Minggu, 21 November 2010

Urgensi Tiga Landasan Pokok dalam Islam



Urgensi Tiga Landasan Pokok dalam Islam

(Sebuah Pengantar)

Hafizh Assami


Ada tiga pertanyaan mendasar yang wajib diketahui oleh setiap manusia dalam kapasitasnya di dunia sebagai seorang mukallaf yang dibebani pelaksanaan ibadah oleh Allah. Baik laki-laki maupun perempuan, semua wajib mengerti dan memahaminya. Tiga pertanyaan mendasar itu ialah sebagai berikut.

·      Pertama, “Siapa Rabbmu?”

·      Kedua,  “Apa agamamu?”

·      Ketiga, “Siapa nabimu?”

Ketiga pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang akan diajukan kepada setiap manusia apabila kelak telah masuk ke alam kubur, setelah kematiannya. Kalau ia berhasil menjawab ketiga-tiganya dengan benar, ia akan masuk ke dalam golongan orang-orang yang selamat di akhirat. Sebaliknya, kalau ia gagal menjawabnya, ia akan dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang celaka dan didera siksa akhirat.

Namun demikian, bukan berarti kalau seorang manusia sudah latihan menghafal jawaban dari ketiga pertanyaan itu sampai benar-benar hafal di luar kepala, selagi masih hidup di dunia, lantas ia dapat dengan mudah lulus dari ujian malaikat penanya. Kalau seorang manusia menghendaki dirinya lulus dan selamat dari ujian itu, yang mesti dilakukannya ialah memahami jawaban dari ketiga pertanyaan itu, meyakini kosep-konsepnya dan mengamalkan segala hal yang menjadi konsekuensi dari keyakinannya itu.

Oleh karena itu, dapat kita pahami bahwa, sebagai seorang mukallaf, kita mendapat tugas besar untuk mempelajari dan memahami seluk-beluk dari ketiga landasan utama itu. Ringkasnya, kita wajib mempelajari dan mengetahui hal ihwal mengenai “Allah”, “Rasulullah” dan “Dienul Islam” secara mendetail. Yang ketiganya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas.

Dengan mempelajari dan mengamalkan konsekuensi ketiga persoalan mendasar ini, mudah-mudahan, kelak kita diberi kemudahan dan taufik oleh Allah untuk mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat kubur tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

Sebegitu pentingnya tiga persoalan ini, hingga setiap orang harus memberikan perhatian khusus. Sebab, ketiga persoalan ini merangkum segala hal yang menjadi unsur di dalam Islam, sistem kehidupan yang kita anut. Ini merupakan garansi bagi orang yang ingin merasakan manisnya buah iman. Rasulullah Saw bersabda,

ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَباًّ وَبِالإِسْلاَمِ دِيْناً وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً

“Orang yang telah ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagi Rasulnya, akan memperoleh lezatnya rasa iman.” (h.r. Muslim, 1/62, no. 34)

Di dalam Taisirul Wushul Syarhu Tsalatsatil Ushul, Syaikh Abdul Muhsin Al-Qasim mengutip ucapan seorang ulama bernama Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan, yang mengatakan,

الرِّضَا بِهذِهِ الأُصُوْلِ الثَّلاَثَةِ قُطْبُ رَحَى الدِّيْنِ وَعَلَيْهِ تَدُوْرُ حَقَائِقِ الْعِلْمِ وَالْيَقِيْنِ

“Sikap-hati ridha terhadap tiga unsur prinsipil ini merupakan poros penopang agama dan di situlah hakikat-hakikat ilmu dan keyakinan berada.”[1]

Secara global, bisa disebut di sini, kita akan mempelajari tiga poin pokok.

Pertama, Ma’rifatullah (mengenal Allah). Mengenal Allah bisa ditempuh dengan dua cara. Yaitu, memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di muka bumi. Seperti pergantian siang-malam, keanekaragaman flora dan fauna. Bahkan, di dalam tubuh kita sendiri terdapat tanda kekuasaan Allah yang sangat menakjubkan. Keajaiban-keajaiban yang ada di alam raya ini, disebut sebagai ayat-ayat kauniyah Allah.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Al-Baqarah: 164)

Cara berikutnya ialah dengan mentadaburi ayat-ayat qauliyah atau wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya. Allah berfirman,

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa`: 82)

Kedua, Ma’rifatud Din (mengenal agama Islam). Dinul Islam harus dimengerti oleh setiap mukallaf. Sebab, satu-satunya tatanan hidup (way of life) yang diakui Allah adalah Islam. Hidup akan selamat jika manusia mengikuti aturan Islam. Kalau tidak mau menerima, maka dia akan celaka, sengsara dunia dan akhirat.

“...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu...” (Al-Maidah: 3)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

Kita dituntut belajar tentang Islam karena tujuan agama Islam adalah menghambakan manusia kepada Rabbnya saja, membebaskan keterkungkungan dari sempitnya dunia, menuju luasnya dunia dan akhirat.

Ketiga, Ma’rifatun Nabiy (mengenal Nabi Muhammad Saw). Sebagai hamba Allah, kita wajib mengenal sosok Muhammad Saw, nabi yang diutus membawa rahmat bagi sekalian alam. Kita bisa lebih mendekat dan mengenal beliau melalui kajian terhadap buku-buku yang memuat sirah atau kisah perjalanan hidup beliau. Baik dalam kapasitas beliau sebagai seorang nabi, sebagai kepala keluarga, sebagai pendidik, pemimpin politik, presiden, jenderal perang dan segala peran yang beliau mainkan semasa hidup beliau. Segala sisi kehidupan beliau seyogianya diliput oleh umatnya. Sebab, itu semua mengandung pelajaran yang harus diketahui dan diikuti oleh umatnya.

Beliau adalah manusia mulia yang tiada padanannya di muka bumi ini. Sampai-sampai, seorang penulis Barat, Michael H. Hart, dalam bukunya The 100; A Ranking of the Most Influential Persons in History, menempatkan Rasulullah Saw di urutan pertama sebagai manusia yang paling berpengaruh di sepanjang sejarah hidup manusia. Mengagumkan!

Sosok Nabi Muhammad memang sangat mengagumkan. Beliau disegani tidak hanya oleh kawan, tapi lawan pun mengakui kemuliaan dan kewibawaan beliau. Inilah sosok manusia teladan yang harus kita kenal paling dekat dan paling kita cinta melebihi orang-orang terdekat kita.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya.” (h.r. Al-Bukhari, Kitabul Iman, Bab Mencintai Rasulullah Bagian dari Iman, hadits no. 14)

Lebih lanjut dan mendalam, insyaallah  akan kita kupas satu persatu pada kesempatan-kesempatan mendatang.


[1] Taisirul Wushul Syarhu Tsalatsatil Ushul, h. 52

Tidak ada komentar:

Posting Komentar