budak. Diriwayatkan bahwa Ummu Sulaim, ibunda ahli hadits Anas bin Malik (w. 93 H) pernah meminta guru di sekolah ini (mu’allim kuttab) untuk mengirimkan beberapa anak lelaki guna membantunya membuat wol, tetapi bukan yang berasal dari kalangan merdeka.

 

Pendidikan Dasar Spektakuler

Kuttab atau disebut juga maktab, secara harfiah berasal dari kata kerja dasar ka-ta-ba yang artinya menulis. Sedangkan Kuttab atau maktab secara istilah berarti tempat untuk menulis atau tempat di mana dilangsungkan kegiatan tulis-menulis. Kebanyakan para ahli sejarah pendidikan Islam sepakat bahwa keduanya merupakan istilah yang sama dalam arti lembaga pendidikan Islam tingkat dasar yang mengajarkan membaca dan menulis, kemudian meningkat kepada pengajaran al-Quran dan pengetahuan agama tingkat dasar. Namun, ada pula yang membedakannya dengan menyebut maktab sebagai istilah untuk zaman klasik, sedangkan kuttab adalah istilah untuk zaman modern.

Para sahabat Nabi Saw, yang pandai baca tulis memanfaatkan lembaga kuttab itu untuk keperluan mengajarkan keterampilan menulis dan membaca ayat-ayat al-Qur'an kepada anak-anak. Dalam kisah diceritakan bahwa Rasulullah Saw memerintahkan Al-Hakam bin Said untuk mengajarkan al-Quran dan baca-tulis pada sebuah kuttab di Madinah. Ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan jenis kuttab ini telah menjadi perhatian Rasulullah untuk menunjang keberhasilan dakwahnya.

Pendidikan jenis kuttab ini pada mulanya diadakan di rumah-rumah guru. Setelah Nabi Saw dan para sahabat membangun masjid, barulah ada kuttab yang didirikan di samping masjid. Selain itu ada juga kuttab yang didirikan terpisah dari masjid. Masa belajar di kuttab tidak ditentukan, bergantung kepada keadaan murid. Anak didik yang cerdas dan rajin, akan lebih cepat menamatkan pelajarannya. Sebaliknya anak yang malas akan memakan waktu yang lama untuk menamatkan pelajarannya. Sistem pengajaran di kuttab ketika itu tidak berkelas. Para murid biasanya duduk bersila dan berkeliling menghadap guru.

Maktab atau kuttab memang merupakan lembaga sekolah tingkat dasar. Kendati demikian, catatan sejarah membuktikan bahwa berbagai materi yang diajarkan di lembaga ini lebih tinggi tingkatannya daripada yang diajarkan di sekolah dasar yang dikenal saat ini. Di samping sebagai sekolah dasar dan menengah, lembaga ini berfungsi juga sebagai perguruan tinggi, tempat para alumninya dapat melanjutkan pendidikan secara otodidak, mengabdi kepada seorang guru, atau hidup di tengah-tengah masyarakat, sambil mengumpulkan bahan-bahan sejarah serta memperkaya perbendaharaan pengetahuan mereka dengan syair dan prosa Arab klasik.

 

Menjangkau Setiap Negeri

Sampai pada abad ke-2 H, lembaga kuttab ini semakin banyak didirikan oleh kaum Muslimin atas prakarsa mereka sendiri, dalam arti lepas dari campur tangan pemerintah. Di masa ini pula kuttab tersebar merata di setiap negeri, sehingga karakteristik kuttab sebagai lembaga pendidikan yang terbuka sangat menonjol, dalam arti siapa saja bisa memanfaatkannya sebagai sarana untuk menimba ilmu pengetahuan Islam. Orang kaya dan miskin mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar di kuttab. Hal ini terjadi karena kuttab tidak dikomersialisasikan. Para pengajar pun pada umumnya tidak mencari penghidupan di kuttab, mereka mengajar tanpa bayaran. Memang ada di antara mereka yang menerima upah, tapi umumnya tidak seberapa memberatkan orang tua murid.

Pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan model kuttab mengalami kemajuan pesat karena didukung oleh semangat kaum Muslim dalam menyebarkan agama Islam. Sejarah mencatat bahwa tradisi tulis baca di kalangan kaum Muslim yang ditanamkan melalui kuttab ini telah berjasa dalam mentransfer berbagai ilmu pengetahuan sehingga generasi Islam berikutnya dapat mengenal ajaran-ajaran Islam secara lebih baik. Maktab dapat dijumpai di seluruh pelosok dunia muslim, termasuk Spanyol dan Sisilia di daratan Eropa. Seorang pengembara, Ibnu Hawqal (w. 367 H) mendapati 300 buah maktab di kota Palermo.

Demikianlah kepedulian generasi-generasi awal Islam terhadap dunia pendidikan. Mereka berusaha mempersiapkan generasi muda demi kejayaan masa depan dengan landasan ilmu. Kesemangatan mereka untuk mempersiapkan generasi baru dengan ilmu yang berlandaskan al-Quran, mesti direfleksikan oleh kaum muslim hari ini. Seperti halnya yang dilakukan musuh Islam, kaum Yahudi, yang terus-menerus menggembleng anak-anak mereka dari segala aspek pendidikan di dalam kibbutzim, sebagai upaya mencetak kader-kader Yahudi militan yang loyal kepada agama mereka.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar